Minggu, 13 Oktober 2013

PTK SD 013 : Penggunan Metode Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Penjumlahan Pecahan Kelas V Di SDN 01 XXX

Penggunan Metode Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Penjumlahan Pecahan Kelas V Di SDN 01 XXX 

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Tujuan pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD) sebagaimana yang diamanatkan dalam kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994: 9.6) adalah “agar siswa dapat menggunakan Matematika dan pola pikir Matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif. Sehingga pengetahuan, pola pikir, sikap dan keterampilan yang diperoleh dari hasil belajar Matematika diharapkan mampu membantu siswa dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan yang dihadapinya.
Dalam dunia pendidikan, Matematika dijadikan sebagai salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jam pelajaran Matematika di sekolah dalam pelaksanaan pendidikan, pelajaran Matematika diberikan pada semua jenjang pendidikan dari pendidikan dasar sampal pada tingkat perguruan tinggi.

 
Sebagai perwujudan pencapaian tujuan pembelajaran Matematika, belajar merupakan proses aktif yang memerlukan dorongan dan bimbingan dalam penguasaan hasil belajar siswa. Lerner (1988 : 12) menjelaskan “ada dua macam. hasil belajar yang harus dikuasai siswa, perhitungan matematis (matematics calculation) dan penalaran matematis (matematics reasoning)”. Berdasarkan hasil belajar semacam. itu maka Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa “kurikulum bidang studi Matematika mencakup tiga elemen (1) konsep, (2) keteramplian, dan (3) pemecahan masalah”. Untuk itulah diperlukan kemampuan penalaran dan keterampilan kinerja siswa yang dapat dikembangkan melalui latihan dan belajar Matematika. Oleh karena itu Matematika rnerupakan sarana yang sangat penting bagi manusia dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
Kenyataan di lapangan pada saat ini, meskipun Matematika merupakan pengetahuan dasar yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, namun pelajaran Matematika salah satu pelajaran yang paling tidak disenangi bagi siswa. Matematika bagi sebagian siswa dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan rumit, sehingga kemampuan siswa dalam pengetahuan dasar masih kurang. Oleh karena itu, ketidakmampuan sering menimbulkan kejenuhan dan kesulitan belajar terutama di dalam menganalisis secara sederhana untuk memecahkan masalah dalam bentuk soal cerita. Akibatiya prestasi belajar siswa cenderung lebih rendah dengan mata pelajaran lainnya.
Bertolak dari kenyataan di atas, maka dapat dikatakan salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar Matematika adalah adanya pemilihan metode pembelajaran yang kurang memberikan pernberdayaan dari potensi siswa dan karakteristik bidang studi itu sendiri, dalam kegiatan pembelajaran lebih terpusat pada guru sehingga pembelajaran kurang bermakna yang akhirnya tuiuan belajar belum optimal.
Salah satu bidang garapan pembelajaran Matematika yang memegang peranan penting ialah pengetahuan konsep yang menunjuk pada pemahaman dasar dan keterampilan menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh siswa. Suatu jenis keterampilan Matematika adalah proses menggunakan operasi dasar dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Keterampilan ini dapat dilihat dari kinerja siswa yang dapat berkembang dan ditingkatkan melalui latihan. Pemecahan masalah adalah aplikasi dari konsep dan keteramplian. Dalam pemecahan masalah biasanya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda.
Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi pendidikan Matematika di Sekolah Dasar, ternyata guru dalam keterampilan memilih metode belum dapat mengembangkan iklim pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk belajar. Hal ini dikarenakan metode pernbelajaran yang digunakan kurang tepat dan guru terbiasa dengan menggunakan strategi ekspositorik pembelajaran secara klasikal. Pada dasarnya siswa, mempunyai kemampuan dan cara belajar yang berbeda- Dalam pembelajaran klasikal guru memperlakukan siswa dengan cara yang sama, sehingga perbedaan kemampuan dan cara belajar siswa kurang mendapat perhatian dari guru. Pembelajaran secara klasikal memang perlu dilakukan dengan siswa dan menyadari bahwa tidak semua kebutuhannya dapat dipenuhi, namun harus dicari afternatif cara lain agar siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan cara yang dipilihnya.
Dalam proses belajar mengajar guru harus memilih strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu strategi itu harus mengetahui teknik-teknik penyajian yang disebut pembelajaran. Sudjana (2001:8) menjelaskan “pembelajaran hendaknya diupayakan oleh pendidik secara sistematik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar”. Metode menurut Modiono (1990: 580) adalah cara kerja yang konsisten untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Banyak metode yang dikenal misalnya : metode Ceramah, Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi, Demonstrasi, Bermain Peran, Eksperimen, Widya Wisata, Latihan, Simulasi, Kerja Kelompok dan simulasi. Guru profesional harus dapat memilih metode yang tepat untuk pembelajaran khususnya Matematika dengan ketepatan metode yang diterapkan oleh guru, diharapkan aktivitas guru dan siswa lebih aktif sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.
Salah satu metode pembelajaran Matematika yang dalam kegiatannya cenderung melakukan banyak latihan, maka metode Kerja Kelompok merupakan suatu metode yang dipandang tepat karena memungkinkan siswa dapat selalu belajar dan bekerja secara kelompok untuk menyelesaikan tugasnya dalam mencari pengalaman belajarnya.
Pembelajaran Matematika akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa kelas V dalam proses belajar, bila siswa dalam memahami berbagai konsep tentang keterampilan hitung dan cara memecahkan masalah dalam bentuk soal cerita melalui pembelajaran langsung dan terstruktur. Untuk itu menjadi tanggung Jawab guru untuk memilih penerapan metode Kerja Kelompok sebagai metode untuk pemecahan masatah agar memudahkan siswa dalam belajar Matematika dan pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Raka Joni dan Unen (1984: 11) menjelaskan “pesan terpenting dari metode Kerja Kelompok adalah pemecahan masalah melalui proses kelompok”. Johson dan Johson (1984: 10) menjelaskan “ada empat elemen dasar dalam pembelajaran koperatif yaitu (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan menjalin hubungan interpersonal”. Interaksi koperatif menuntut semua anggota dalam Kerja Kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog tidak hanya dengan guru tetapi dengan sesama mercka. Interaksi semacam itu diharapkan dapat memungkinkan siswa menjadi sumber belajar bagi semuanya. Di dalam pembelajaran dengan penerapan metode Kerja Kelompok, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disapkan guru, melainkan bisa juga berinteraksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama. Kegiatan Kerja Kelompok memungkinkan siswa terlibat aktif dalam belajar sehingga tanggung jawab siswa dalam belajar juga menjadi lebih besar. Bekerja di dalam kelompok memungkinkan siswa untuk membangun kebiasaan bekerja sama, tenggang rasa dan saling menghargai. Di samping itu sifat kepemimpinan dapat berkembang karena bekerja dalam kelompok memerlukan seorang pemimpin kelompok.
Metode pembelajaran yang diharapkan adalah pembelajaran yang terjadi adanya proses interaksi saling kerjasama, tukar informasi, pengalaman, mendapatkan pemecahan secara lisan dengan tujuan saling bertatap muka bersama-sama. Oleh karena itu, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Metode Kerja Kelompok Siswa Kelas V SDN 01 XXX  tahun 2008/2009”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian-uraian latar belakang masalah di atas maka dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut: Apakah metode Kerja Kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa Kelas V SDN 01 XXX  tahun 2008/2009”?

C.    Tujuan Penclitian
Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka tujuan perbaikan ini adalah untuk membuktikan bahwa penggunaan metode Kerja Kelompok dapat meningkatkan belajar Matematika Siswa Kelas V SDN 01 XXX  tahun 2008/2009.

D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi guru sebagai peneliti, institusi maupun pendidikan secara umum, sebagai berikut :
1.      Bagi peneliti : Meningkatkan kepekaan guru dalam melakukan tindakan kelas yang tepat dalam pembelajaran sehingga pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan.
2.      Institusi : Meningkatkan mutu sekolah karena dengan meningkatnva mutu guru dan nilai siswa berarti mutu sekolah secara otomatis terjadi peningkatan.
3.      Pendidikan secara umum :
a.       Meningkatkan mutu pendidikan

b.      Tercapainya tujuan pendidikan nasional.



DAFTAR PUSTAKA

Asmani Zainul, Agus Mulyana (2004). Tes dan Asesmen di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
Denny Setiawan (2004).Komputer dan Media Pembelajaran.Jakarta: Universitas Terbuka.
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta : Depdikbud
Mulyani Sumantri, Johar Permana (2001). Media Pengajaran. Bandung: CV. Maulana
Wardani I.G.A.K (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.
Andayani,dkk (2007). Pemantapan Kemampuan Profesional.Jakarta: Universitas Terbuka
Raka Joni dan Linen (1984). Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Depdikbud
Tim Pengembang PGSD (1998). Strategi Belajar Mengajar II.Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Pengembang Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Sudjana, D (2001).Metodologi dan Teknik Pembelajaran Partisipatif.Bandung : Falah Production.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 0857 2891 6006

Jumat, 30 Agustus 2013

PTK SMA 007: Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pemahaman Pokok Bahasan Integral Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas III IPA-1 SMU Negeri XXX Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004

Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pemahaman Pokok Bahasan Integral Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas III IPA-1 SMU Negeri XXX Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

            Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar harus diarahkan pada aktifitas pengajaran yang mampu mengembangkan segala potensi dan kreatifitas siswa. Tinggi rendahnya tingkat kreatifitas belajar siswa di sekolah banyak dipengaruhi oleh interaksi komponen-komponen pembelajaran.
            Pengajaran bukan hanya memindahkan pengetahuan ke generasi muda, atau hanya proses perubahan kebudayaan dan mengembangkan kepribadian. Pengajaran siswa yang baik melibatkan siswa secara aktif dan meniadakan pandangan bahwa siswa  sebagai makhluk pasif. Guru sebagai pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
            Pembenahan dalam pembelajaran perlu dilakukan, yaitu pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan media dan penanaman konsep yang benar. Pembaharuan bersifat memperbaiki dan menyempurnakan yang telah ada. Hasil yang diharapkan dengan adanya pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan metode dan penanaman konsep yang benar adalah tujuan pengajaran yang belum tercapai dapat diselesaikan dan dapat memperbaiki pemahaman konsep yang salah pada diri siswa.

            Pembenahan sistem pengajaran harus mampu membangkitkan minat para siswa untuk belajar lebih aktif. Pembaharuan pengajaran, penerapan metode yang tepat, penyediaan media pengajaran terutama harus dilakukan dalam pendidikan matematika, karena dalam pendidikan matematika secara umum masih banyak kendala dan masalah yang dihadapi, misalnya nilai anak untuk mata pelajaran matematika rendah, pelajaran matematika belum mempunyai makna sebagai bagian dalamkehidupans ehari-hari, pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru masih cenderung bersifat konfensional, minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika, minimnya daya inovatif, kreatifitas dalam pembelajaran matematika menjadikan mata pelajaran ini tidak disukai anak.
            Menurut Bloom yang dikutip oleh Djauzak Ahmad (1994 : 9), “Ketuntasan pembelajaran siswa dapat ditunjukkan dengan meningkatkan kemampuan intelektual yang terdiri dari: ingatan, pemahaman, penerapan analisis, sintetis, dan evaluasi”.
            Dari data di SMU NEGERI 1 MADIUN, ternyata prestasi pembelajaran matamatika siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), baik secara individual maupun secara klasikal. Hal ini disebabkan karena di dalam kegiatan belajar hanya mengandalkan teori dan kurang menyadari pentingnya pendekatan pembelajaran yakni metode pembelajaran.
            Metode pembelajaran dalam matematika ini banyak sekali yang tepat dan sesuai dengan tuntutan perkembangan pembelajaran matematika. Metode-metode pembelajaran matematika yakni metode demontrasi, metode pemecahan masalah, metode drill dan latihan, metode penemuan, metode tanya jawab, metode inkuiri dan sebagainya.

            Berdasarkan kajian latar belakang masalah tersebut di atas, maka ditemukan permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMU Negeri 1 Madiun   sebagai berikut:

1.      Prestasi matematika siswa SMU Negeri 1 Madiun masih tergolong rendah.
2.      Pelajaran matematika belum memiliki makna sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit.
4.      Pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru masih bersifat konvensional.
5.      Minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral.
6.      Minimnya guru dalam pembelajaran menggunakan media atau alat peraga.
            Agar kualitas pendidikan anak meningkat maka seorang guru harus tahu pentingnya metode pembelajaran. Ada tiga cara utama dalam belajar yaitu model visual, auditorial, dan kinestetik. Visual adalah belajar melalui indra penglihatan. Auditorial adalah belajar melalui indra pendengaran. Kinestetik adalah belajar melalui peraba dan penglihatan. Dari ketiga cara tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana dan tidak kalah pentingnya dengan metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi ini ketiga cara turut bisa menyatu sehingga belajar anak lebih maksimal. Dalam hal ini penulis mencoba menerapkan metode demonstrasi dalam pemahaman integral guna meningkatkan prestasi belajar matematika kelas III IPA-1 di SMU Negeri 1 Madiun.
            Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demontrasi aktivitas murid lebih banyak dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru akan lebih berkurang. Ciri metode demontrasi tampak dengan adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan dalil, atau menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, maka guru dan murid sama-sama berperan dalam proses pembelajaran.
            Pengajaran matematika akan menunjukkan hasil memuaskan, jika pengajaran mampu menyampaikan konsep dengan benar, mampu memilih pendekatan dalam mengajar dengan benar. Matematika tidak akan menjadi sulit jika sejak dini ditanamkan dan diawali dengan penyampaian konsep-konsep secara benar. Hal yang  perlu diperhatikan adalah penanaman konsep pada anak yang benar, pembelajaran yang menyenangkan, dihadapkan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya serta benda yang sesungguhnya.
            Berdasarkan uraian tersebut di atas maka judul dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS III SMU NEGERI 1 MADIUN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2003/2004”.

B.   Rumusan Masalah

            Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah dengan penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar matematika konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004?”

C.   Tujuan Penelitian

            Tujuan penelitian yang penulis harapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
“Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004 melalui metode demonstrasi”

D.   Manfaat Penelitian

            Hasil pelaksanaan penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika akan memberikan manfaat yang berarti, yaitu:
1.      Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika ini, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan metode demonstrasi. Dengan penelitian ini diharapkan guru dapat memberikan penanaman konsep yang benar.
2.      Bagi Siswa
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas        III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun dalam meningkatkan pemahamannya terhadap konsep penyelesaian integral. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3.      Bagi Sekolah

Setelah keberhasilan penelitian ini yakini penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.


DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2005. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Gramedia.
Arifin Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya
Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.
Gredler, Margaret E. Ball. 1991. Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali
Herman Hudojo, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.
Koko Martono, R. Eryanto, Firman Syah Noor, (2007). Matematika dan Kecakapan Hidup, Untuk SMA 12A. Bandung : Ganeca Exact.
Prasetyawan Irawan, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar. Jakarta: Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruktisional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rini Budiharti. 2001, Strategi Belajar Mengajar. Surakarta :  UNS Press.
Siti Choiriyah. 2006. Acuan Pengayaan Matematika. Solo : Sindhunata
UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia  



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 0857 2891 6006



Minggu, 25 Agustus 2013

PTK SMP 009: Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII F Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Kegiatan Kelompok Belajar Tutor Sebaya di SMP Negeri xxx

 Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII F Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Kegiatan Kelompok Belajar Tutor Sebaya di SMP Negeri xxx

ABSTRAK


            Penelitian ini bertolak dari rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Hal ini terjadi karena siswa yang tidak lulus pada ujian nasional serta siswa yang tidak naik kelas sebagian besar terganjal pada mata pelajaran tersebut, ibaratnya mata pelajaran matemayika menjadikan “momok” yang menakutkan bagi siswa. Dalam proses pembelajaran terkadang siswa kurang bersemangat, tidak mau menanyakan hal-hal yang kurang jelas, takut salah menjawab pertanyaan dari guru. Permasalahan tersebut diatasi dengan melaksanakan Kegiatan Kelompok Belajar Tutor Sebaya (KKBTS). KKBTS adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan bersama guna menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan belajar.
            Penelitian ini bertujuan (1) meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran matematika pada kelas VIII F SMP Negeri 22 Semarang. Hal ini dapat digambarkan adanya peningkatan nilai rapor serta hasil ujian yang baik dan (2) memberdayakan siswa sebagai tutor sebaya dalam kegiatan kelompok belajar, hal ini bertujuan untuk merubah sikap dan perilaku belajar siswa baik di rumah maupun di sekolah kearah yang lebih baik. Perubahan sikap tersebut misalnya motivasi belajar siswa meningkat, siswa berani mengajukan pertanyaan, serta siswa berani menjawab pertanyaan guru saat proses pembelajaran berlangsung.
            Penelitian ini dilakukan menggunakan disain penelitian tindakan kelas yang dirancang dengan dua siklus, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sumber data penelitian adalah siswa dan guru matematika, serta guru peneliti. Jenis datanya berupa kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, jurnal kegiatan siswa, tes hasil belajar. Analisis data kuantitatif menggunakan analisis ststistik deskriptif dan data kualitatif menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif.

            Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan hasil belajar mata pelajaran matematika kelas VIII F SMP Negeri 22 Semarang. Peningkatan padsa siklus I mencapai 3,42 atau 9% dan peningkatan pada siklus II mencapai 11,55 atau 30,40%. Peningkatan tersebut juga diikuti perubahan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran. Perubahan sikap tampak pada motivasi siswa, kemauan siswa mengajukan pertanyaan, serta keberanian siswa menjawab pertanyaan guru saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian dapat direkomendasikan agar KKBTS tidak hanya dilaksanakan pada mata pelajaran matematika, tetapi dapat digunakan pada mata pelajaran lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Anti, Erman dan Marjohan. 1992. Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Dirjen Dikti
Budiyati, L.M., Ida Zulaeha, Siti Ida A. Mahmudah dan Markini. 2004. “Peningkatan Kemampuan Berpikir Logis dalam Menulis Karya Tulis dengan Elemen Inquiry Pendekatan CTL pada Siswa Kelas III SLTP 3 Ungaran”.  Semarang : FBS Unnes
Hastuti, Sri., Mariyoto, Th. Indah Abrianisasi, Priti Uning Wiyati, Siti Aisyah dan Retno Ambarwati. 2006. Modul pelayanan Bimbingan dan Konseling, Semarang:  Sinar Jaya.
Hadikusumo, Kunaryo., Sadjad Sayuti, Achmad Rifai, Agus Salim dan Budiyono. 1995. Pengantar Pendidikan. Semarang : IKIP Semarang Press
Jaoharotun, Nur. 2002. “Keefektifan Layanan Bimbingan Belajar Dalam Maningkatkan Prestasi Belajar Pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I.2 SMU Negeri I Pangkah Tegal Tahun Pelajaran 2001/2003”. Semarang : FIP Unnes
Prayitno, M. Surya, Thantawy R., Mungin Eddy Wibowo, Karnoto, dan Afif Zamzani. 1997. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Padang: PT Ikrar Mandiriabadi
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling  Kelompok. Jakarta : Ghalia Indonesia
Prayitno dan Erman Anti. 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
Prayatno. 2003. “Upaya Meningkatkan Minat Belajar Mata Pelajaran Matematika Melalui Bimbingan Belajar Pada Siswa Kelas V SD Negeri Pareraja Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes tahun Pelajaran 2002/2004”. Semarang : FIP Unnes
Purwanto, M. Ngalim. 1991. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Undang-Undang RI Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 0857 2891 6006



Jumat, 09 Agustus 2013

PTK SD 002 : Penerapan Metode Demonstrasi Dan Latihan Untuk Meningkatkan Kelancaran Membaca Siswa Kelas II SD Negeri xxx Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009

Penerapan   Metode   Demonstrasi   Dan   Latihan   Untuk Meningkatkan Kelancaran Membaca Siswa Kelas II SD Negeri xxx Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Fungsi Pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
            Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangt penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
            Bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan bahasa di samping aspek penalaran dan hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk bahasa dan satra. Sifat materi pelajaran Bahasa Indonesia tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan eksperimental, terutama guru menggunakan metode  eksperiman, ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yng dapat dilihat, memberi kesempatan untuk bercerita, berdialog, membaca, menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.
            Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dipahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Jika perlu variatif metode pembelajaran dapat diterapkan secara bersamaan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pembelajaran. Untuk itu guru harus mempunyai kreatifitas dan inovasi baru dalam meningkatkan kemampuan dan teknik mengajarnya. 
            Demikian juga dengan penguasaan materi siswa Kelas II SD Negeri Mancasan 04 Baki Kabupaten Sukoharjo terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia masih kurang karena pada kondisi awal pada materi membaca, daya serap siswa terhadap mata materi ini hanya 35,5% atau 11 siswa tuntas dalam pembelajarannya sementara 20 siswa atau 64,5% tidak tuntas karena prestasi belajarnya di bawah KKM yaitu 75. Sementara itu nilai rata-rata kelas yang diperoleh hanya 58,84 yang dipandang masih sangat rendah.
            Adapun langkah yang diambil untuk memperbaiki prestasi belajar siswa yaitu dengan penelitian tindakan kelas. Pada langkah awal guru mencari masalah-masalah yang mengganggu dan menghambat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi dan hasil belajar siswa. Setelah permasalahan didapat maka dilakukan tindakan kelas dengan penggunaan metode demonstrasi dan latihan  untuk mengenal tokoh-tokoh cerita anak. Dengan metode ini diharapkan anak akan tertarik untuk berinteraksi dalam pembelajaran sehingga akan meningkatkan pemahaman anak terhadap materi yang diajarkan.
            Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dalam penelitian Tindakan Kelas ini penulis mengambil judul: “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DAN LATIHAN  UNTUK MENINGKATKAN KELANCARAN MEMBACA SISWA KELAS II SD NEGERI XXX SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2008/2009”.

B.     Identifikasi Masalah

            Proses belajar mengajar Kelas II SD Negeri Mancasan 04 Baki Kabupaten Sukoharjo terhadap pelajaran Bahasa Indonesia dalam materi membaca, hanya 11 siswa dari 20 siswa atau 35,5% yang mencapai ketuntasan dalam pembelajaran sedangkan 20 siswa atau 64,5% tidak tuntas. Sementara itu rata-rata kelas hanya 58,84.
            Berdasarkan hal tersebut, peneliti meminta bantuan teman sejawat selaku observer untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil diskusi dengan supervisor terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu :
1.      Siswa mempunyai anggapan bahwa Bahasa Indonesia dan merupakan mata pelajaran yang membosankan untuk dipelajari.
2.      Siswa tidak berani bertanya dan cenderung pasif
3.      Pengetahuan dan informasi yang diterima siswa masih sebatas produk hafalan
4.      Guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan.
5.      Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru
            Berangkat dari masalah-masalah yang sangat mengganggu dan menghambat siswa yang bersangkutan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia pada diri siswa dengan mencoba menggunakan metode demonstrasi dan latihan.

C.    Rumusan Masalah

            Atas dasar temuan permasalahan tersebut penulis dapat merumuskan masalah dalam pembelajaran yaitu:

Apakah dengan metode demonstrasi dan latihan dapat meningkatkan kelancaran membaca siswa Kelas II SD Negeri XXX Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009?

 

D.    Tujuan Perbaikan

            Dari latar belakang yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan:
“Untuk mengetahui penggunaan metode demonstrasi dan latihan terhadap peningkatan kelancaran membaca siswa Kelas II SD Negeri XXX Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009”.

E. Manfaat Perbaikan

            Hasil pelaksanaan penelitian penggunaan metode demonstrasi dan latihan  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II, khususnya pada materi membaca ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan/instansi di bawah  ini:
1.      Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas menggunakan metode demonstrasi dan latihan  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya ketrampilan membaca. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa sedikit demi sedikit dapat diatasi dengan penanaman materi yang benar. Guru juga mempunyai metode baru dalam menyajikan materi yang berhubungan dengan membaca.
2.      Bagi Siswa
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas II SD Negeri XXX dalam meningkatkan pemahamannya terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi Membaca. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya ketrampilan membaca.
3.      Bagi Sekolah
Setelah keberhasilan penelitian ini yaitu penerapan metode demonstrasi dan latihan  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.





 
DAFTAR PUSTAKA


Arifin Zaenal. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya
Choiriyah, Siti (2006). Acuan Pengayaan Bahasa Indonesia. Solo : Sindhunata
Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.
Gredler, Margaret E. Ball, (1991). Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali
Nur Fajariyah. Arif Rasyid, (2007). Cerdas Berhitung Bahasa Indonesia. Surakarta : Grahadi.
Suryadi, Didi. (1997). Alat Peraga dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Ditjen Dikdasmen D2 Karunika UT
UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Winkel. W.S (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia  



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 0857 2891 6006



Minggu, 30 Juni 2013

TK 005 : ANALISIS PENULUSURAN SUMBER VARIASI PADA PROSES PRODUKSI BENANG UNTUK PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN METODE SIX SIGMA.

 ANALISIS PENULUSURAN SUMBER VARIASI PADA PROSES PRODUKSI BENANG UNTUK PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN METODE SIX SIGMA.

ABSTRAKSI



Perbaikan dan pengendalian kualitas merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan perusahaan agar output produk yang dihasilkan memuaskan konsumen. Namun demikian untuk menjadi suatu produk jadi, suatu material akan melewati sebuah proses produksi dan ketika terjadi keluhan kualitas produk oleh kosnumen perlu dilakukan usaha identifikasi sumber variasi pada proses yang mengakibatkan cacat sehingga perbaikan dan pengendalian yang dilakukan bias sistematis dan fokus.
PT. Surakarta Sentosa Sejahtera adalah industry pemintalan benang yang memproduksi berbagai jenis benang dari kapas untuk bahan dasar kain. Salah satu jenis varians produknya yaitu TR 65/35 Ne1 45s mendapat keluhan kualitas dari kosnumennya.oleh karena itu pada peneltian ini akan dilakukan penelurusan sumber variasi pada proses dengan memperhatikan prioritas karakterstik kualitas benang berdasarkan persepsi konsumen. Perbaikan dilakukan dengan pendekatan Six Sigma yaitu Defini (pendefinisia), Measure (pengukuran), Analyze (analisis), improve (perbaikan) dan control (pengendalian).
Hasil pengolahan data memberikan informasi adanya tujuh karakterstik kritis (Critical to Quality, CTQ) benang, dengan urutan dari yang paling kritis yaitu : ketidakrataan benang, kekuatan benang, thin (benang tipis), nomor benang, thick (benang tebal), twist (puntiran) dan nep (bintik benang). Untuk ketidakrataan benang proses tekritis terjadi di mesin ring spinning dengan nilai sigma 4,22. Selain itu, diketahui bahwa proses di ring spinning memiliki nilai Cpmdsebesar 0,8285 dan Cpmk sebesar 0,9045, sehingga dapat diartikan bahwa proses di mesin ini tidak memenuhi standar kapabilitas proses dan perlu segera mendapat prioritas untuk perbaikan dan pengendalian.

Kata kunci :   Karakterstik kritis, sumber varisi, metode Six Sigma, kemampuan proses.



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006



Selasa, 25 Juni 2013

PTK SMP 192 PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS VII F SMPN 2 ARUT SELATAN


ABSTRAK
Pembelajaran pada awal semester genap tahun 2009/2010 di kelas VII F SMPN 2 Arut Selatan lebih banyak dilakukan di dalam kelas, kurang bervariasi, dan kurang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Materi pelajaran disampaikan secara teoritik dan tidak berhubungan dengan kehidupan nyata. Proses pembelajaran tersebut menimbulkan kecenderungan siswa bersikap pasif. Dinamika dan interaksi dalam kelas juga belum optimal. Akibatnya, penguasaan kompetensi masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil ulangan harian KD 6.1, ketuntasan klasikal hanya 68,57%.
 Oleh sebab itu perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya memperbaiki proses pembelajaran agar menjadi lebih berkualitas sehingga penguasaan kompetensi siswa meningkat.
Penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengambilan data, dan refleksi. Observer mengambil data aktivitas siswa pada tiap siklus, sedangkan data hasil belajar diperoleh dari tes tertulis di akhir siklus.
Keaktifan siswa mengalami kenaikan yaitu pada siklus 1 prosentase siswa aktif sebesar 64,86% sedangkan siklus 2 sebesar 91,89%. Berdasarkan hasil refleksi diadakan perbaikan pada bentuk kegiatan dan sumber belajar. Hasil belajar juga mengalami kenaikan pada ketuntasan klasikal dan rata nilai. Siklus 1 ketuntasan belajar sebesar 70,27% dengan rata-rata nilai 69,73. Siklus 2 ketuntasan belajar 91,89% dengan rata-rata nilai 88,92.
Berdasarkan hasil tersebut, kualitas pembelajaran biologi di kelas VII-F SMPN 2 Arut Selatan mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan kontekstual pada  materi “Pengelolaan Lingkungan”. Aktivitas siswa dan penguasaan kompetensi siswa meningkat. Pendekatan kontekstual perlu diterapkan pada materi lain sesuai dengan karakteristik materi tersebut.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) membawa konsekuensi logis pada upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran IPA yang disesuaikan dengan karakteristik dan lingkungan sekitar sekolah. Proses belajar yang diharapkan melalui kurikulum ini bukan sekedar membahas materi dalam buku-buku panduan pelajaran atau menginformasikan pengetahuan kepada siswa, melainkan menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung kepada siswa untuk memahami gejala yang terjadi sehingga dalam pelaksanaannya dibutuhkan strategi pembelajaran yang tepat.
Pembelajaran pada awal semester genap tahun 2009/2010 di kelas VII F SMPN 2 Arut Selatan lebih banyak dilakukan di dalam kelas, kurang bervariasi, dan kurang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Materi pelajaran disampaikan secara teoritik dan tidak berhubungan dengan kehidupan nyata. Proses pembelajaran tersebut menimbulkan kecenderungan siswa bersikap pasif. Dinamika dan interaksi dalam kelas juga belum optimal. Akibatnya, penguasaan kompetensi masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil ulangan harian KD 6.1, ketuntasan klasikal hanya 68,57%.
 Oleh sebab itu perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya memperbaiki proses pembelajaran agar menjadi lebih berkualitas sehingga penguasaan kompetensi siswa meningkat.
Materi ”Pengelolaan Lingkungan” membahas konsep pencemaran dan kerusakan lingkungan kaitannya dengan aktifitas manusia. Mencermati karakteristik materi ini, maka strategi pembelajaran lebih tepat menggunakan kegiatan eksplorasi lingkungan karena akan lebih faktual dan nyata. Proses pembelajaran tersebut sejalan dengan pembelajaran berpendekatan kontekstual, yaitu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima, akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dengan tepat. Penerapan pendekatan kontekstual tersebut diharapkan menghasilkan pembelajaran berkualitas yaitu adanya aktivitas siswa yang optimal dan penguasaan kompetensi yang meningkat.

B.     Perumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kualitas pembelajaran biologi (materi “Pengelolaan Lingkungan”) di kelas VII-F SMPN 2 Arut Selatan melalui penerapan pendekatan kontekstual?
2.      Apakah dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?
3.      Apakah dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan  penguasaan kompetensi siswa?


C.    Tujuan Penelitian
1.      Meningkatan kualitas pembelajaran biologi (materi “Pengelolaan Lingkungan”) melalui penerapan pendekatan kontekstual di kelas VII-F SMPN 2 Arut Selatan.
2.      Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran biologi (materi “Pengelolaan Lingkungan”) melalui penerapan pendekatan kontekstual di kelas VIIF SMPN 2 Arut Selatan.
3.      Mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar/penguasaan kompetensi siswa pada pembelajaran biologi (materi “Pengelolaan Lingkungan”) melalui penerapan pendekatan kontekstual di kelas VIIF SMPN 2 Arut Selatan.

D.    Manfaat Penelitian
1.       Bagi siswa:
a.       Membangkitkan minat belajar dan mengoptimalkan aktivitas siswa sehingga penguasaan kompetensi meningkat.
b.      Memberikan pengalaman belajar yang nyata dan faktual.
c.       Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian dan pengelolaan lingkungan untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
2.       Bagi guru (peneliti):
Mendorong agar tidak ragu mencoba variasi pembelajaran dan lebih kreatif merancang strategi pembelajaran.
3.       Bagi sekolah:
Memberikan sumbangan dalam perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan potensi belajar siswa yang akhirnya berpengaruh pada mutu
sekolah.

E.     Definisi Operasional
1.      Pendekatan Kontekstual adalah filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. Pendekatan ini bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat (Bandono, 2008).
2.      Kualitas Pembelajaran
Kualitas pembelajaran dalam penelitian ini ditinjau dari dua segi: proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berkualitas apabila ≥85% siswa mencapai kompetensi minimal.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006


PTK SMP 070 Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning

Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) di Kelas VII-A MTs Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut


ABSTRAK

Berdasarkan latar belakang bahwa peserta didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memiliki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Sehingga guru disamping memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara agar mudah dimengerti dan dapat meningkatkan prestasi. Salah satu metodenya adalah dengan Mastery Learning (belajar tuntas).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi guru menggunakan Mastery Learning dalam pembelajaran akidah akhlak di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut dan untuk mengetahui daya serap peserta didik dalam pembelajaran akidah akhlak dengan Mastery Learning.
Berpijak dari masalah yang ada, pembelajaran Mastery Learning dalam mata pelajaran akidah Akhlak harus disesuaikan dengan karakteristik penguasaan materi yang dipelajari. Menurut hasil pengamatan dan observasi di lapangan khususnya di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk  Garut, fenomena yang terjadi dewasa ini cenderung adanya penurunan prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, baik intern maupun ekstern. Salah satu yang menjadi faktor menurunnya siswa adalah metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar, sehingga hal ini membuat peneliti untuk mencoba menggunakan Mastery Learning untuk meningkatkan prestasi siswa.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menggunakan alat pengumpul datanya dengan observasi, wawancara dan tes. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
Berdasarkan hasil pengolahan data, ditemukan hasil prosentasi dari para siklus adalah sebagai berikut:
-          Pra-Siklus, nilai rata-rata hasil prestasi belajar siswa adalah 62,71%
-          Siklus I, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 75,57%
-          Siklus II, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 80%

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usaha menuju terwujudnya visi pendidikan nasional tersebut diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Dalam rangka ini pula diberlakukan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Departemen Agama, 2005: 3).
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran serta madrasah sangat diperlukan, karena di samping mengajarkan sejumlah bidang ilmu pengetahuan umum, juga sebagai ciri khasnya, diajarkan bidang agama Islam yang mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan agama.
Seperti dijelaskan oleh Ali (2004: 1), inti proses pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pengajaran adalah peserta didik belajar. Oleh karena itu mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga peristilahan kependidikan kita dikenal ungkapan Proses Belajar Mengajar (PBM) atau proses pembelajaran.
Menurut Sudjana (2005: 1) ada tiga veriabel utama yang saling berkaitan dengan strategi pembelajaran di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pembelajaran atau proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.
Peserta  didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran  sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Peserta  didik  tertentu mungkin lebih mudah belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005: 63).
Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata rantai yang sambung-menyambung.
Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.
Penguasaan kemampuan pelajaran Aqidah Akhlak diperlukan strategi yang tepat dan cocok. Salah satu strategi yang diterapkan di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak adalah mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31).
Proses pembelajaran  dengan menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning) menguntungkan bagi peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua peserta didik dapat belajar dengan hasil  yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan  bahwa guru dapat mengajar dengan baik.
Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas (mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi normal mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121).
Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi. Pertama, mengatakan bahwa adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial (bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol (1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal. Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara sistematis, maka semua peserta didik akan mampu  menguasai bahan yang disajikan kepadanya, (Mulyasa, 2004: 53-54).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di lapangan, diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi mastery learningdalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah sudah sejak lama dilakukan oleh guru-guru pengampu mata pelajaran Aqidah Akhlak. Hal ini dapat dilihat bahwa di satu sisi latar belakang pendidikan peserta didik beraneka ragam, sebagian ada yang berasal dari Sekolah Dasar plus Madrasah Diniyah, serta sebagian lagi berasal dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, menyebabkan peserta didik Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah masih memiliki perbedaan-perbedaan individual dalam memahami pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan strategi mastery learning. Sementara itu, guru yang mengampu bidang Aqidah Akhlak bukan berasal dari jurusan Aqidah Akhlak, tetapi didukung oleh faktor sarana dan prasarana yang memadai, proses pembelajaran berlangsung secara continuitas dan sesuai dengan perencanaan pembelajaran.
Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Meningkatkan Aktivitas Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah Garut).”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok masalah  dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana strategi guru menggunakan mastery learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
2.      Bagaimana daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery lerning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a.      Mendeskripsikan strategi guru dalam mastery learning di bidang pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
b.      Mendeskripsikan daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery learning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
a.      Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Aqidah Akhlak. Di samping itu siswa akan mendapatkan pembelajaran yang variatif serta berperan aktif, sehingga dimungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
b.      Bagi Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung bagi guru-guru yang terlibat untuk memperoleh pengalaman baru dalam menerapkan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, tidak monoton dan inovatif. Sehingga pada perkembangan selanjutnya guru akan lebih kreatif dan berusaha menghilangkan kejenuhan siswa melalui penerapan model pembelajaran tersebut.
c.      Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman pada guru-guru lain sehingga memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan pendekatan inovasi dalam pembelajaran.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006