Tampilkan postingan dengan label PTK TK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK TK. Tampilkan semua postingan
Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa TK dalam
Pembelajaran Kemampuan Berbahasa melalui Penerapan Media Gambar
ABSTRAK
Pembelajaran kemampuan
berbahasa di TK semestinya ditekankan pada suasana pembelajaran yang lebih
memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan, sementara itu yang
terjadi di TK tidak jarang aktivitas pembelajaran masih mengadopsi pola-pola
lama pembelajaran di sekolah-sekolah dasar. Siswa cenderung pasif. Untuk itu
perlu adanya perubahan ke arah pembelajaran yang memberikan kesempatan atau
peluang kepada siswa untuk lebih aktif, berminat dan menyenangkan. Cara
tersebut di tempuh dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media
gambar.
Penelitian ini bertujuan
menggambarkan pembelajaran membaca permulaan dengan media gambar secara
klasikal maupun secara kelompok dan dalam proses terjadi peningkatan kemampuan
membaca siswa. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan penelitian tindakan kelas,
peneliti dibantu guru kelompok B dan 23 siswa TK Negeri Pembina Kecamatan Sedati.
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode kualitatif, pengamatan /
observasi dan dibantu alat perekam berupa kamera dan handycam. Penelitian ini
dilakukan dengan dua siklus tindakan. Siklus pertama di titik beratkan pada
peningkatan partisipasi dan kemampuan membaca dalam permainan mencocokkan kartu
kata dengan gambar dan siklus kedua pada peningkatan membaca. Setiap siklus
terdiri atas tahapan : persiapan, tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi,
analisis dan refleksi.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa pembelajaran membaca permulaan dengan media gambar secara klasikal siswa
yang pemalu cenderung pasif sehingga ketika guru memberi tugas siswa untuk
mencocok kartu kata dengan gambar siswa tidak mau dan perhatian sebagian siswa
kurang terfokus dalam pembelajaran ini dan kemampuan membacanya masih
didominasi oleh siswa-siswa yang aktif. Dengan pembelajaran kemampuan membaca
dengan media gambar secara kelompok siswa diajak untuk melakuakn permainan
mencocokkan kartu kata dengan gambar dengan teman sendiri dan guru bertindak
sebagai fasilitator dan motivator. Kreativitas siswa, rasa malu siswa dapat
diatasi dan kemampuan membaca siswa meningkat serta suasana pembelajaran lebih
menarik dan menyenangkan.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra
sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990).
Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-Kanak adalah
mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku,
keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan
belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.
Pandangan ini
mengisyaratkan bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan lembaga pendidikan pra-sekolah
atau pra-akademik. Dengan demikian Taman Kanak-Kanak tidak mengemban tanggung
jawab utama dalam membina kemampuan akademik anak seperti kemampuan membaca dan
menulis. Substansi pembinaan kemampuan akademik atau skolastik ini harus
menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan Sekolah Dasar.
Alur pemikiran
tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan dalam praktik kependidikan
Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab
pengembangan kemempuan skolastik dari Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak
terjadi di mana-mana, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Banyak
Sekolah Dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes “membaca dan menulis”.
Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar seperti ini sering pula di anggap sebagai
lembaga pendidikan “berkualitas dan
bonafide”.
Peristiwa
praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak
maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan menulis dengan
mengadapsi pola-pola pembelajaran di Sekolah Dasar. Akibatnya, tidak jarang
Taman Kanak-Kanak tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip bermain sambil belajar
atau belajar seraya bermain, sehingga Taman Kanak-Kanak tidak lagi taman yang
indah, tempat bermain dan berteman banyak, tetapi beralih menjadi “Sekolah”
Taman Kanak-Kanak dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak.
Tanda-tandanya terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis
agar bisa memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar favorit.
Mengajarkan
membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak dapat dilaksanakan selama batas-batas
aturan pengembangan pra-sekolah serta mendasarkan diri pada prinsip dasar
hakiki dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sebagai sebuah taman bermain,
sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra-skolastik yang lebih
substansi yaitu bidang pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan
berbahasa atau membaca kognitif, fisik-motorik dan seni.
Mencermati
kondisi kegiatan pembelajaran membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak yang
berlangsung sebagaimana digambarkan di atas, perlu dilakukan penelitian yang
bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu yang direncanakan,
dilaksanakan dan dievaluasi. Dengan serangkaian tindakan itu diharapkan dapat mengubah
suasana pembelajaran ke arah pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa
terlibat secara aktif dan menyenangkan. Hal itu dapat dicapai dengan melalui
pembelajaran menggunakan media gambar. Media gambar adalah penyajian visual 2
dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi
unsur kehidupan sehari-hari tentang manusia benda-benda, binatang, peristiwa,
tempat dan sebagainya (Taufik Rachmat, 1994).
Gambar banyak
digunakan guru sebagai media dalam proses belajar mengajar, sebab mudah
diperoleh tidak mahal dan efektif, serta menambah gairah dalam motivasi belajar
siswa.
B. Rumusan Masalah
Agar penelitian tindakan
ini dapat lebih terarah, maka secara operational permasalahan penelitian ini
difokuskan pada media gambar dan guru dalam pelaksananaan proses belajar
mengajar, membaca di Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan
Sedati Kabupaten Sidoarjo. Secara rinci permasalahan penelitian ini dirumuskan
dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca dengan media
gambar di Taman Kanak-Kanak secara klasikal ?
2.
Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca di Taman
Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok ?
3.
Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam
membaca setelah mereka mengikuti pembelajaran membaca dan menulis dengan
menggunakan media gambar?
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara
umum bertujuan untuk menemukan terjadinya peningkatan kemampuan membaca dan
menulis dengan menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan
untuk :
1. Menggambarkan pembelajaran
membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara klasikal.
2. Menggambarkan pembelajaran
membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok.
3. Menemukan terjadinya
peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah menerapkan pembelajaran
dengan menggunakan media gambar.
D.
Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian yang
menjadi batasan materi dalam penelitian adalah kemampuan berbahasa dengan media
gambar di Taman Kanak-Kanak Kelompok B. penelitian ini dilaksanakan pada siswa
kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten
Sidoarjo.
E.
Definisi Operasional
Untuk mendapatkan
kesamaan arti pada penelitian ini dipertukarkan pendefinisian istilah :
1. Kemampuan berbahasa yang
diajarkan di Taman Kanak-Kanak kelompok B pada penelitian ini sesuai dengan
materi yang terdapat pada kurikulum Taman Kanak-Kanak 2004 yaitu kemampuan
membaca permulaan (pra membaca), sedangkan pelaksanaannya menggunakan
pendekatan temaik dan pembelajaran yang berorientasi pada prinsip bermain
sambil belajar atau belajar seraya bermain.
2. Yang dimaksud siswa mampu
membaca permulaan (pra membaca) adalah siswa dapat menghubungkan dan
menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya atau media gambarnya.
F.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini
diharapkan memberikan manfaat bagi :
1. Siswa Taman Kanak-Kanak,
agar mereka terbiasa dalam suasana kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak
yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
2. Bagi guru Taman Kanak-Kanak,
dengan penerapan media gambar, guru memperoleh pengalaman baru dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak
yang berpusat pada anak.
3. Bagi peneliti, dapat
membantu guru dalam mengatasi masalah dalam pembelajaran kemampuan berbahasa di
Taman Kanak-Kanak.
Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam format Ms. Word.
Hubungi : 085728916006
PENGGUNAAN
CELEMEK CERITA UNTUK MENINGKATKAN
KEMANDIRIAN
ANAK TK KELOMPOK A
ABSTRAK
Penggunaan celemek cerita untuk
meningkatkan kemandirian anak adalah suatu usaha agar kegiatan pembelajaran di
TK tidak monoton, membosankan, dan menjenuhkan. Dalam kenyataannya kegiatan
pembelajaran masih sangat tekstual, sehingga bentuk-bentuk analogi yang harus
di kembangkan secara kontekstual masih terkesan staknasi. Akibat dari
pembelajaran seperti itu, untuk mendongkrak agar anak bisa lebih mandiri dan
dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain akan terhambat.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1)
untuk mengetahui pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita di TK
Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucangonom – Sidoarjo. 2) Untuk mengetahui kemandirian anak TK
kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo. 3) Untuk
mengetahu sejauh mana metode bercerita dengan alat peraga celemek cerita dalam
meningkatkan kemandirian anak TK kelompo A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I
Pucanganom – Sidoarjo.
Adapun pendekatan metode
penelitain ini adalah menggunakan
pendekatan kualitatif, karena dalam penelitian ini l;ebih mengutamakan
deskriptif analitik untuk memcahkan konsep-konsep di dalamnya, bukan mengunakan
konsep-konsep numeric statistik.
Dalam pelaksanaannya penelitian ini
terbagi atas dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Siklus I memberikan
pengajaran secara umum dan siklus II berkenaan dengan perumusan materi
pembelajaran.
Adapun kesimpulan dari penelitian
ini adalah metode pembelajarn bercerita dengan menggunakan alat peraga celemek
cerita yang di lakukan di TK kelomok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I
Pucanganom – Sidoarjo dalam rangka untuk meningkatkan kemandirian anak adalah
suatu pilihan yang tepat dan cermat. Hal ini dapat dilihat dari paparan data
perkembangan dari siklus I ke siklus
berikutnya yang terdapat perkembangan secara signifikan. Dapat dilihat dengan
jelas dari kemandirian anak yang mula-mula hanyamencapai 5% dengan penggunaan
metode tepat dan cermat akhirnya merubah menjadi 100%
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK)
merupakan pendidikan yang menyenangkan dengan prinsip “belajar sambil bermain,
bermain seyara belajar”. Berangkat dari sinilah pembelajaran yang ada di TK
harus dicermati, sehinga apa yang diharapkan, yakni agar anak-anak lebih
mandiri dalam segala hal sesuai dengan kapasitas anak bisa tercapai. Metode
pengajaran yang tepat dan cermat akan mengarahkan anak-anak pada hasil yang
optimal.
Macam-macam metode pengajaran di antaranya adalah metode
bercerita, permainan bahasa, sandiwara boneka, bercakap-cakap, dramatisasi,
bermain peran, karya wisata, demontrasi,
metode pemikiran dan perasaan terbuka, dan pemanasan atau apersepsi
Tiap-tiap metode tentu mempunyai tujuan secara khusus
sekalipun kadang-kadang antara metode yang satu dengan metode yang lain
mempunyai tujuan yang sama. Hal itu dapat dilihat dalam buku “Pedoman Guru
Bidang Pengembangan Berbahasa di Taman Kanak-Kanak” yang dijelaskan:
Metode bercerita mempunyai tujuan melatih daya tangkap,
melatih daya pikir, melatih daya konsentrasi, membantu perkembangan fantasi,
menciptakan suasana menyenangkan, dan akrab di kelas.
Metode permainan bahasa mempunyai tujuan anak mengerti
apa yang dikatakan kepadanya, anak pandai memusatkan perhatiannya pada apa yang
didengarnya, anak pandai menarik kesimpulan dan apa yang sudah didengarnya, dan
anak suka mendengarkan pembicaraan orang lain.
Metode sandiwara boneka mempunyai tujuan melatih daya
tangkap, melatih daya pikir, melatih daya konsentrasi, melatih membuat
kesimpulan, membantu perkembangan intelegensi, membantu perkembangan fantasi,
dan menciptakan suasana senang di kelas.
Metode bercakap-cakap mempunyai tujuan mengembangkan
kecakapan dan keberanian, menyampaikan pendapat kepada orang lain, memberi
kesempatan untuk berekspresi secara lisan, memperbaiki lafal dan ucapan, dan
mengembangkan intelegensi.
Metode dramatisasi mempunyai tujuan memberi kesempatan
yang sebaik-baiknya kepada anak untuk mengekpresikan diri dan memenuhi
kebutuhan meniru.
Metode mengucapkan syair mempunyai tujuan memupuk
persamaan irama dan perasaan estetis, memperkaya perbendaraan kata, dan melatih
daya ingatan.
Metode bermain peran mempunyai tujuan melatih daya
tangkap, melatih daya konsentrasi, melatih membuat kesimpulan, membantu
perkembangan intelegensi, membantu perkembangan fantasi, dan menciptakan
suasana senang.
Metode karya wisata mempunyai tujuan mengenal lingkungan
secara langsung membantu perkembangan intelegensi, dan menambah perbendaraan
bahasa.
Begitu juga dengan metode-metode yang lain, misalkan
metode demontrasi, metode pemikiran dan perasaan terbuka, maupun metode
pemanasan atau apersepsi masing-masing tentu mempunyai tujuan khusus.
Metode-metode tersebut adalah sebuah variasi atau pilihan
dalam setiap melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang
diinginkan oleh setiap pengajar, sehingga tidak akan terjadi lagi penggunaan
metode yang telah ditentukan melenceng atau tidak sesuia dengan tujuan yang
diinginkan. Dalam hal ini misalkan metode cerita dibantu dengan alat peraga
yang menarik dan unik akan merangsang siswa untuk betul-betul memperhatikan
setiap apa yang akan disampaikan oleh
pengajar atau guru.
Untuk menjadikan agar anak mandiri, agar anak dapat
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain adalah suatu harapan bagi semua
pihak baik dari pihak sekolah maupun pihak orang tua atau wali murid, karena
kemandirian adalah suatu hal yang sangat menting yang harus dimiliki oleh
setiap anak. Agar tidak selalu
bergantung pada orang lain. Kemandirian adalah “Hal atau keadaan dapat
berdiri sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.” (Tim.1996:555). Oleh karena
itu metode bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita adalah sebuah
pilihan yang tepat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah metode pembelajaran
bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita di TK Aisyiyah Bustanul
Athfal I Pucanganom Sidoarjo?
2.
Sejauh manakah kemandirian anak
kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanagom Sidoarjo
3.
.Sejauh manakah metode
pembelajaran bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita anak
kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo dalam
meningkatkan kemandirian anak?
C.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui pembelajaran
bercerita dengat alat pegaga clemek cerita di TK Aisyiyah Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
2.
Untuk mengetahui kemandirian anak
TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
3.
Untuk mengetahui sejauh mana
metode bercerita dengan alat peraga clemek cetita dalam meningkatkan
kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom
Sidoarjo.
D.
Hipotesis
Berdasar atas rumusan masalah
sebagai mana di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai beriku:
Menggunakan metode pembelajaran
bercerita dengan alat peraga celemek cerita dapat meningkatkan kemandirian anak
TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
E.
Lingkup Penelitian
Agar dalam pembehasan ini tidak
terlalu meluas, maka pembahasan hanya difokuskan pada penggunaan metode pmbelajaran
bercerita dengan menggunakan alat peraga celemek cerita kaitannya dengan
kemandirian anak TK kelompok A. Penelitian ini dilakukan di TK Aisyiyah
Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
F.
Definisi Oprasional
Agar tidak terjadi perbedaan arti,
maka dalam penelitian ini diperlukan pendefinisian hal-hal sebagai erikut:
- Penggunaan clemek cerita yang diajarkan di TK Kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo adalah pengembangan atau variasi dari metode bercerita di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang menggunakan alat peraga tidak langsung, yakni benda tiruan, gambar guntingan-guntingan yang ditempelkan pada celemek yang terbuat dari kain flannel.
- Yang dimaksud dengan kemandirian dalam penelitian ini adalah siswa dapat melakukan sesuatu yakni dapat memakai sepatu dan baju tanpa bantuan orang lain atau guru (pada saat di sekolah).
G.
Kegunaan Penelitian
- Secara teoritis kegunaan penelitian ini dapat memperbanyak atau memperkaya tentang variasi metode pengajaran bercerita dengan penggunaan alat peraga tidak langsung di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di taman kanak-kanak..
- Bisa dipergunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pengajar dalam rangka untuk memberikan variasai pengajaran agar tidak menjenuhkan.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 007 PENGGUNAAN CELEMEK CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TK KELOMPOK A
Unknown
17.19
INTEGRASI
OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK ANAK SALEH XXX.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pembelajaran merupakan bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan
berkesinambungan suatu kegiatan. Pembelajaran di taman kanak-kanak bersifat
spesifik didasarkan pada tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan
mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang meliputi moral dan nilai-nilai
agama, sosial, emosional, kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan
seni.
Kemandirian anak
sebagai salah satu aspek perkembangan Bidang Pengembangan Pembiasaan Program
Pembelajaran Taman Kanak-kanak Kurikulum 2004 mempunyai peran penting, karena
aspek kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat menolong dirinya
sendiri dalam rangka kecakapan hidup (life skill), serta memperoleh keterampilan
dasar yang berguna untuk kelangsungan hidup anak. Melalui pemberian rangsangan,
stimulasi dan bimbingan, diharapkan akan meningkatakan perkembangan perilaku
dan sikap melalui pembiasaan yang baik, sehingga akan menjadi dasar utama dalam
pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat.
Pembelajaran kemandirian anak yang
diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui kegiatan-kegiatan konkrit yang dekat dengan kehidupan anak
sehari-hari mempunyai peranan penting. Namun keberhasilan kegiatan belajar
mengajar yang mengembangkan aspek kemandirian anak sering meresahkan guru
Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx. Berdasarkan pengamatan mulai awal masuk sekolah
sampai pertengahan semester I Tahun Pelajaran 2006/2007 menunjukkan bahwa
kemandirian murid Kelompok A-1 masih kurang. Kondisi ini diindikasikan dengan
anak tidak mau menerima tugas dari guru, dalam mengerjakan tugas tidak tuntas,
anak kurang percaya diri mampu mengerjakan tugas sendiri dan selalu meminta
bantuan guru, serta kurang antusias dalam kegiatan belajar mengajar. Penulis
perlu mengatasi masalah tersebut dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK).
1.2
Identifikasi Masalah
Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk
memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang
diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui,
memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan
diri. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu : (1) berpusat pada peserta
didik; (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi
yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika
dan kinestetika; (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. (Puskur 2004 dalam Majid, 2005)
Supaya proses belajar itu
menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk
melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman
nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan
belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi,
percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan
guru secara mandiri.
Agar kemandirian anak dalam
pembelajaran dapat meningkat, maka diusulkan penerapan integrasi outdoor
learning dan indoor learning pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.
1.3
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan
identifikasi masalah dalam penelitian ini, dikemukakan permasalahan sebagai
berikut :
Bagaimanakah integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat
meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.
1.4
Tujuan
Tujuan penelitaian tindakan kelas ini,
sebagai berikut :
Untuk mengetahui bagaimana integrasi
outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada
Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.
1.5
Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitaian tindakan
kelas ini sebagai berikut : Integrasi outdoor learning dan indoor learning
dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.
1.6
Manfaat Penelitian
a.
Manfaat bagi anak didik :
·
Memberikan pengalaman belajar yang
atraktif, berkesan dan bermakna.
·
Memberikan pengalaman belajar yang
nyata dengan kegiatan outdoor learning dan indoor learning.
·
Meningkatkan kemandirian anak.
b.
Manfaat bagi guru :
·
Meningkatkan kreatifitas guru
dalam menemukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemandirian anak.
·
Meningkatkan peranan guru dalam
mendampingi anak didik melakukan kegiatan pembelajaran, sebagai usaha mengatasi
masalah kemandirian anak.
c.
Manfaat bagi sekolah :
·
Memberikan masukan bagi
peningkatan mutu pembelajaran yang kreatif dan inovatif di taman kanak-kanak.
·
Memberikan inspirasi untuk
menggali dan mewujudkan model-model pembelajaran yang inovatif dengan
mengoptimalkan potensi lingkungan sekitar taman kanak-kanak.
·
Sebagai sarana pengembangan dan
peningkatan profesionalisme guru.
1.7
Definisi Istilah
Perlu adanya definisi istilah dalam
penelitian ini, untuk menghindari kesalahan arti dan pemahaman bahasa :
- Integrasi outdoor learning dan indoor learning : model pembelajaran yang memadukan pembelajaran diluar kelas (outdoor learning) dan pembelajaran didalam kelas (indoor learning) secara sistematis dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar berupa lingkungan sekitar taman kanak-kanak dan segala benda-benda yang mengandung informasi sebagai wahana anak didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku (kemandirian anak) melalui pengalaman belajar yang nyata dan menantang.
- Kemandirian anak : kemampuan anak menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup (life skill), sebagai salah satu aspek perkembangan anak pada Bidang Pengembangan Pembiasaan Program Pembelajaran Taman Kanak-kanak Kurikulum 2004.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 06 INTEGRASI OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK
Unknown
17.15
BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA
ABSTRAKSI
Peningkatan ketrampilan berhitung
dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat penting,
mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah ketrampilannya
dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih kurangnya
kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan ketrampilan
anak dalam berhitung/ membilang.
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif studi operasional/tindakan kelas dan dikenakan pada 28 anak didik
Taman Kanak-kanak xxxx Kabupaten xxxxx Tahun 2006. Tindakan kelas yang
dilaksanakan adalah model siklus. Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri
dari 4 komponen yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana
tindakan memuat berbagai cara yang dilakukan oleh guru. Tindakan kelas
dilaksanakan guna meningkatkan ketrampilan
matematika para peserta didik. Observasi merupakan upaya untuk merekam
kegiatan yang terpadu selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan
dampak dari hasil bermain kartu bilangan.
Hasil tindakan kelas menunjukkan bahwa
hasil kerja pada Siklus I terdapat 5 (18%) anak yang hasilnya sudah dapat
dikatakan tuntas, sedangkan yang 23 (82%) anak masih keliru dan tidak
bersemangat mengikuti kegiatan. Pada Siklus II terdapat 20 (71%) anak yang
hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 8 (29%)anak masih keliru
dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. pada Siklus III terdapat 26 (93%)
anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 2 (7%) anak
masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan prasekolah
berkembang tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara-negara berkembang.
Saat ini banyak ditemukan pelayanan pendidikan prasekolah, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Berbagai alternatif program
pendidikan untuk anak prasekolah, baik yang diselenggarakan di sekolah maupun
di luar sekolah, banyak ditawarkan, antara lain Taman Kanak-kanak, Tempat
Penitipan Anak, dan Program Bina Keluarga dan Balita.
Pendidikan anak usia dini merupakan
salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada
peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik
halus dan kasar), kecerdasan, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan jamak
dan kecerdasan spiritual. Untuk itu pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
perlu diarahkan pada dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan
manusia seutuhnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya
cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar
pembentukan pribadi yang utuh.
Usia anak-anak, yaitu
antara 0-6 tahun, adalah usia emas untuk anak mempelajari berbagai hal di
sekitarnya. Anak akan mempelajari sesuatu tidak dengan cara duduk tenang,
mendengarkan keterangan-keterangan dari orang tua maupun guru, tetapi anak akan
mempelajari sesuatu hal dengan cara bermain. Dalam kegiatannya saat bermain
tersebut anak akan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak dia ketahui.
Sesuai dengan karakteristik anak usia
dini yang bersifat aktif melakukan berbagai kegiatan bermain, maka proses
pembelajarannya adalah pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain.
Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai
suatu sistem yang dapat menciptakan dan memberi kemudahan bagi anak usia dini
untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktivitas dan sesuai dengan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak usia dini.
Keberhasilan proses
pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi
jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam
pendidikan formal seperti Taman Kanak-kanak, pengajarnya adalah orang-orang
yang telah mendapat pendidikan khusus, sedangkan dalam pendidikan non formal,
pengajarnya bukanlah selalu orang yang berlatar pendidikan guru.
Pembelajaran di Taman
Kanak-kanak lebih banyak difokuskan pada bidang dasar (basic), yaitu
membaca, menulis, dan berhitung yang dikenal dengan “Three Rs” (Tiga
R), yaitu Reading, Writing, dan Aritmathic. Istilah “Back to
Basic” yang sering didengar tidak lain merupakan istilah “Tiga R” tersebut,
yang artinya mengembalikan fokus pembelajaran di Taman
Kanak-kanak atau Sekolah Dasar kelas awal kearah kegiatan membaca, menulis, dan
berhitung. Di Indonesia “Tiga R” dikenal dengan istilah “calistung”, yaitu
membaca, menulis, dan berhitung.
Kegiatan pembelajaran di
Taman Kanak-kanak tidak sekedar untuk mengembangkan “Tiga R”, tetapi untuk
mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, terutama aspek kognitif. Di
samping itu matematika juga berfungsi untuk mengembangkan kecerdasan anak,
khususnya kecerdasan yang oleh Gardner
(dalam Rahayu, 1995 : 1) disebut Logico-mathematics. Kecerdasan Logico-mathematics
menyangkut kemampuan seseorang menggunakan bilangan, operasi bilangan dan
silogisme.
Matematika atau
berhitung merupakan hal yang akrab dalam kehidupan manusia. Setiap hari, bahkan
setiap menit orang menggunakan matematika. Belanja,
menghitung benda, waktu, tempat, jarak, dan kecepatan merupakan fungsi
matematis. Memahami grafik, tabel, berat, dan volume juga merupakan fungsi
matematika. Dengan kata lain matematika sangat penting bagi kehidupan kita.
Pada proses perkembangan
pada anak usia dini, pada mulanya anak tidak tahu bilangan, angka dan operasi
bilangan matematis. Secara bertahap sesuai perkembangan mentalnya anak belajar
membilang, mengenal angka dan berhitung. Anak belajar menghubungkan objek nyata
dengan simbol-simbol matematis. Sebagai contoh, sebuah jeruk diberi simbol
angka “1” dan dua buah jeruk diberi simbol dengan angka “2”. Demikian pula
simbol “+” yang berarti dijumlah dan simbol “-“ yang berarti dikurangi.
Guru Taman Kanak-kanak
perlu mengusai konsep-konsep matematika sederhana yang sesuai untuk anak Taman
Kanak-kanak. Berbagai notasi matematis sederhana dan cara pengenalannya perlu
dipahami secara mendalam, agar dapat
melatih anak berhitung dan menggunakan fungsi- fungsi matematis lainnya. Menurut Piaget
(Hibana, 1998 : 31), pengenalan matematika sebaiknya dilakukan melalui
penggunaan benda-benda konkrit dan pembiasaan penggunaan matematika agar anak
dapat memahami matematika, seperti berhitung, bilangan, dan operasi bilangan.
Sebagai contoh, mengingatkan anak tentang tanggal hari ini dan menuliskannya di
papan tulis akan melatih anak mengenal bilangan.
Peningkatan ketrampilan
berhitung dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat
penting, mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah
ketrampilannya dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih
kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan
ketrampilan anak dalam berhitung/ membilang. Salah satu cara yang dapat
ditempuh dalam meningkatkan ketrampilan berhitung/matematika antara lain
melalui bermain kartu bilangan.
Berdasarkan uraian di
atas, maka upaya meningkatkan ketrampilan matematika pada anak usia prasekolah
merupakan hal yang penting. Hal ini mendorong peneliti untuk mengadakan
penelitian dengan judul “BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN
MATEMATIKA (Penelitian Pada Anak TK xxxxxxxxx)”.
B.
Permasalahan
1.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
uraian di atas maka dapat diidentifikasikan masalah penelitian, sebagai berikut
:
a.
Rendahnya ketrampilan anak dalam berhitung/matematika,
sehingga pencapaian hasil belajar matematika kurang optimal.
b.
Kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran
guru dalam menggunakan alat kartu bilangan yang mengakibatkan rendahnya
ketrampilan anak dalam berhitung/membilang.
c.
Untuk meningkatkan ketrampilan berhitung/membilang
dalam area matematika, dapat diupayakan melalui bermain kartu bilangan.
2.
Pembatasan
a.
Bermain kartu bilangan untuk meningkatkan ketrampilan
anak, merupakan upaya memberikan bantuan oleh seorang guru/pembimbing kepada
anak yang kurang trampil dalam berhitung/matematika.
b.
Pelaksanaan bantuan tersebut dengan memanfaatkan kartu
bilangan sebagai usaha/pengalaman langsung pada anak.
c.
Bermain kartu bilangan adalah sebagai pendorong
semangat belajar dalam berhitung, membilang, dan menghubungkan.
3.
Perumusan Masalah
a.
Bagaimanakah upaya
meningkatkan permainan berhitung melalui bermain kartu bilangan
dilaksanakan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxx?
b.
Apa kendala yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya
dalam upaya meningkatkan permainan berhitung melalui bermain kartu bilangan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxxx?
4.
Cara Pemecahan Masalah
Untuk
menjawab permasalahan penelitian, maka dilakukan tindakan kelas dengan model
Siklus. Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri dari 4 komponen yaitu
rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana tindakan memuat berbagai
cara yang dilakukan oleh guru. Kegiatan ini dilakukan oleh anak guna meningkatkan ketrampilan dalam berbagai
hal. Observasi merupakan upaya untuk merekam kegiatan yang terpadu
selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan dampak dari hasil
bermain kartu bilangan.
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui upaya peningkatan
ketrampilan berhitung melalui bermain kartu bilangan dilaksanakan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxxx.
2.
Untuk mengetahui kendala yang
dihadapi dan cara mengatasinya dalam upaya meningkatkan ketrampilan berhitung
melalui bermain kartu bilangan di Taman
Kanak-kanak xxxxxxxxxx.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Sebagai bahan latihan dalam rangka
belajar menganalisa suatu permasalahan dengan menerapkan teori-teori dan materi
yang didapat dari perkuliahan.
2.
Untuk lebih mengetahui pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar di Tamak Kanak-kanak pada umumnya dan upaya
meningkatkan ketrampilan berhitung melalui bermain kartu bilangan pada
khususnya.
3.
Hasil penelitian dapat digunakan
bahan masukan bagi Taman Kanak-kanak XXXXXXXX.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 05 - BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA
Unknown
17.13
MENINGKATKAN
MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA
PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF
DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN
DARI BAHAN SISA PADA ANAK
KELOMPOK A DI TAMAN KANAK
– KANAK PEMBINA 2 XXX
ABSTRAK
Pendidikan adalah “ Usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan
negara. Pada kenyataannya di sekolah banyak
peserta didik yang kurang
berminat saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Mereka kelihatan
kurang bergairah, tidak bersemangat dan kurang menyenangi materi yang
disampaikan. Oleh karena itu perlu dicari apa penyebabnya dan bagaimana agar
siswa bergairah dan merasa senang mengikuti proses pembelajaran. Salah satu
upaya yang akan penulis lakukan adalah mencoba menciptakan pembelajaran yang
menyenangkan.
Sesuai dengan permasalahan dan upaya pemecaham masalah
tersebut di atas maka judul penelitian tindakan kelas yang akan peneliti
lakukan adalah “ MENINGKATKAN MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG
AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN DARI BAHAN SISA PADA
ANAK KELOMPOK A DI TAMAN KANAK – KANAK PEMBINA 2 XXX “. Pentingnya masalah ini
diteliti yaitu untuk mengetahui apakah dengan menggunakan PAKEM dapat
meningkatkan minat anak terhadap proses pembelajaran.
PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yang melibatkan siswa kelompok A di Taman Kanak –
Kanak Pembina 2 Xxx yang didukung oleh guru – guru yang tergabung di TK Pembina
2, yang dua orang diantaranya bertindak sebagai observer pada waktu pelaksanaan
PTK. Setelah PTK selesai hasilnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Dengan pembelajaran PAKEM melalui
permainan dari bahan sisa dapat meningkatkan perhatian peserta didik terhadap
materi yang relevan.
2.
Dengan PAKEM dapat membuat siswa
lebih bersemangat dan tidak merasa bosan mengikuti proses pembelajaran.
3.
Dengan menggunakan permainan dari
bahan sisa proses pembelajaran lebih hidup karena siswa lebih banyak aktif.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan di Taman Kanak – Kanak adalah “ suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.“
Taman Kanak – Kanak
sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan
dasar, memiliki kelompok sasaran anak usia 3 – 6 tahun yang sering disebut masa
emas perkembangan. Di samping itu, pada anak usia ini anak – anak masih sangat
rentan yang apabila penanganannya tidak tepat justru dapat merugikan anak itu
sendiri.
Dalam kenyataannya minat belajar anak saat proses belajar
mengajar sedang berlangsung belum optimal. Proses pembelajaran yang terjadi
saat ini yaitu bermain sambil belajar seraya belajar sambil bermain.
Karena bermain adalah realisasi dari perkembangan diri
dari kehidupan anak dapat tumbuh dan berkembang melalui berbagai kegiatan yang
dilakukan anak pada waktu bermain dan melalui pengalaman anak dapat
mengembangkan potensi – potensi yang dimilikinya melalui bermain. Selanjutnya
dengan bertambahnya usia anak dapat dengan sadar menyerap stimulasi lingkungan
dan mulai dapat mengorganisasikan serta melakukan generalisasi terhadap
pengalaman yang diperoleh.
1.2 Masalah
Masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran dari
judul yang telah dikemukakan adalah :
1.
Keterbatasan adanya alat praga.
2.
Kurangnya minat belajar.
1.3 Rumusan Masalah
1.
Apakah proses pembelajaran aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAKEM ) melalui permainan dari bahan sisa
dapat membangkitkan minat anak kelompok A di Taman Kanak – Kanak Pembina 2.
2.
Apakah penerapan PAKEM dapat
meningkatkan kemampuan anak kelompok A di TK Pembina 2 dalam melakukan proses
pemebelajaran.
1.4 Tujuan
1.
Untuk mengetahui proses
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan melalui permainan dari
bahan sisa dapat membangkitkan minat anak.
2.
Meningkatkan minat anak kelompok A
di TK Pembina 2 Xxx dalam mengikuti proses pembelajaran.
3.
Meningkatkan kemampuan anak untuk
lebih aktif dan kreatif.
1.5 Manfaat
Dengan penelitian tindakan kelas melalui PAKEM, melalui
permainan dari bahan sisa diharapkan terjadi perbaikan dan peningkatan proses
pembelajaran secara lebih rinci manfaatnya adalah :
- Bagi pesertas didik, diharapkan mereka dapat tertarik dan senang menngikuti proses pembelajaran sehingga timbul minat untuk bernain sambil belajar mereka dihadapkan pada gambar menarik yang sesuai dengan materi pembelajaran. Mereka akan lebih mengenal berbagai macam lambang bilangan dan gambar – gambar dan dapat menyebutkan kembali isi gambar tersebut . setelah mereka menggunakan alat praga diharapkan pula kegiatan belajar mengajar bila lebih hidup semula siswa itu aktif, sehingga hasil kegiatan belajar mengajar akan lebih baik dan kemampuan perubahan perilaku peserta didik akan lebih meningkat.
- Bagi guru, proses pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas mengajar, karena guru dituntut untuk menyusun program pembelajaran, kemudian harus menyiapkan berbagai gambar yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan. Guru juga akan lebih ringan di dalam melaksanakan tugas mengajarnya, karena yang lebih aktif adalah siswa dan guru hanya mengarahkan saja..
- Bagi sekolah, diharapkan dengan meningkatkan minat anak, dalam proses pembelajaran, siswa akan lebih tertarik, lebih semangat, lebih senang dan bergairah dalam belajar, sehingga hasil belajarnya pun akan lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya diharapkan mutu pendidikan di sekolah dapat meningkat.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 04 MENINGKATKAN MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN DARI BAHAN SISA
Unknown
16.56
PERKEMBANGAN
MOTORIK ANAK DINI USIA PADA
PLAY GROUP PERMATA BUNDA SKB
MOJOAGUNG JOMBANG TAHUN
PELAJARAN 2006/2007
ABSTRAK
Latar belakang pemilihan masalah dalam judul skripsi ini
adalah kurangnya perhatian terhadap anak dini usia pada pola perkembangannya,
serta ingin mengetahui perkembangan motorik anak yang sangat penting dalam
proses pembentukan anak yang dipengaruhi oleh beberapa unsur antara lain otak,
syaraf, dan otot. Perkembangan motorik ini dibahas dengan tujuan dapat
mendiskripsikan (1) Perkembangan mororik halus dan motorik kasar path anak dini
usia (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak dim usia.
Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif
dan jenis penelitian mendeskripsikan. Data dalam penelitian ini berupa
perkembangan mororik halus dan motorik kasar pada Play Group “Permata Bunda”
Mojoagung, Jombang serta orang tua dengan menggunakan penelitian populasi. Data
diperoleh dengan menggunakan teknik observasi partisipan, dokumentasi,
wawancara dan dianalisis dengan menggunakan teknik reduksi data dengan
langkah-Iangkah (1) Pengumpulan data, (2) Kiasifikasi data, (3)
Pendeskripsikan.
Hasil menunjukkan bahwa (1) Perkembangan motorik halus
dan motorik kasar anak dini usia pada Play Group “Permata Bunda” dikategorikan
baik karena dari jumlah anak yang telah diteliti sebagian besar mampu melakukan
kegiatan yang bersifat berkala, (2) Faktor yang mempengaruhi perkembangan
motorik antara lain lingkungan keluarga, karena keterkaitan keluarga sangat
diperlukan dalam proses perkembangan mororik anak. Sedangkan faktor lain adalah
hereditas baik gizi maupun pembawaan sejak lahir yang dialami anak. Saran yang
diutarakan kepada orang tua, hendaknya lebih memperhatikan perkembangan anak
serta pola asuh orang tua dituntut untuk berfikir dan berinisiatif untuk anak
tidak bersifat menunggu serta bagi Play Group, hendaknya lebih menetapkan pada
unsur pembentuk perkembangan motorik antara lain otak, syaraf, otot dan alat
permainan yang dapat merangsang perkembangan anak. Bagi peneliti selanjutnya
sebagai dasar untuk meneliti dalam bahasan yang lebih luas.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pertumbuhan dari perkembangan anak
usia dini merupakan masa yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia
dimasa depan. Dengan demikian, untuk menyiapkan sumber daya yang berkualitas
perlu diberikan stimulus secara holistik dari proporsional kepada anak sehingga
memberikan hasil yang optimal dalam pertumbuhan dari pekembangannya. Konsep
tersebut sejalan tujuan dari pembangunan nasional yaitu membangun manusia
seutuhnya. Artinya membangun bukan saja ditujukan untuk mengejar kemajuan
fisik, melainkan membangun sumber daya manusia dalam mempersiapkan generasi
penerus yang berkualitas. Menurut Fasli Jalal (Buletin Padu,2002:9) bahwa
tantangan yang harus dijawab diantaranya dengan ketersediaan sumber daya
manusia yang sanggup menghadapi tantangan yang ada. Pengembangan sumber daya
manusia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang antara lain ditandai
oleh semakin meningkatnya mutu kehidupan bangsa dari martabat bangsa Indonesia di
tengah-tengah peradaban dunia. Secara umum permasalahan pendidikan yang sangat
mendasar masih berkisar pada belum tercapainya pemerataan dan rendahnya
kualitas hasil pendidikan.
Rendahnya kualitas hasil pendidikan
juga berdampak terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia .
Menurut laporan UNDP (United Nation
Development Program). (Buletin PADU, 2002:37) tentang Human Development Index
(UDI) pada tahun 2003 Indonesia menempati peringkat 112 dari 175 negara yang
diteliti, jauh dibawah Negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (58), Thailand
(74), bahkan juga tertinggal dari Vietnam (109), Fhilipina (25). Hal ini
sangatlah diperlukan peningkatan mutu pendidikan, sebab kemajuan suatu Negara
juga bergantung pada majunya pendidikan. Jadi, Keikutsertaan dari semua pihak
sangat diperlukan karena demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pendidikan,
sekaligus menjawab tantangan globalisasi dari pemberlakuan otonomi daerah. Jaringan
kemitraan yang luas di setiap institusi masyarakat, mulai dari pusat sampai
tingkat grass root merupakan wujud atas keberlangsungan suatu program di
masyarakat.
Kenyataan tersebut terbukti dengan
kepedulian pemenntah terhadap pendidikan anak dini usia didukung melalui UU
Sisdiknas bagian tujuh pada pasal 28 ayat 1 menyebutkan pendidikan anak dini usia
diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dari Keppres no 177 tahun
2000 yang telah berusaha membentuk Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU)
yang bertugas “menyiapkan bahan-bahan rumusan kebijakan dari standarisasi
teknis serta memberikan bimbingan teknik dari evaluasi dibidang pendidikan anak
dini usia”
Penanganan anak dini usia tidak cukup
hanya ditangani oleh satu sektor saja karena ada tiga hal utama yang berkaitan
dengan perkembangan dari pertumbuhan anak dini usia yaitu: (1) Pendidikan,
adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan secara umum diakui bahwa
tingkat pendidikan seseorang merupakan indikator tingkat kemampuan berfikimya.
Begitu vitalnya pendidikan dalam kehidupan manusia sehingga tidak salah jika
ada yang berpendapat pendidikan memasuki kehidupan manusia mulai saat dalam
kandungan hingga akhir hayatnya yang pada akhimya memunculkan konsep pendidikan
seumur hidup (life long education). (2) Gizi dari kesehatan , dijabarkan dalam
bentuk peningkatan kemampuan intelektual dari prosuktivitas kerja. Pembenan
gizi yang baik sangat penting bagi tumbuh kembangnya pada setiap periode
pertumbuhan mulai dari masa konsepsi sampai lahir dari seterusnya (Buletin
PADU, 2002:13), ketiga aspek tersebut merupakan pilar perkembangan anak dini
usia. Sosialisasi PADU tidak hanya ditangani melalui pendidikan formal saja,
melainkan keikutsertaan masyarakat sangat berarti. Pembukaaan sarana belajar
seperti play group (untuk tumbuh kembang hubungan dari daya kreatifitas dan juga
melatih daya motorik anak.
Penyelenggaraan pendidikan anak dini
usia dilandasi oleh filosofi demi kepentingan terbaik untuk anak dengan
betul-betul memahami karakteristik, cara belajar mengajar, lingkungan belajar
yang ideal. Pada masa seperti ini juga adanya tantangan hebat yang mendunia, maka
generasi baru yang ingin diwujudkan oleh bangsa Indonesia juga memiliki
karakteristik yang berbeda dengan masa lampau. Beberapa karakteristik generasi
baru Indonesia
adalah memiliki daya kompetensi yang tinggi, kemampuan adaptasi yang baik , dan
memegang nilai-nilai dasar yang sudah dimiliki bangsa Indonesia .
Begitu juga dalam proses belajar
mengajar hendaknya disesuaikan dengan kurikulum berbasis kompetensi, dalam arti
anak lebih peran aktif dalam proses belajar. Diciptakan lingkungan yang kurang
nyaman atau terlalu ramai maka anak dalam menerima pembelajaran kurang efektif.
Pola perkembangan yang tepat merupakan
dasar untuk memahami anak. Tujuan perubahan perkembangan adalah realisasi diri atau
pencapaian kemampuan genetik, dari dapat meningkatkan aspek perkembangan anak
antara lain: Fisik, perkembangan motorik, perkembangan bicara, emosi,
perkembangan sosial, perkembangan bermain, kreatifitas, perkembangan
pengertian, moral, minat, perkembangan peran sex, kepribadian, perkembangan
fisik otak, perkembangan intelektual, perkembangan bahasa, perkembangan
hubungan sosial keluarga.
Perkembangan-perkembangan tersebut
mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan anak. Dari sini
perkembangan motorik sangat ditentukan oleh unsur-unsur syaraf, otot dari otak.
Ketiga unsur tersebut melaksanakan masing-masing peranannya secara interaksi
positif, artinya unsur-unsur yang berkaitan, saling menunjang, saling
melengkapi, dengan unsur lainnya untuk mencapai kondisi motorik yang lebih
sempurna. Selain mengandalkan kekuatan otot, rupanya kesempurnaan otak juga
menentukan keadaan. Anak yang pertumbuhan otaknya mengalami gangguan tampak
kurang terampil menggerak gerakkan tubuhnya.
Perkembangan motorik tidak saja
mencakup berjalan, berlan, melompat, naik roda tiga, mendorong, menarik,
memutar, namun juga melibatkan hal-hal seperti menggambar, mencatat, mencoret
dari kegiatan lain. Keterampilan motorik berkembang pesat pada usia dini.
Kemampuan keseimbangan membuat anak
mencoba berbagai kegiatan dengan keyakinan yang besar akan keterampilan yang
dimilikinya. Anak mampu memanipulasi objek kecil seperti potongan puzzle. Maka
juga bisa menggunakan balok-balok dalam berbagai ukuran dari bentuk.
Anak usia lima tahun belajar permainan lebih melibatkan
ketrampilan motorik. Anak suka sekali masuk dari keluar kotak besar, dibawah
meja, bersembunyi dari sesuatu. Kegiatan ini menggunakan bola, permainan atau
orang. Anak amat menyukai gerakan-gerakan yang membangkitkan semangat. Untuk
itu mereka tidak butuh berlama-lama. Sehingga yang cocok usia ini permainan
yang merangsang kegemaran mereka akan gerakan-gerakan bukan permainan kompetisi
(Reni 2001:7)
Berdasarkan latar belakang di atas
maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih luas tentang perkembangan motorik
anak dengan mengambil judul “Perkembangan
Motorik Anak Dini Usia pada Play Group Permata Bunda SKB Mojoagung Jombang
Tahun Ajaran 2006/2007”.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 03 - PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK DINI USIA PADA PLAY GROUP PERMATA BUNDA SKB
Unknown
16.52
THE
INFLUENCE OF VOCABULARY TEACHING USING GAMES ON THE VOCABULARY MASTERY OF THE AISYIAH
KINDERGARTEN
CHAPTER I
INTRODUCTION
A.
Background of the
Study
As a
foreign language in Indonesia, English is seriously learned by many people to
have a good prospect to be the community of international world. It can be seen
that English is taught from elementary school, up to the higher education (SLTP,
SMU, Universities). Now days in line with the Indonesia government's plan to
the nine-year basic education, English teaching at elementary school has been
possible based on the 1994 curriculum of elementary school.
Considering
the needs of mastering English, it is very important to start learning English
as early as possible. Now days, parents who have realized about the importance
of English, want their children start learning English earlier. Many parents in
Indonesia send their young children of preschool's age (3-6 years old) for
many English oriented pre-schools or to the kindergartens. Krasnegor (in Badib,
1991: 351) states that infants can distinguish many phonetic contrast of a
speech at a very yo.ing age. It means that the earlier one starts to learn
English, the better the result he/she will achieve.
But, teaching
English to pre-school children is not easy and it needs patience. The process
of teaching children or young learner is different from the process of teaching
adults. Clark and Clark (in Fauziati, 2002: 171) state that the language used
talk to young children is about “here and now”. Adults talk about the object
for children interest in: they name them, describe their properties, and talk
about relation between objects. To make sure young children understand what
adults say, adults alter the way they say what they say to children. They do
this in three ways: they slow down, they use short simple sentences, and they
repeat them frequently. These ways of talking to children should be seriously
considered in teaching English to very young learners.
To reach a
good development in teaching learning process, teachers should create various
teaching techniques to increase the motivation of children. The variety of teaching
techniques will help very young learners feel amusing in learning situation.
One of the techniques to teach the children is using games.
Games
should be applied in the process of learning a anguage. Games are appropriate
to be played by everybody who learns a language. Games and game-like activities
can be a useful medium for teaching foreign language to children. Instead of
having a fun the children also learn a new language. David (2003: 49) states
that games play a central role in a child-centered lesson and make it possible
for children to fully immerse themselves in learning.
In
learning English, children should realize what they do when they receive the
language assignments. They must be led to understand assignments that are
connected to their habit of using their own language to enrich their
vocabulary. Mujiono (1993: 83) states:
Vocabulary in English as a foreign language
is taught at school for the purpose of providing the students language skills.
They are listening, reading, speaking, and writing. Some general statements say
that the techniques of teaching reading comprehension and others (Listening,
Speaking, Reading, and Writing) are vouched on vocabulary.
The
statement above shows that vocabulary is one of the elements of a language.
As the
number of vocabulary items, which are the students to master expect indicate
that there is a difference between those needed for production skill in foreign
language especially speaking and writing. And those needed for recognition
skill, particularly reading and listening. On this point, Lado (in Ernawati,
2002: 8) mentions as following:
At present it is possible to guest that a
speaking vocabulary of 2000 world like that of general service list of English
words, is an adequate minimum number for the purpose of basic communication for
reading. However, a vocabulary for writing and listening should better be got
at 3000 to 4000 than 2000.
It is
realized that in the production level, the students can select any phrase
within their range of vocabulary that they do not know. In production level,
however, they are forced to know all the words the: read or hear in order to
communicate smoothly.
Teaching
vocabulary should use effective techniques to teach the material from the book
that they are using. They will know the strength and weakness of their
material, and will be able to improve their teaching.
Based on
the explained above the writer is interested to conduct a research about “The
Influence of Vocabulary Teaching using Games on the Vocabulary Mastery of the AISYIAH
Kindergarten.”
B.
Review of
Previous Study
In this
study, the writer summarizes the relevant previous researcher to prove the
originality of' this study. They are Siti Ernawati (2002) and Dain Nurfika
(2002).
The first
researcher is Siti Ernawati (2002) studies about “Teaching Vocabulary Using
Pictures at the First Year Students of MTS N Walen Simo Boyolali”. She focuses
the study on the effectiveness of pictures as a means to teach vocabulary.
The second
researcher is Dain Nurfika (2002) in f is study entitled “Teaching Speaking
Using Games and Role-play to the Students of Conversation Class at SMU Al-Islam
3 Surakarta.” The aims of his study are to find the right procedures in
teaching speaking using games and Role-play and to know the teaching learning
process in the classrooms, especially the implementation of Teaching Speaking
Using Games and Role-play to the Students of Conversation Class at SMU Al-Islam
3 Surakarta.
From those
literatures writer review above the writer uses the same media but different in
an instrument. The writer research is about The Influence of Vocabulary
Teaching with Games on the Vocabulary Mastery of the AISYIAH Kindergarten.
C.
Problem
Statement
Based
on the background of the study the writes formulates the problems as follows:
1. How is the
process of teaching vocabulary using games to the AISYIAH Kindergarten?
2. What is
the result of teaching vocabulary using games to the AISYIAH Kindergarten?
D.
Limitation
of the Study
In
Kindergarten, there are many interesting aspects to study, but the writer only
focuses on the effectiveness of games as a means to teach vocabulary.
E.
Objective
of the Study
Based on
the research problem, the purposes of the study are:
1.
To describe the process of teaching vocabulary
using games in AISYIAH Kindergarten.
2.
To describe the result of teaching vocabulary using
games in AISYIAH Kindergarten.
F.
Benefit of
the Study
The writer
expects that the research paper has some benefits in theoretical and practical.
- The
theoretical advantages:
a.
The result of the research paper can be used as an
input in English teaching learning process especially in teaching vocabulary.
b.
The result of the research can be used as the
reference for those who want to conduct a research in English teaching learning
process.
- The practical
advantage:
The English teachers can use the result of
the research when they teach the pupils of kindergarten in improving
vocabulary.
G.
Paper
Organization
The study
will be organized as follows:
Chapter I
is Introduction. It includes the background of tht study, review of previous
study, problem statement, limitation of the study, objective of the study,
benefit of the study, and research paper organization. Chapter II is Underlying
Theory. It discusses the notion of vocabulary, kinds of vocabulary, the characteristics
of the young children, general nature of teaching vocabulary, the general
concept of games, and action hypothesis. Chapter III is Research Method. This
covers type of research, the instruments for gathering the data, subject of the
study, object of the study, and the techniques of analyzing data. Chapter IV is
analysis and discussion. Chapter V consists of conclusion and suggestion.
Untuk mendapatkan
file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
dalam
format Ms. Word.
Hubungi
: 085728916006
PTK TK 02 - THE INFLUENCE OF VOCABULARY TEACHING USING GAMES ON THE VOCABULARY MASTERY OF THE AISYIAH KINDERGARTEN
Unknown
16.38