Senin, 17 Desember 2012

PTK SMP 133 PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA



PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 3 SERIRIT 

 ABSTRAK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk : 1). meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 khususnya kemampuan melaporkan berbagai peristiwa secara lisan, 2). mengidentifikasi peningkatan daya scrap siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 pada aspek keterampilan berbicara khususnya melaporkan berbagai peristiwa secara lisan, dan 3). mengidentifikasi bagaimana langkah - langkah yang efektif dilakukan oleh peneliti/guru dalam menggunakan media gambar agar hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt pada aspek berbicara khususnya melaporkan berbagai peristiwa secara lisan dapat ditingkatkan.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, pada siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 30 orang sebagai subjek penelitian.
Pengumpulan datanya menggunakan teknik tes unjuk kerja yang telah dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk pengumpulan data utama, dan teknik observasi untuk pengumpulan data pelengkap.
Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis deskriptif komparatif untuk data utama yaitu dengan cara membandingkan nilai tes hasil belajar siswa dengan KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IX SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 yaitu angka 66 sebagai indikator kinerja, kemudian membandingkan nilai tes hasil belajar antarsiklus.
Dari penganalisisan data diperoleh hasil bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan kemampuan siswa berbicara khususnya kemampuan melaporkan berbagai peristiwa secara lisan. Daya scrap siswa meningkat sebesar 22,08 % setelah diberikan perlakuan/tindakan.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disarankan agar guru bahasa Indonesia mencobakan hasil penelitian ini sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek berbicara serta melakukan pemilihan/penetapan topik gambar secara hati-hati agar efektivitas gambar sebagai media pembelajaran terpenuhi.

Kata Kunci :       Media gambar, hasil belajar, kemampuan berbicara khususnya melaporkan berbagai peristiwa secara lisan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
              Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena tu, pembelajaran bahasa Indonesia hendaknya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, secara lisan maupun tertulis.
              Hal tersebut di atas, sejalan dengan salah satu tujuan umum mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial (BSNP, 2006: 3).
              Berorientasi pada hal tersebut di atas, maka dalam proses pembelajaran peserta didik hendaknya diberi kesempatan berlatih menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi dengan frekuensi yang memadai, lebih dari sekadar pengetahuan tentang bahasa.
              Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut merupakan aspek yang terintegrasi dalam pembelajaran walaupun pada penyajiannya dalam silabus keempatnya masih dapat dipisahkan.
              Dari keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut di atas, keterampilan berbicara merupakan keterampilan "aktif produktif', yaitu berkenaan dengan kegiatan menggunakan bahasa. Artinya, pada keterampilan ini diupayakan agar siswa mampu memproduksi unsur-unsur bahasa yang digunakan sebagai sarana dalam tutur agar dapat menyampaikan gagasannya secara runtut dan dapat dipahami orang lain.
              Keterampilan berbicara sama halnya dengan ketiga aspek keterampilan berbahasa yang lain tidaklah datang secara otomatis inelainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Keterampilan berbahasa termasuk berbicara tidak bisa diperoleh secara almiah atau hanya melalui pelajaran teori melainkan harus dipelajari dan dilatihkan secara kontinyu. Sebagaimana pendapat dari Purwo, Bambang Kaswanti yang menyatakan bahwa mengajarkan keterampilan berbahasa melalui uraian atau penjelasan saja belumlah mencukupi. Keterampilan berbahasa hanya dapat diraih dengan melakukan kegiatan berbahasa terus-menerus. Siswa perlu dibawa ke pengalaman melakukan kegiatan berbahasa dalam konteks yang sesungguhnya (1997: 20-21).
              Pendapat di atas sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dryden, Gordon dan Dr. Jeanette Vos dalam bukunya Revolusi Cara Belajar bagian I dan II yang menyatakan bahwa belajar paling baik dengan mempraktikkannya. Pendidikan tidak akan efektif jika memisahkan teori dari praktik. Jadi, dalam belajar berbicara haruslah dengan melakukan kegiatan berbicara di depan umum (2003: 163 dan 325).
              Sesuai dengan pendapat para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa agar siswa terampil berbicara dan dapat menyampaikan buah pikirannya secara teratur serta dapat dipahami orang lain, harus ada upaya dengan sengaja dari pihak guru untuk membelajarkan siswanya berbicara. Siswa perlu dilatih, dibina, dan diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk memproduksi ujaran di depan umum dengan topik yang menarik minat dan dikuasainya. Aktivitas berbicara seperti bertanya, menyampaikan pesan, menyampaikan laporan, mengemukakan pendapat, menyanggah pendapat orang lain, berpidato, bercerita, dan lain-lain yang sejenis itu perlu dilatihkan. Latihan berbicara dengan frekuensi tinggi akan menggiring siswa agar memiliki keberanian dan lebih mudah serta lebih lancar da lam mengemukakan gagasannya secara lisan di depan orang banyak. Lebih-lebih disadari bahwa kemampuan berbicara ini bukan hanya diperlukan selama mereka masih menuntut ilmu yaitu sebagai bagian dari unjuk kerja dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dan juga dalam meningkatkan penguasaannya pada mata pelajaran yang lain, tetapi berkontribusi juga bagi siswa nantinya dalam menjalani kehidupannya di masyarakat sebagai manusia dewasa.
              Disadari demikian pentingnya keterampilan berbicara ini untuk dimiliki, keberadaannya dalam kurikulum pun bersifat wajib. Pembelajarannya telah dilakukan sejak lama, dari kurikulum satu ke kurikulum yang lain walaupun dengan pendekatan yang berbeda-beda. Sejak berlakunya kurikulum 1994 sampai dengan kurikulum 2004 (KBK) dan kurikulum 2006 (KTSP), keterampilan berbicara diajarkan dengan pendekatan komunikatif dan terintegrasi dengan aspek keterampilan berbahasa yang lain.
              Walaupun keterampilan berbicara sudah diajarkan sejak lama, hasil pembelajaran yang diharapkan rupanya belum dapat dicapai. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa unjuk kerja siswa dalam berbicara belum begitu menggembirakan. Pada Standar Kompetensi berbicara khususnya Kompetensi Dasar melaporkan secara lisan berbagai peristiwa, nilai siswa masih tergolong rendah. Siswa kurang berani berbicara secara formal di depan umum. Pelajaran berbicara oleh sebagian besar siswa masih dianggap beban atau sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Indikatornya adalah ketika diberikan tugas untuk berbicara di depan kelas, siswa kelihatan berpikir keras, cenderung sulit mengawali suatu laporan sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk berpikir sebelum mulai berbicara, bahkan tidak sedikit yang berusaha mengelak dari tugas dengan mengatakan belum siap. Jika pun bersedia, hasilnya masih jauh dari harapan. Penyampaian laporan kurang sistematis, kurang runtut, meloncat-loncat, substansi laporan siswa dangkal, kurang detil, terkesan miskin gagasan atau miskin imajinasi, sulit mengembangkan ide-ide yang akan disampaikan dalam laporan, intonasi kalimat monoton, serta gesture dan mimik (ekspresi) sama sekali belum ada.
              Kondisi tersebut di atas didukung pula oleh hasil tes awal yang dilakukan peneliti/guru terhadap kemampuan siswa berbicara khususnya melaporkan peristiwa secara lisan di kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 yaitu dari 30 orang (100 %) siswa yang dites, hanya 6 orang (20 %) yang tuntas, selebihnya lagi 24 orang (80 %) belum tuntas (data disajikan pada tabel nomor 03 halaman 51).
              Diprediksi kondisi tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang kurang tepat. Proses pembelajaran yang dilakukan guru masih konvensional. Yang dimaksud dengan pembelajaran konvensional adalah pembelajaran masih terpusat pada guru dan belum terpusat pada siswa. Guru lebih mendominasi proses pembelajaran melalui pemanfaatan teknik ceramah dan penugasan. Selama ini guru membelajarkan siswanya dengan terlebih dahulu menjelaskan bagaimana cara melaporkan suatu peristiwa secara lisan, selanjutnya menugasi siwa melaporkan peristiwa tertentu - saat itu dibuat kesepakatan bahwa topik laporan dipilih upacara bendera pada hari Senin - secara lisan di depan kelas tanpa modifikasi apa pun serta tanpa usaha yang memadai dari guru untuk menggunakan strategi-strategi yang inovatif apalagi mengoptimalkan peranan media dalam pembelajaran guna menarik minat belajar siswanya. Jadi, guru kurang mengkondisikan kelas yang memungkinkan/memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan proses berpikirnya dan kurang melibatkan siswa agar lebih aktif selama proses pembelajaran. Akibatnya, minat, gairah, dan aktivitas siswa selama belajar kurang, proses belajar tampak monoton, dan hasil belajarnya pun rendah.
              Melihat kenyataan itu , diduga ada hubungan antara cara yang ditempuh guru dalam membelajarkan siswanya dengan perolehan hasil belajar siswa. Sehubungan dengan itu, dirumuskan langkah untuk menyiasati pembelajaran berbicara ini dengan cara-cara yang lebih variatif, inovatif, dan diyakini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara khususnya melaporkan peristiwa secara lisan.
              Penggunaan media - dalam kesempatan ini adalah media gambar - dilirik guru sebagai salah satu alternatif untuk menarik minat, perhatian, dan aktivitas belajar siswa sehingga proses pembelajaran menjadi berpusat pada siswa dan bukan pada guru. Reran siswa secara aktif baik fisik maupun intelektual selama proses pembelajaran, diharapkan akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran itu sendiri sekaligus kualitas hasil belajarnya. Sebagaimana pendapat dari Sudjana, Nana bahwa hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi salah satunya oleh kualitas pengajaran selain oleh faktor kemampuan siswa itu sendiri. Makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran makin tinggi pula hasil belajar siswa (2005: 40-41).
              Pemilihan media gambar dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa didasarkan atas beberapa pertimbangan. Sebagaimana dikatakan oleh Wright (1992) dalam Nurjaya, Gede dkk.,1997: 16 bahwa gambar dapat memainkan sejumlah peran dalam proses belajar-mengajar berbicara maupun menulis. Perannya adalah sebagai berikut.
1.    Gambar dapat memotivasi murid dan dapat menarik perhatian mereka.
2.    Gambar dapat memberikan konteks penggunaan bahasa dan membawa dunia nyata ke dalam kelas.
3.    Gambar dapat memberikan stimulus dan informasi untuk dijadikan acuan dalam bercakap-cakap, berdiskusi, atau bercerita.
4     Gambar dapat diceritakan sebagaimana adanya, diinterpretasikan atau dikomentari secarasubjektif (Wright, 1992 dalam Nurjaya, Cede dkk. 1997:16-20).
5.    Melalui rangkaian gambarnya - gam bar berseri - dapat memberikan pengetahuan struktur wacana secara  implisit,  sedangkan  gambarnya sendiri akan  memberikan pengetahuan topik kepada siswa ( Nurjaya, Cede dkk., 1997:16).
              Menurut pendapat dari Taufik Ismail visualisasi atau gambar berfungsi untuk menggugah imajinasi (Ismail, Taufik 2003).
              Hastuti (1996:45) berpendapat bahwa gambar sebagai media pendidikan memiliki beberapa kelebihan antara lain: 1). dapat mengkonkretkan bahan, 2). mudah diperoleh, 3). relatif murah, 4). mudah dipakai karena tidak membutuhkan peralatan, 5). dapat dipakai pada semua tingkat kelas dan mata pelajaran, dan 6). dapat menimbulkan daya tarik pada siswa.
Sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut di atas adalah pendapat yang dikemukakan oleh Sadiman, Arief S, dkk. yang mengatakan bahwa media gambar/foto memiliki beberapa kelebihan seperti disebutkan di bawah ini.
1).   Sifatnya  konkret.  Gambar /foto  lebih  reaiistis menunjukkan  pokok masalah dibandingkan dengan media verbal.
2).   Dapat mengatasi batas ruang dan waktu.
3).   Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
4).   Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
5).   Harganya murah, gampang didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus (Sadiman, Arief S., dkk., 2006: 29-31).
              Berdasarkan alasan-alasan itulah, penggunaan media gambar sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia pada aspek keterampilan berbicara khususnya kemampuan melaporkan secara lisan berbagai peristiwa merupakan tindakan yang dikaji dalam penelitian ini. Bagaimana pengaruh penggunaan media ini terhadap peningkatan daya scrap siswa dalam melaporkan secara lisan berbagai peristiwa serta bagaimana langkah-langkah yang efektif dilakukan peneliti/guru ketika menggunakan media gambar ini, akan dijawab pada penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah
      Dengan memperhatikan latar belakang tersebut di atas dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1)    Apakah penggunaan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 pada aspek keterampilan berbicara khususnya kemampuan melaporkan secara lisan berbagai peristiwa?
2)    Bagaimanakah peningkatan daya scrap siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 pada aspek keterampilan berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa, setelah proses pembelajaran diiaksanakan dengan menggunakan media gambar ?
3)    Bagaimana langkah-langkah yang efektif dilakukan oleh peneliti/guru dalam menggunakan media gambar selama proses pembelajaran agar hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 pada aspek keterampilan berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dapat ditingkatkan?

1.3 Tujuan Penelitian
              Arab dan tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru sudah jelas, yaitu demi kepentingan peserta didik dalam memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Jadi, bukan kepentingan guru. Artinya, tindakan yang dilakukan didasarkan atas upaya meningkatkan hasil, yaitu lebih baik dari sebelumnya (Suharsimi Arikunto dkk., 2006: 2). Dengan demikian, dapat dirumuskan tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.    Tujuan Umum: untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia.
2.    Tujuan Khusus:
       a)    Untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 dalam berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa.
       b)    Untuk mengidentifikasi peningkatan daya scrap siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 dalam berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa.
       c)    Untuk mengidentifikasi bagaimana langkah-langkah yang efektif dilakukan oleh peneliti atau guru dalam menggunakan media gambar selama proses pembelajaran agar hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Seririt tahun pelajaran 2009/2010 pada aspek keterampilan berbicara khususnya kemampuan melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dapat ditingkatkan.

1.4 Manfaat Penelitian
              Hasil penelitian ini nantinya diharapkan bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis..
1.4.1      Manfaat Secara Teoretis
              Secara teoretis hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru-guru bahasa Indonesia khususnya pada jenjang SMP untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana langkah-langkah yang efektif dalam menggunakan media gambar agar kemampuan siswa dalam berbicara khususnya melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dapat ditingkatkan.
1.4.2      Manfaat Secara Praktis
              Secara praktis hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa maupun guru.
a).   Bermanfaat bagi siswa karena hasil penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia mereka pada aspek keterampilan berbicara khususnya melaporkan secar lisan berbagai peristiwa.
b).   Bermanfaat bagi guru-guru bahasa Indonesia di SMP, karena dapat memberikan strategi alternatif agar kualitas proses dan produk pembelajaran berbicara pada kelas yang dikelolanya dapat ditingkatkan . Dengan kata lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam meningkatkan layanan profesinya di lapangan.

1.5 Pemecahan Masalah
              Masalah yang telah dikemukakan pada subbab 1. 2 Rumusan Masalah, dipecahkan melalui Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan dalam dua siklus di mana setiap siklusnya terdiri atas empat tahapan seperti disebutkan di bawah ini.
1.    Perencanaan
2.    Pelaksanaan Tindakan
3.    Pemantauaan dan Evaluasi
4.    Analisis, Refleksi, dan Revisi
DAFTAR PUSTAKA

BSNP. 2006. SKdan KD Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs. Jakarta: BSNP.
’BSNP. 2007. Model Penilaian Kelas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: CV Timur Putra Mandiri.
Dryden, Gordon dan Dr. Jeannette Vos. 2003. Revolusi Cora Belajar. The Learning Revolution. Bagian I. Belajar Akan Efektif kalau Anda dalam Keadaan Fun. Bandung: Kaiffa.
........ 2003. Revolusi Cora Belajar. The Learning Revolution. Bagian II. Bandung: Kaiffa.
Depdiknas. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia Buku I. Jakarta: Depdiknas.
........ Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia Buku2. Jakarta: Depdiknas.
........ Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2005. Materi Pelatihan Terintegras Bahasa dan Sastra Indonesa Buku 3. Jakarta: Depdiknas.
Finoza, Lamudin. 1993. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Hamalik, Oemar. 1986. Media Pendidikan. Bandung: Alumni.
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D - III.
Ismail, Taufiq. 2003. Mengarang Itu Senang. Bimbingan Pelajaran Mengarang untuk SLTP. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Keraf, Gorys. 1995. Eksposisi. Jakarta: PT Gramedia.
Mahaputri, Ni Luh Putu. 2003. Implementasi Pendekatan Struktural Tipe Numbered-Head- Together dalam Pembelajaran Kalor sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II F SLTP Negeri Sukasada Tahun Ajaran 2003/2004. Sfcr/ps/(Tidak Diterbitkan). Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Pendidikan MIPA IKIP Negeri Singaraja.
Marahimin, Immail. 2001. Menulis Secara Populer. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Mas'Ud, Lolu. 2005. Penerapan Pendekatan Komunikatif Integratif dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara 2, Suatu Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Mahasiswa Semester II Program Studi PBSID STKIP Hamzanwadi di Selon. Tests (Tidak Diterbitkan). Fakultas Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.
Nurjaya, I Gede dkk. 1997. Penggunaan Gambar Berseri untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran Keterampilan Menulis di Kelas IV SD Laboratorium STKIP Singaraja. Laporan Penelitian (Tidak Diterbitkan). Sekolah Tinggi Keguruan dan Hmu Pendidikan Singaraja.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. Pokok-pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum 1994 : Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembukuan Depdikbud.
Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis Pandai Berbicara: Panduan Ringkas Menulis Artikel dan Teknik Berpidato di Depan Umum. Bandung: Nuansa Cendekia.
Sadiman, Arief S dkk. 2006. Media Pendidikan. Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suastana,   I Made (Widyaiswara). 2007. Bagaimana Pengelolaan Pembelajaran Kontekstual? Makalah. Disajikan dalam rangka workshop Peningkatan Mutu Hasil Ujian Nasional Tingkat SMP di Hotel Batukaru. Denpasar: Depdiknas Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Provinsi Bali.
Sudiatmika,   I Wayan. 2004. Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Model Pembelajaran Langsung dalam Pembelajaran Kalor sebagai Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas IIA SMP Negeri 3 Singaraja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Pendidikan MIPA IKIP Negeri Singaraja.
Sudjana, Nana. 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Untuk mendapatkan file lengkap (Ms.Word/pdf) 
hubungi : 0857 2891 6006

0 komentar:

Poskan Komentar