GUDANG PTK PTS

Contoh

image
Hello,

Kami, Jasa Pintar

KAMI MEMBANTU DALAM PENYUSUNAN TUGAS-TUGAS ANDA, KAMI MENYEDIAKAN REFERENSI DAN KAMI SANGAT TIDAK MENDUKUNG PLAGIATISME.

TERIMA KASIH


Penelitian Tindakan Kelas
  • PTK SD
  • Penelitian Tindakan Kelas SD/MI

  • PTK SMP
  • Penelitian Tindakan Kelas SMP/MTs

  • PTK SMA
  • Penelitian Tindakan Kelas SMA/MA/SMK


    Experience
    Lead Developer

    State Art company

    UI/UX Developer

    Design Corporation

    Front-End Developer

    Creative Design Studio


    My Skills
    Penyusunan PTK
    Penyusunan PTS
    Contoh PTK
    Contoh PTS

    764

    Awards Won

    1664

    Happy Customers

    2964

    Projects Done

    1564

    Photos Made

    Layanan Kami

    Contoh PTK

    Menyediakan RATUSAN Judul Contoh Penelitian Tindakan Kelas (SD/SMP/SMA) yang dapat Anda gunakan sebagai bahan referensi

    Contoh PTS

    Menyediakan Judul Contoh Penelitian Tindakan Sekolah (Kepala Sekolah/Pengawas) yang dapat Anda gunakan sebagai bahan referensi

    Bikin PTK/PTS

    Jika Anda tidak menemukan judul yang sesuai pada katalog kami, tentukan sendiri judul PTK/PTS Anda, kami siap membantu dalam penyusunan

    Clean Code

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    Photographic

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    Unlimited Support

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    CONTOH PTK PTS
    Tampilkan postingan dengan label PTK TK. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label PTK TK. Tampilkan semua postingan

    PTK TK 008 eningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa TK dalam Pembelajaran Kemampuan Berbahasa melalui Penerapan Media Gambar


    Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa TK dalam Pembelajaran Kemampuan Berbahasa melalui Penerapan Media Gambar


    ABSTRAK

    Pembelajaran kemampuan berbahasa di TK semestinya ditekankan pada suasana pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan, sementara itu yang terjadi di TK tidak jarang aktivitas pembelajaran masih mengadopsi pola-pola lama pembelajaran di sekolah-sekolah dasar. Siswa cenderung pasif. Untuk itu perlu adanya perubahan ke arah pembelajaran yang memberikan kesempatan atau peluang kepada siswa untuk lebih aktif, berminat dan menyenangkan. Cara tersebut di tempuh dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar.
    Penelitian ini bertujuan menggambarkan pembelajaran membaca permulaan dengan media gambar secara klasikal maupun secara kelompok dan dalam proses terjadi peningkatan kemampuan membaca siswa. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan penelitian tindakan kelas, peneliti dibantu guru kelompok B dan 23 siswa TK Negeri Pembina Kecamatan Sedati. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode kualitatif, pengamatan / observasi dan dibantu alat perekam berupa kamera dan handycam. Penelitian ini dilakukan dengan dua siklus tindakan. Siklus pertama di titik beratkan pada peningkatan partisipasi dan kemampuan membaca dalam permainan mencocokkan kartu kata dengan gambar dan siklus kedua pada peningkatan membaca. Setiap siklus terdiri atas tahapan : persiapan, tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, analisis dan refleksi.
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca permulaan dengan media gambar secara klasikal siswa yang pemalu cenderung pasif sehingga ketika guru memberi tugas siswa untuk mencocok kartu kata dengan gambar siswa tidak mau dan perhatian sebagian siswa kurang terfokus dalam pembelajaran ini dan kemampuan membacanya masih didominasi oleh siswa-siswa yang aktif. Dengan pembelajaran kemampuan membaca dengan media gambar secara kelompok siswa diajak untuk melakuakn permainan mencocokkan kartu kata dengan gambar dengan teman sendiri dan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Kreativitas siswa, rasa malu siswa dapat diatasi dan kemampuan membaca siswa meningkat serta suasana pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.

    BAB I
    PENDAHULUAN




    A.      Latar Belakang
    Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-Kanak adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.
    Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan lembaga pendidikan pra-sekolah atau pra-akademik. Dengan demikian Taman Kanak-Kanak tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan akademik anak seperti kemampuan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan akademik atau skolastik ini harus menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan Sekolah Dasar.
    Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan dalam praktik kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab pengembangan kemempuan skolastik dari Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak terjadi di mana-mana, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Banyak Sekolah Dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes “membaca dan menulis”. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar seperti ini sering pula di anggap sebagai lembaga pendidikan “berkualitas dan bonafide”.
    Peristiwa praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan menulis dengan mengadapsi pola-pola pembelajaran di Sekolah Dasar. Akibatnya, tidak jarang Taman Kanak-Kanak tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain, sehingga Taman Kanak-Kanak tidak lagi taman yang indah, tempat bermain dan berteman banyak, tetapi beralih menjadi “Sekolah” Taman Kanak-Kanak dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak. Tanda-tandanya terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis agar bisa memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar favorit.
    Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak dapat dilaksanakan selama batas-batas aturan pengembangan pra-sekolah serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra-skolastik yang lebih substansi yaitu bidang pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan berbahasa atau membaca kognitif, fisik-motorik dan seni.
    Mencermati kondisi kegiatan pembelajaran membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak yang berlangsung sebagaimana digambarkan di atas, perlu dilakukan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Dengan serangkaian tindakan itu diharapkan dapat mengubah suasana pembelajaran ke arah pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan. Hal itu dapat dicapai dengan melalui pembelajaran menggunakan media gambar. Media gambar adalah penyajian visual 2 dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi unsur kehidupan sehari-hari tentang manusia benda-benda, binatang, peristiwa, tempat dan sebagainya (Taufik Rachmat, 1994).
    Gambar banyak digunakan guru sebagai media dalam proses belajar mengajar, sebab mudah diperoleh tidak mahal dan efektif, serta menambah gairah dalam motivasi belajar siswa.

    B.      Rumusan Masalah
    Agar penelitian tindakan ini dapat lebih terarah, maka secara operational permasalahan penelitian ini difokuskan pada media gambar dan guru dalam pelaksananaan proses belajar mengajar, membaca di Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Secara rinci permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
    1.      Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak secara klasikal ?
    2.      Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok ?
    3.      Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah mereka mengikuti pembelajaran membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar?

    C.    Tujuan Penelitian
    Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan terjadinya peningkatan kemampuan membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
    1.      Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara klasikal.
    2.      Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok.
    3.      Menemukan terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar.

    D.    Lingkup Penelitian
    Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah kemampuan berbahasa dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak Kelompok B. penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo.

    E.     Definisi Operasional
    Untuk mendapatkan kesamaan arti pada penelitian ini dipertukarkan pendefinisian istilah :
    1.      Kemampuan berbahasa yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak kelompok B pada penelitian ini sesuai dengan materi yang terdapat pada kurikulum Taman Kanak-Kanak 2004 yaitu kemampuan membaca permulaan (pra membaca), sedangkan pelaksanaannya menggunakan pendekatan temaik dan pembelajaran yang berorientasi pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.
    2.      Yang dimaksud siswa mampu membaca permulaan (pra membaca) adalah siswa dapat menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya atau media gambarnya.

    F.     Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :
    1.      Siswa Taman Kanak-Kanak, agar mereka terbiasa dalam suasana kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
    2.      Bagi guru Taman Kanak-Kanak, dengan penerapan media gambar, guru memperoleh pengalaman baru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang berpusat pada anak.
    3.      Bagi peneliti, dapat membantu guru dalam mengatasi masalah dalam pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006


    PTK TK 007 PENGGUNAAN CELEMEK CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TK KELOMPOK A


    PENGGUNAAN CELEMEK CERITA UNTUK MENINGKATKAN
    KEMANDIRIAN ANAK TK KELOMPOK  A

    ABSTRAK
                Penggunaan celemek cerita untuk meningkatkan kemandirian anak adalah suatu usaha agar kegiatan pembelajaran di TK tidak monoton, membosankan, dan menjenuhkan. Dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran masih sangat tekstual, sehingga bentuk-bentuk analogi yang harus di kembangkan secara kontekstual masih terkesan staknasi. Akibat dari pembelajaran seperti itu, untuk mendongkrak agar anak bisa lebih mandiri dan dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain akan terhambat.
                Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucangonom – Sidoarjo.  2) Untuk mengetahui kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo. 3) Untuk mengetahu sejauh mana metode bercerita dengan alat peraga celemek cerita dalam meningkatkan kemandirian anak TK kelompo A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo.
                Adapun pendekatan metode penelitain  ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif, karena dalam penelitian ini l;ebih mengutamakan deskriptif analitik untuk memcahkan konsep-konsep di dalamnya, bukan mengunakan konsep-konsep numeric statistik.
                Dalam pelaksanaannya penelitian ini terbagi atas dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Siklus I memberikan pengajaran secara umum dan siklus II berkenaan dengan perumusan materi pembelajaran.
                Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajarn bercerita dengan menggunakan alat peraga celemek cerita yang di lakukan di TK kelomok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo dalam rangka untuk meningkatkan kemandirian anak adalah suatu pilihan yang tepat dan cermat. Hal ini dapat dilihat dari paparan data perkembangan  dari siklus I ke siklus berikutnya yang terdapat perkembangan secara signifikan. Dapat dilihat dengan jelas dari kemandirian anak yang mula-mula hanyamencapai 5% dengan penggunaan metode tepat dan cermat akhirnya merubah menjadi 100%

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

                Pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan yang menyenangkan dengan prinsip “belajar sambil bermain, bermain seyara belajar”. Berangkat dari sinilah pembelajaran yang ada di TK harus dicermati, sehinga apa yang diharapkan, yakni agar anak-anak lebih mandiri dalam segala hal sesuai dengan kapasitas anak bisa tercapai. Metode pengajaran yang tepat dan cermat akan mengarahkan anak-anak pada hasil yang optimal.
    Macam-macam metode pengajaran di antaranya adalah metode bercerita, permainan bahasa, sandiwara boneka, bercakap-cakap, dramatisasi, bermain peran,  karya wisata, demontrasi, metode pemikiran dan perasaan terbuka, dan pemanasan atau apersepsi
    Tiap-tiap metode tentu mempunyai tujuan secara khusus sekalipun kadang-kadang antara metode yang satu dengan metode yang lain mempunyai tujuan yang sama. Hal itu dapat dilihat dalam buku “Pedoman Guru Bidang Pengembangan Berbahasa di Taman Kanak-Kanak” yang dijelaskan:
    Metode bercerita mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih daya pikir, melatih daya konsentrasi, membantu perkembangan fantasi, menciptakan suasana menyenangkan, dan akrab di kelas.
    Metode permainan bahasa mempunyai tujuan anak mengerti apa yang dikatakan kepadanya, anak pandai memusatkan perhatiannya pada apa yang didengarnya, anak pandai menarik kesimpulan dan apa yang sudah didengarnya, dan anak suka mendengarkan pembicaraan orang lain.
    Metode sandiwara boneka mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih daya pikir, melatih daya konsentrasi, melatih membuat kesimpulan, membantu perkembangan intelegensi, membantu perkembangan fantasi, dan menciptakan suasana senang di kelas.
    Metode bercakap-cakap mempunyai tujuan mengembangkan kecakapan dan keberanian, menyampaikan pendapat kepada orang lain, memberi kesempatan untuk berekspresi secara lisan, memperbaiki lafal dan ucapan, dan mengembangkan intelegensi.
    Metode dramatisasi mempunyai tujuan memberi kesempatan yang sebaik-baiknya kepada anak untuk mengekpresikan diri dan memenuhi kebutuhan meniru.
    Metode mengucapkan syair mempunyai tujuan memupuk persamaan irama dan perasaan estetis, memperkaya perbendaraan kata, dan melatih daya ingatan.
    Metode bermain peran mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih daya konsentrasi, melatih membuat kesimpulan, membantu perkembangan intelegensi, membantu perkembangan fantasi, dan menciptakan suasana senang.
    Metode karya wisata mempunyai tujuan mengenal lingkungan secara langsung membantu perkembangan intelegensi, dan menambah perbendaraan bahasa.
    Begitu juga dengan metode-metode yang lain, misalkan metode demontrasi, metode pemikiran dan perasaan terbuka, maupun metode pemanasan atau apersepsi masing-masing tentu mempunyai tujuan khusus.
    Metode-metode tersebut adalah sebuah variasi atau pilihan dalam setiap melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh setiap pengajar, sehingga tidak akan terjadi lagi penggunaan metode yang telah ditentukan melenceng atau tidak sesuia dengan tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini misalkan metode cerita dibantu dengan alat peraga yang menarik dan unik akan merangsang siswa untuk betul-betul memperhatikan setiap apa yang akan  disampaikan oleh pengajar atau guru.
    Untuk menjadikan agar anak mandiri, agar anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain adalah suatu harapan bagi semua pihak baik dari pihak sekolah maupun pihak orang tua atau wali murid, karena kemandirian adalah suatu hal yang sangat menting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Agar tidak selalu  bergantung pada orang lain. Kemandirian adalah “Hal atau keadaan dapat berdiri sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.” (Tim.1996:555). Oleh karena itu metode bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita adalah sebuah pilihan yang tepat.

    B. Rumusan Masalah

    1.      Bagaimanakah metode pembelajaran bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom  Sidoarjo?
    2.      Sejauh manakah kemandirian anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanagom Sidoarjo
    3.      .Sejauh manakah metode pembelajaran bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo dalam meningkatkan kemandirian anak?

    C. Tujuan Penelitian

    1.      Untuk mengetahui pembelajaran bercerita dengat alat pegaga clemek cerita di TK Aisyiyah Athfal I  Pucanganom Sidoarjo.
    2.      Untuk mengetahui kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
    3.      Untuk mengetahui sejauh mana metode bercerita dengan alat peraga clemek cetita dalam meningkatkan kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.

    D. Hipotesis

                Berdasar atas rumusan masalah sebagai mana di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai beriku:
                Menggunakan metode pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita dapat meningkatkan kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.

    E. Lingkup Penelitian

                Agar dalam pembehasan ini tidak terlalu meluas, maka pembahasan hanya difokuskan pada penggunaan metode pmbelajaran bercerita dengan menggunakan alat peraga celemek cerita kaitannya dengan kemandirian anak TK kelompok A. Penelitian ini dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.

    F. Definisi Oprasional

                Agar tidak terjadi perbedaan arti, maka dalam penelitian ini diperlukan pendefinisian hal-hal sebagai erikut:
    1. Penggunaan clemek cerita yang diajarkan di TK Kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo adalah pengembangan atau variasi dari metode bercerita di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang menggunakan alat peraga tidak langsung, yakni benda tiruan, gambar guntingan-guntingan yang ditempelkan pada celemek yang terbuat dari kain flannel.
    2. Yang dimaksud dengan kemandirian dalam penelitian ini adalah siswa dapat melakukan sesuatu yakni dapat memakai sepatu dan baju tanpa bantuan orang lain atau guru (pada saat di sekolah).

    G. Kegunaan Penelitian

    1. Secara teoritis kegunaan penelitian ini dapat memperbanyak atau memperkaya tentang variasi metode pengajaran bercerita dengan penggunaan alat peraga tidak langsung di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di taman kanak-kanak..
    2. Bisa dipergunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pengajar dalam rangka untuk memberikan variasai pengajaran agar tidak menjenuhkan.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    PTK TK 06 INTEGRASI OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK


    INTEGRASI OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK ANAK SALEH XXX.

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1     Latar Belakang
    Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Pembelajaran di taman kanak-kanak bersifat spesifik didasarkan pada tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni.
    Kemandirian anak sebagai salah satu aspek perkembangan Bidang Pengembangan Pembiasaan Program Pembelajaran Taman Kanak-kanak Kurikulum 2004 mempunyai peran penting, karena aspek kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup (life skill), serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidup anak. Melalui pemberian rangsangan, stimulasi dan bimbingan, diharapkan akan meningkatakan perkembangan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik, sehingga akan menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat.
    Pembelajaran kemandirian anak yang diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui kegiatan-kegiatan  konkrit yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari mempunyai peranan penting. Namun keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang mengembangkan aspek kemandirian anak sering meresahkan guru Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx. Berdasarkan pengamatan mulai awal masuk sekolah sampai pertengahan semester I Tahun Pelajaran 2006/2007 menunjukkan bahwa kemandirian murid Kelompok A-1 masih kurang. Kondisi ini diindikasikan dengan anak tidak mau menerima tugas dari guru, dalam mengerjakan tugas tidak tuntas, anak kurang percaya diri mampu mengerjakan tugas sendiri dan selalu meminta bantuan guru, serta kurang antusias dalam kegiatan belajar mengajar. Penulis perlu mengatasi masalah tersebut dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

    1.2     Identifikasi Masalah
    Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu : (1) berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika; (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. (Puskur 2004 dalam Majid, 2005)
    Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri.
    Agar kemandirian anak dalam pembelajaran dapat meningkat, maka diusulkan penerapan integrasi outdoor learning dan indoor learning pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.

    1.3     Rumusan Masalah 
    Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah dalam penelitian ini, dikemukakan permasalahan sebagai berikut :
    Bagaimanakah integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.

    1.4     Tujuan
    Tujuan penelitaian tindakan kelas ini, sebagai berikut :
    Untuk mengetahui bagaimana integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.

    1.5     Hipotesis Tindakan
    Hipotesis dalam penelitaian tindakan kelas ini sebagai berikut : Integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK Anak Saleh Xxx.
    1.6     Manfaat Penelitian
    a.      Manfaat bagi anak didik :
    ·    Memberikan pengalaman belajar yang atraktif, berkesan dan bermakna.
    ·    Memberikan pengalaman belajar yang nyata dengan kegiatan outdoor learning dan indoor learning.
    ·    Meningkatkan kemandirian anak.
    b.      Manfaat bagi guru :
    ·    Meningkatkan kreatifitas guru dalam menemukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemandirian anak.
    ·    Meningkatkan peranan guru dalam mendampingi anak didik melakukan kegiatan pembelajaran, sebagai usaha mengatasi masalah kemandirian anak.
    c.      Manfaat bagi sekolah :
    ·      Memberikan masukan bagi peningkatan mutu pembelajaran yang kreatif dan inovatif di taman kanak-kanak.
    ·      Memberikan inspirasi untuk menggali dan mewujudkan model-model pembelajaran yang inovatif dengan mengoptimalkan potensi lingkungan sekitar taman kanak-kanak.
    ·      Sebagai sarana pengembangan dan peningkatan profesionalisme guru.

    1.7     Definisi Istilah
    Perlu adanya definisi istilah dalam penelitian ini, untuk menghindari kesalahan arti dan pemahaman bahasa :
    1. Integrasi outdoor learning dan indoor learning :  model pembelajaran yang memadukan pembelajaran diluar kelas (outdoor learning) dan pembelajaran didalam kelas (indoor learning) secara sistematis dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar berupa lingkungan sekitar taman kanak-kanak dan segala benda-benda yang mengandung informasi sebagai wahana anak didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku (kemandirian anak) melalui pengalaman belajar yang nyata dan menantang.
    2. Kemandirian anak :  kemampuan anak menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup (life skill), sebagai salah satu aspek perkembangan anak pada Bidang Pengembangan Pembiasaan Program Pembelajaran Taman Kanak-kanak Kurikulum 2004.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    PTK TK 05 - BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA


    BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA

     

    ABSTRAKSI

      
    Peningkatan ketrampilan berhitung dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat penting, mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah ketrampilannya dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan ketrampilan anak dalam berhitung/ membilang.
    Penelitian ini menggunakan metode deskriptif studi operasional/tindakan kelas dan dikenakan pada 28 anak didik Taman Kanak-kanak xxxx Kabupaten xxxxx Tahun 2006. Tindakan kelas yang dilaksanakan adalah model siklus. Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri dari 4 komponen yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana tindakan memuat berbagai cara yang dilakukan oleh guru. Tindakan kelas dilaksanakan guna meningkatkan ketrampilan matematika para peserta didik. Observasi merupakan upaya untuk merekam kegiatan yang terpadu selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan dampak dari hasil bermain kartu bilangan.
    Hasil tindakan kelas menunjukkan bahwa hasil kerja pada Siklus I terdapat 5 (18%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 23 (82%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. Pada Siklus II terdapat 20 (71%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 8 (29%)anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. pada Siklus III terdapat 26 (93%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 2 (7%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan.

    BAB  I

    PENDAHULUAN

    A.     Latar Belakang Masalah

    Pendidikan prasekolah berkembang tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara-negara berkembang. Saat ini banyak ditemukan pelayanan pendidikan prasekolah, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Berbagai alternatif program pendidikan untuk anak prasekolah, baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah, banyak ditawarkan, antara lain Taman Kanak-kanak, Tempat Penitipan Anak, dan Program Bina Keluarga dan Balita.
    Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan jamak dan kecerdasan spiritual. Untuk itu pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh.
    Usia anak-anak, yaitu antara 0-6 tahun, adalah usia emas untuk anak mempelajari berbagai hal di sekitarnya. Anak akan mempelajari sesuatu tidak dengan cara duduk tenang, mendengarkan keterangan-keterangan dari orang tua maupun guru, tetapi anak akan mempelajari sesuatu hal dengan cara bermain. Dalam kegiatannya saat bermain tersebut anak akan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak dia ketahui.
    Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai kegiatan bermain, maka proses pembelajarannya adalah pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan dan memberi kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktivitas dan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak usia dini.
    Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam pendidikan formal seperti Taman Kanak-kanak, pengajarnya adalah orang-orang yang telah mendapat pendidikan khusus, sedangkan dalam pendidikan non formal, pengajarnya bukanlah selalu orang yang berlatar pendidikan guru.
    Pembelajaran di Taman Kanak-kanak lebih banyak difokuskan pada bidang dasar (basic), yaitu membaca, menulis, dan berhitung yang dikenal dengan “Three Rs” (Tiga R), yaitu Reading, Writing, dan Aritmathic. Istilah “Back to Basic” yang sering didengar tidak lain merupakan istilah “Tiga R” tersebut, yang artinya mengembalikan fokus pembelajaran di Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar kelas awal kearah kegiatan membaca, menulis, dan berhitung. Di Indonesia “Tiga R” dikenal dengan istilah “calistung”, yaitu membaca, menulis, dan berhitung.
    Kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak tidak sekedar untuk mengembangkan “Tiga R”, tetapi untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, terutama aspek kognitif. Di samping itu matematika juga berfungsi untuk mengembangkan kecerdasan anak, khususnya kecerdasan yang oleh Gardner (dalam Rahayu, 1995 : 1) disebut Logico-mathematics. Kecerdasan Logico-mathematics menyangkut kemampuan seseorang menggunakan bilangan, operasi bilangan dan silogisme.
    Matematika atau berhitung merupakan hal yang akrab dalam kehidupan manusia. Setiap hari, bahkan setiap menit orang menggunakan matematika.        Belanja, menghitung benda, waktu, tempat, jarak, dan kecepatan merupakan fungsi matematis. Memahami grafik, tabel, berat, dan volume juga merupakan fungsi matematika. Dengan kata lain matematika sangat penting bagi kehidupan kita.
    Pada proses perkembangan pada anak usia dini, pada mulanya anak tidak tahu bilangan, angka dan operasi bilangan matematis. Secara bertahap sesuai perkembangan mentalnya anak belajar membilang, mengenal angka dan berhitung. Anak belajar menghubungkan objek nyata dengan simbol-simbol matematis. Sebagai contoh, sebuah jeruk diberi simbol angka “1” dan dua buah jeruk diberi simbol dengan angka “2”. Demikian pula simbol “+” yang berarti dijumlah dan simbol “-“ yang berarti dikurangi.
    Guru Taman Kanak-kanak perlu mengusai konsep-konsep matematika sederhana yang sesuai untuk anak Taman Kanak-kanak. Berbagai notasi matematis sederhana dan cara pengenalannya perlu dipahami secara     mendalam, agar dapat melatih anak berhitung dan menggunakan fungsi-      fungsi matematis lainnya. Menurut Piaget (Hibana, 1998 : 31), pengenalan matematika sebaiknya dilakukan melalui penggunaan benda-benda konkrit dan pembiasaan penggunaan matematika agar anak dapat memahami matematika, seperti berhitung, bilangan, dan operasi bilangan. Sebagai contoh, mengingatkan anak tentang tanggal hari ini dan menuliskannya di papan tulis akan melatih anak mengenal bilangan.
    Peningkatan ketrampilan berhitung dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat penting, mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah ketrampilannya dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan ketrampilan anak dalam berhitung/ membilang. Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam meningkatkan ketrampilan berhitung/matematika antara lain melalui bermain kartu bilangan.
    Berdasarkan uraian di atas, maka upaya meningkatkan ketrampilan matematika pada anak usia prasekolah merupakan hal yang penting. Hal ini mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dengan judul “BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA (Penelitian Pada Anak TK xxxxxxxxx)”.

    B.     Permasalahan

    1.       Identifikasi Masalah
    Berdasarkan uraian di atas maka dapat diidentifikasikan masalah penelitian, sebagai berikut :
    a.       Rendahnya ketrampilan anak dalam berhitung/matematika, sehingga pencapaian hasil belajar matematika kurang optimal.
    b.       Kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam menggunakan alat kartu bilangan yang mengakibatkan rendahnya ketrampilan anak dalam berhitung/membilang.
    c.       Untuk meningkatkan ketrampilan berhitung/membilang dalam area matematika, dapat diupayakan melalui bermain kartu bilangan.
    2.       Pembatasan
    a.       Bermain kartu bilangan untuk meningkatkan ketrampilan anak, merupakan upaya memberikan bantuan oleh seorang guru/pembimbing kepada anak yang kurang trampil dalam berhitung/matematika.
    b.       Pelaksanaan bantuan tersebut dengan memanfaatkan kartu bilangan sebagai usaha/pengalaman langsung pada anak.
    c.       Bermain kartu bilangan adalah sebagai pendorong semangat belajar dalam berhitung, membilang, dan menghubungkan.
    3.       Perumusan Masalah
    a.       Bagaimanakah upaya meningkatkan permainan berhitung melalui bermain kartu bilangan dilaksanakan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxx?
    b.       Apa kendala yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya dalam upaya meningkatkan permainan berhitung melalui bermain kartu bilangan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxxx?
    4.       Cara Pemecahan Masalah
    Untuk menjawab permasalahan penelitian, maka dilakukan tindakan kelas dengan model Siklus. Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri dari 4 komponen yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana tindakan memuat berbagai cara yang dilakukan oleh guru. Kegiatan ini dilakukan oleh anak guna meningkatkan ketrampilan dalam berbagai hal. Observasi merupakan upaya untuk merekam kegiatan yang terpadu selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan dampak dari hasil bermain kartu bilangan.

    C.     Tujuan Penelitian

    1.       Untuk mengetahui upaya peningkatan ketrampilan berhitung melalui bermain kartu bilangan dilaksanakan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxxx.
    2.       Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dan cara mengatasinya dalam upaya meningkatkan ketrampilan berhitung melalui bermain kartu bilangan di Taman Kanak-kanak xxxxxxxxxx.

    D.    Manfaat Penelitian

    1.       Sebagai bahan latihan dalam rangka belajar menganalisa suatu permasalahan dengan menerapkan teori-teori dan materi yang didapat dari perkuliahan.
    2.       Untuk lebih mengetahui pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Tamak Kanak-kanak pada umumnya dan upaya meningkatkan ketrampilan berhitung melalui bermain kartu bilangan pada khususnya.
    3.       Hasil penelitian dapat digunakan bahan masukan bagi Taman Kanak-kanak XXXXXXXX.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    PTK TK 04 MENINGKATKAN MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN DARI BAHAN SISA


    MENINGKATKAN MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN DARI BAHAN SISA PADA ANAK KELOMPOK A DI TAMAN KANAK – KANAK PEMBINA 2 XXX

    ABSTRAK


    Pendidikan adalah “ Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan  suasana belajar dan proses  pembelajaran agar peserta  didik  secara  aktif   mengembangkan potensi  dirinya untuk  memiliki  kekuatan  spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan  yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Pada kenyataannya di sekolah banyak  peserta didik  yang  kurang  berminat saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Mereka kelihatan kurang bergairah, tidak bersemangat dan kurang menyenangi materi yang disampaikan. Oleh karena itu perlu dicari apa penyebabnya dan bagaimana agar siswa bergairah dan merasa senang mengikuti proses pembelajaran. Salah satu upaya yang akan penulis lakukan adalah mencoba menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
    Sesuai dengan permasalahan dan upaya pemecaham masalah tersebut di atas maka judul penelitian tindakan kelas yang akan peneliti lakukan adalah “ MENINGKATKAN MINAT BELAJAR UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN DARI BAHAN SISA PADA ANAK KELOMPOK A DI TAMAN KANAK – KANAK PEMBINA 2 XXX “. Pentingnya masalah ini diteliti yaitu untuk mengetahui apakah dengan menggunakan PAKEM dapat meningkatkan minat anak terhadap proses pembelajaran.
    PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yang melibatkan siswa kelompok A di Taman Kanak – Kanak Pembina 2 Xxx yang didukung oleh guru – guru yang tergabung di TK Pembina 2, yang dua orang diantaranya bertindak sebagai observer pada waktu pelaksanaan PTK. Setelah PTK selesai hasilnya dapat disimpulkan sebagai     berikut:
    1.      Dengan pembelajaran PAKEM melalui permainan dari bahan sisa dapat meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi yang relevan.
    2.      Dengan PAKEM dapat membuat siswa lebih bersemangat dan tidak merasa bosan mengikuti proses pembelajaran.
    3.      Dengan menggunakan permainan dari bahan sisa proses pembelajaran lebih hidup karena siswa lebih banyak aktif.


    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Pendidikan di Taman Kanak – Kanak adalah “ suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.“
    Taman Kanak – Kanak  sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran anak usia 3 – 6 tahun yang sering disebut masa emas perkembangan. Di samping itu, pada anak usia ini anak – anak masih sangat rentan yang apabila penanganannya tidak tepat justru dapat merugikan anak itu sendiri.
    Dalam kenyataannya minat belajar anak saat proses belajar mengajar sedang berlangsung belum optimal. Proses pembelajaran yang terjadi saat ini yaitu bermain sambil belajar seraya belajar sambil bermain.
    Karena bermain adalah realisasi dari perkembangan diri dari kehidupan anak dapat tumbuh dan berkembang melalui berbagai kegiatan yang dilakukan anak pada waktu bermain dan melalui pengalaman anak dapat mengembangkan potensi – potensi yang dimilikinya melalui bermain. Selanjutnya dengan bertambahnya usia anak dapat dengan sadar menyerap stimulasi lingkungan dan mulai dapat mengorganisasikan serta melakukan generalisasi terhadap pengalaman yang diperoleh.

    1.2 Masalah
    Masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran dari judul yang telah dikemukakan adalah :
    1.      Keterbatasan adanya alat praga.
    2.      Kurangnya minat belajar.

    1.3 Rumusan Masalah
    1.      Apakah proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAKEM ) melalui permainan dari bahan sisa dapat membangkitkan minat anak kelompok A di Taman Kanak – Kanak Pembina 2.
    2.      Apakah penerapan PAKEM dapat meningkatkan kemampuan anak kelompok A di TK Pembina 2 dalam melakukan proses pemebelajaran.

    1.4 Tujuan
    1.     Untuk mengetahui proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan melalui permainan dari bahan sisa dapat membangkitkan minat anak.
    2.     Meningkatkan minat anak kelompok A di TK Pembina 2 Xxx dalam mengikuti proses pembelajaran.
    3.     Meningkatkan kemampuan anak untuk lebih aktif dan kreatif.

    1.5 Manfaat                                                                                                                       
    Dengan penelitian tindakan kelas melalui PAKEM, melalui permainan dari bahan sisa diharapkan terjadi perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran secara lebih rinci manfaatnya adalah :
    1. Bagi pesertas didik, diharapkan mereka dapat tertarik dan senang menngikuti proses pembelajaran sehingga timbul minat untuk bernain sambil belajar mereka dihadapkan pada gambar menarik yang sesuai dengan materi pembelajaran. Mereka akan lebih mengenal berbagai macam lambang bilangan dan gambar – gambar dan dapat menyebutkan kembali isi gambar tersebut . setelah mereka menggunakan alat praga diharapkan pula kegiatan belajar mengajar bila lebih hidup semula siswa itu aktif, sehingga hasil kegiatan belajar mengajar akan lebih baik dan kemampuan perubahan perilaku peserta didik akan lebih meningkat.
    2. Bagi guru, proses pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas mengajar, karena guru dituntut untuk menyusun program pembelajaran, kemudian harus menyiapkan berbagai gambar yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan. Guru juga akan lebih ringan di dalam melaksanakan tugas mengajarnya, karena yang lebih aktif adalah siswa dan guru hanya mengarahkan saja..
    3. Bagi sekolah, diharapkan dengan meningkatkan minat anak, dalam proses pembelajaran, siswa akan lebih tertarik, lebih semangat, lebih senang dan bergairah dalam belajar, sehingga hasil belajarnya pun akan lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya diharapkan mutu pendidikan di sekolah dapat meningkat.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    PTK TK 03 - PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK DINI USIA PADA PLAY GROUP PERMATA BUNDA SKB


    PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK DINI USIA PADA PLAY GROUP PERMATA BUNDA SKB MOJOAGUNG JOMBANG TAHUN PELAJARAN 2006/2007

    ABSTRAK

    Latar belakang pemilihan masalah dalam judul skripsi ini adalah kurangnya perhatian terhadap anak dini usia pada pola perkembangannya, serta ingin mengetahui perkembangan motorik anak yang sangat penting dalam proses pembentukan anak yang dipengaruhi oleh beberapa unsur antara lain otak, syaraf, dan otot. Perkembangan motorik ini dibahas dengan tujuan dapat mendiskripsikan (1) Perkembangan mororik halus dan motorik kasar path anak dini usia (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak dim usia.
    Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian mendeskripsikan. Data dalam penelitian ini berupa perkembangan mororik halus dan motorik kasar pada Play Group “Permata Bunda” Mojoagung, Jombang serta orang tua dengan menggunakan penelitian populasi. Data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi partisipan, dokumentasi, wawancara dan dianalisis dengan menggunakan teknik reduksi data dengan langkah-Iangkah (1) Pengumpulan data, (2) Kiasifikasi data, (3) Pendeskripsikan.
    Hasil menunjukkan bahwa (1) Perkembangan motorik halus dan motorik kasar anak dini usia pada Play Group “Permata Bunda” dikategorikan baik karena dari jumlah anak yang telah diteliti sebagian besar mampu melakukan kegiatan yang bersifat berkala, (2) Faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik antara lain lingkungan keluarga, karena keterkaitan keluarga sangat diperlukan dalam proses perkembangan mororik anak. Sedangkan faktor lain adalah hereditas baik gizi maupun pembawaan sejak lahir yang dialami anak. Saran yang diutarakan kepada orang tua, hendaknya lebih memperhatikan perkembangan anak serta pola asuh orang tua dituntut untuk berfikir dan berinisiatif untuk anak tidak bersifat menunggu serta bagi Play Group, hendaknya lebih menetapkan pada unsur pembentuk perkembangan motorik antara lain otak, syaraf, otot dan alat permainan yang dapat merangsang perkembangan anak. Bagi peneliti selanjutnya sebagai dasar untuk meneliti dalam bahasan yang lebih luas.


    BAB I
    PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang
    Pertumbuhan dari perkembangan anak usia dini merupakan masa yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia dimasa depan. Dengan demikian, untuk menyiapkan sumber daya yang berkualitas perlu diberikan stimulus secara holistik dari proporsional kepada anak sehingga memberikan hasil yang optimal dalam pertumbuhan dari pekembangannya. Konsep tersebut sejalan tujuan dari pembangunan nasional yaitu membangun manusia seutuhnya. Artinya membangun bukan saja ditujukan untuk mengejar kemajuan fisik, melainkan membangun sumber daya manusia dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas. Menurut Fasli Jalal (Buletin Padu,2002:9) bahwa tantangan yang harus dijawab diantaranya dengan ketersediaan sumber daya manusia yang sanggup menghadapi tantangan yang ada. Pengembangan sumber daya manusia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang antara lain ditandai oleh semakin meningkatnya mutu kehidupan bangsa dari martabat bangsa Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia. Secara umum permasalahan pendidikan yang sangat mendasar masih berkisar pada belum tercapainya pemerataan dan rendahnya kualitas hasil pendidikan.
    Rendahnya kualitas hasil pendidikan juga berdampak terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia.
    Menurut laporan UNDP (United Nation Development Program). (Buletin PADU, 2002:37) tentang Human Development Index (UDI) pada tahun 2003 Indonesia menempati peringkat 112 dari 175 negara yang diteliti, jauh dibawah Negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (58), Thailand (74), bahkan juga tertinggal dari Vietnam (109), Fhilipina (25). Hal ini sangatlah diperlukan peningkatan mutu pendidikan, sebab kemajuan suatu Negara juga bergantung pada majunya pendidikan. Jadi, Keikutsertaan dari semua pihak sangat diperlukan karena demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pendidikan, sekaligus menjawab tantangan globalisasi dari pemberlakuan otonomi daerah. Jaringan kemitraan yang luas di setiap institusi masyarakat, mulai dari pusat sampai tingkat grass root merupakan wujud atas keberlangsungan suatu program di masyarakat.
    Kenyataan tersebut terbukti dengan kepedulian pemenntah terhadap pendidikan anak dini usia didukung melalui UU Sisdiknas bagian tujuh pada pasal 28 ayat 1 menyebutkan pendidikan anak dini usia diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dari Keppres no 177 tahun 2000 yang telah berusaha membentuk Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang bertugas “menyiapkan bahan-bahan rumusan kebijakan dari standarisasi teknis serta memberikan bimbingan teknik dari evaluasi dibidang pendidikan anak dini usia”
    Penanganan anak dini usia tidak cukup hanya ditangani oleh satu sektor saja karena ada tiga hal utama yang berkaitan dengan perkembangan dari pertumbuhan anak dini usia yaitu: (1) Pendidikan, adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan secara umum diakui bahwa tingkat pendidikan seseorang merupakan indikator tingkat kemampuan berfikimya. Begitu vitalnya pendidikan dalam kehidupan manusia sehingga tidak salah jika ada yang berpendapat pendidikan memasuki kehidupan manusia mulai saat dalam kandungan hingga akhir hayatnya yang pada akhimya memunculkan konsep pendidikan seumur hidup (life long education). (2) Gizi dari kesehatan , dijabarkan dalam bentuk peningkatan kemampuan intelektual dari prosuktivitas kerja. Pembenan gizi yang baik sangat penting bagi tumbuh kembangnya pada setiap periode pertumbuhan mulai dari masa konsepsi sampai lahir dari seterusnya (Buletin PADU, 2002:13), ketiga aspek tersebut merupakan pilar perkembangan anak dini usia. Sosialisasi PADU tidak hanya ditangani melalui pendidikan formal saja, melainkan keikutsertaan masyarakat sangat berarti. Pembukaaan sarana belajar seperti play group (untuk tumbuh kembang hubungan dari daya kreatifitas dan juga melatih daya motorik anak.
    Penyelenggaraan pendidikan anak dini usia dilandasi oleh filosofi demi kepentingan terbaik untuk anak dengan betul-betul memahami karakteristik, cara belajar mengajar, lingkungan belajar yang ideal. Pada masa seperti ini juga adanya tantangan hebat yang mendunia, maka generasi baru yang ingin diwujudkan oleh bangsa Indonesia juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan masa lampau. Beberapa karakteristik generasi baru Indonesia adalah memiliki daya kompetensi yang tinggi, kemampuan adaptasi yang baik , dan memegang nilai-nilai dasar yang sudah dimiliki bangsa Indonesia.
    Begitu juga dalam proses belajar mengajar hendaknya disesuaikan dengan kurikulum berbasis kompetensi, dalam arti anak lebih peran aktif dalam proses belajar. Diciptakan lingkungan yang kurang nyaman atau terlalu ramai maka anak dalam menerima pembelajaran kurang efektif.
    Pola perkembangan yang tepat merupakan dasar untuk memahami anak. Tujuan perubahan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan genetik, dari dapat meningkatkan aspek perkembangan anak antara lain: Fisik, perkembangan motorik, perkembangan bicara, emosi, perkembangan sosial, perkembangan bermain, kreatifitas, perkembangan pengertian, moral, minat, perkembangan peran sex, kepribadian, perkembangan fisik otak, perkembangan intelektual, perkembangan bahasa, perkembangan hubungan sosial keluarga.
    Perkembangan-perkembangan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan anak. Dari sini perkembangan motorik sangat ditentukan oleh unsur-unsur syaraf, otot dari otak. Ketiga unsur tersebut melaksanakan masing-masing peranannya secara interaksi positif, artinya unsur-unsur yang berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi, dengan unsur lainnya untuk mencapai kondisi motorik yang lebih sempurna. Selain mengandalkan kekuatan otot, rupanya kesempurnaan otak juga menentukan keadaan. Anak yang pertumbuhan otaknya mengalami gangguan tampak kurang terampil menggerak gerakkan tubuhnya.
    Perkembangan motorik tidak saja mencakup berjalan, berlan, melompat, naik roda tiga, mendorong, menarik, memutar, namun juga melibatkan hal-hal seperti menggambar, mencatat, mencoret dari kegiatan lain. Keterampilan motorik berkembang pesat pada usia dini.
    Kemampuan keseimbangan membuat anak mencoba berbagai kegiatan dengan keyakinan yang besar akan keterampilan yang dimilikinya. Anak mampu memanipulasi objek kecil seperti potongan puzzle. Maka juga bisa menggunakan balok-balok dalam berbagai ukuran dari bentuk.
    Anak usia lima tahun belajar permainan lebih melibatkan ketrampilan motorik. Anak suka sekali masuk dari keluar kotak besar, dibawah meja, bersembunyi dari sesuatu. Kegiatan ini menggunakan bola, permainan atau orang. Anak amat menyukai gerakan-gerakan yang membangkitkan semangat. Untuk itu mereka tidak butuh berlama-lama. Sehingga yang cocok usia ini permainan yang merangsang kegemaran mereka akan gerakan-gerakan bukan permainan kompetisi (Reni 2001:7)
    Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih luas tentang perkembangan motorik anak dengan mengambil judul “Perkembangan Motorik Anak Dini Usia pada Play Group Permata Bunda SKB Mojoagung Jombang Tahun Ajaran 2006/2007”.

    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    PTK TK 02 - THE INFLUENCE OF VOCABULARY TEACHING USING GAMES ON THE VOCABULARY MASTERY OF THE AISYIAH KINDERGARTEN


    THE INFLUENCE OF VOCABULARY TEACHING USING GAMES ON THE VOCABULARY MASTERY OF THE AISYIAH KINDERGARTEN

    CHAPTER I
    INTRODUCTION

    A.      Background of the Study
    As a foreign language in Indonesia, English is seriously learned by many people to have a good prospect to be the community of international world. It can be seen that English is taught from elementary school, up to the higher education (SLTP, SMU, Universities). Now days in line with the Indonesia government's plan to the nine-year basic education, English teaching at elementary school has been possible based on the 1994 curriculum of elementary school.
    Considering the needs of mastering English, it is very important to start learning English as early as possible. Now days, parents who have realized about the importance of English, want their children start learning English earlier. Many parents in Indonesia send their young children of pre­school's age (3-6 years old) for many English oriented pre-schools or to the kindergartens. Krasnegor (in Badib, 1991: 351) states that infants can distinguish many phonetic contrast of a speech at a very yo.ing age. It means that the earlier one starts to learn English, the better the result he/she will achieve.
    But, teaching English to pre-school children is not easy and it needs patience. The process of teaching children or young learner is different from the process of teaching adults. Clark and Clark (in Fauziati, 2002: 171) state that the language used talk to young children is about “here and now”. Adults talk about the object for children interest in: they name them, describe their properties, and talk about relation between objects. To make sure young children understand what adults say, adults alter the way they say what they say to children. They do this in three ways: they slow down, they use short simple sentences, and they repeat them frequently. These ways of talking to children should be seriously considered in teaching English to very young learners.
    To reach a good development in teaching learning process, teachers should create various teaching techniques to increase the motivation of children. The variety of teaching techniques will help very young learners feel amusing in learning situation. One of the techniques to teach the children is using games.
    Games should be applied in the process of learning a anguage. Games are appropriate to be played by everybody who learns a language. Games and game-like activities can be a useful medium for teaching foreign language to children. Instead of having a fun the children also learn a new language. David (2003: 49) states that games play a central role in a child-centered lesson and make it possible for children to fully immerse themselves in learning.
    In learning English, children should realize what they do when they receive the language assignments. They must be led to understand assignments that are connected to their habit of using their own language to enrich their vocabulary. Mujiono (1993: 83) states:
    Vocabulary in English as a foreign language is taught at school for the purpose of providing the students language skills. They are listening, reading, speaking, and writing. Some general statements say that the techniques of teaching reading comprehension and others (Listening, Speaking, Reading, and Writing) are vouched on vocabulary.

    The statement above shows that vocabulary is one of the elements of a language.
    As the number of vocabulary items, which are the students to master expect indicate that there is a difference between those needed for production skill in foreign language especially speaking and writing. And those needed for recognition skill, particularly reading and listening. On this point, Lado (in Ernawati, 2002: 8) mentions as following:
    At present it is possible to guest that a speaking vocabulary of 2000 world like that of general service list of English words, is an adequate minimum number for the purpose of basic communication for reading. However, a vocabulary for writing and listening should better be got at 3000 to 4000 than 2000.

    It is realized that in the production level, the students can select any phrase within their range of vocabulary that they do not know. In production level, however, they are forced to know all the words the: read or hear in order to communicate smoothly.
    Teaching vocabulary should use effective techniques to teach the material from the book that they are using. They will know the strength and weakness of their material, and will be able to improve their teaching.
    Based on the explained above the writer is interested to conduct a research about “The Influence of Vocabulary Teaching using Games on the Vocabulary Mastery of the AISYIAH Kindergarten.”
    B.     Review of Previous Study
    In this study, the writer summarizes the relevant previous researcher to prove the originality of' this study. They are Siti Ernawati (2002) and Dain Nurfika (2002).
    The first researcher is Siti Ernawati (2002) studies about “Teaching Vocabulary Using Pictures at the First Year Students of MTS N Walen Simo Boyolali”. She focuses the study on the effectiveness of pictures as a means to teach vocabulary.
    The second researcher is Dain Nurfika (2002) in f is study entitled “Teaching Speaking Using Games and Role-play to the Students of Conversation Class at SMU Al-Islam 3 Surakarta.” The aims of his study are to find the right procedures in teaching speaking using games and Role-play and to know the teaching learning process in the classrooms, especially the implementation of Teaching Speaking Using Games and Role-play to the Students of Conversation Class at SMU Al-Islam 3 Surakarta.
    From those literatures writer review above the writer uses the same media but different in an instrument. The writer research is about The Influence of Vocabulary Teaching with Games on the Vocabulary Mastery of the AISYIAH Kindergarten.

    C.    Problem Statement
    Based on the background of the study the writes formulates the problems as follows:
    1.      How is the process of teaching vocabulary using games to the AISYIAH Kindergarten?
    2.      What is the result of teaching vocabulary using games to the AISYIAH Kindergarten?

    D.    Limitation of the Study
    In Kindergarten, there are many interesting aspects to study, but the writer only focuses on the effectiveness of games as a means to teach vocabulary.

    E.     Objective of the Study
    Based on the research problem, the purposes of the study are:
    1.         To describe the process of teaching vocabulary using games in AISYIAH Kindergarten.
    2.         To describe the result of teaching vocabulary using games in AISYIAH Kindergarten.

    F.     Benefit of the Study
    The writer expects that the research paper has some benefits in theoretical and practical.
    1. The theoretical advantages:
    a.       The result of the research paper can be used as an input in English teaching learning process especially in teaching vocabulary.
    b.      The result of the research can be used as the reference for those who want to conduct a research in English teaching learning process.
    1. The practical advantage:
    The English teachers can use the result of the research when they teach the pupils of kindergarten in improving vocabulary.

    G.    Paper Organization
    The study will be organized as follows:
    Chapter I is Introduction. It includes the background of tht study, review of previous study, problem statement, limitation of the study, objective of the study, benefit of the study, and research paper organization. Chapter II is Underlying Theory. It discusses the notion of vocabulary, kinds of vocabulary, the characteristics of the young children, general nature of teaching vocabulary, the general concept of games, and action hypothesis. Chapter III is Research Method. This covers type of research, the instruments for gathering the data, subject of the study, object of the study, and the techniques of analyzing data. Chapter IV is analysis and discussion. Chapter V consists of conclusion and suggestion.


    Untuk mendapatkan file PTK / Skripsi / Thesis lengkap
    dalam format Ms. Word.
    Hubungi : 085728916006

    DOWNLOAD

    KATALOG PTK TK
    Download
    KATALOG PTK SD
    Download
    KATALOG PTK SMP
    Download
    KATALOG PTK SMA
    Download
    KATALOG PTS
    Download
    Bikin PTK/PTS

    Download form penyusunan PTK/PTS

    Download

    Start Work With Me

    Kontak langsung via WA


    Penelitian Tindakan Kelas
  • PTK SD
  • Penelitian Tindakan Kelas SD/MI

  • PTK SMP
  • Penelitian Tindakan Kelas SMP/MTs

  • PTK SMA
  • Penelitian Tindakan Kelas SMA/MA/SMK


    Experience
    Lead Developer

    State Art company

    UI/UX Developer

    Design Corporation

    Front-End Developer

    Creative Design Studio


    My Skills
    Penyusunan PTK
    Penyusunan PTS
    Contoh PTK
    Contoh PTS
    Contact Us
    Jasa Pintar
    0857 2891 6006 (WA Only)
    Surakarta, Jawa Tengah
    Hubungi kami melalui form ini (Mohon lengkapi dengan alamat email dan nomor WA)

    Blog Archive