Tampilkan postingan dengan label PTK SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK SMA. Tampilkan semua postingan
Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pemahaman Pokok Bahasan Integral Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas III IPA-1 SMU Negeri XXX Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar harus diarahkan pada aktifitas pengajaran yang mampu mengembangkan segala potensi dan kreatifitas siswa. Tinggi rendahnya tingkat kreatifitas belajar siswa di sekolah banyak dipengaruhi oleh interaksi komponen-komponen pembelajaran.
Pengajaran bukan hanya memindahkan pengetahuan ke generasi muda, atau hanya proses perubahan kebudayaan dan mengembangkan kepribadian. Pengajaran siswa yang baik melibatkan siswa secara aktif dan meniadakan pandangan bahwa siswa sebagai makhluk pasif. Guru sebagai pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
Pembenahan dalam pembelajaran perlu dilakukan, yaitu pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan media dan penanaman konsep yang benar. Pembaharuan bersifat memperbaiki dan menyempurnakan yang telah ada. Hasil yang diharapkan dengan adanya pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan metode dan penanaman konsep yang benar adalah tujuan pengajaran yang belum tercapai dapat diselesaikan dan dapat memperbaiki pemahaman konsep yang salah pada diri siswa.
Pembenahan sistem pengajaran harus mampu membangkitkan minat para siswa untuk belajar lebih aktif. Pembaharuan pengajaran, penerapan metode yang tepat, penyediaan media pengajaran terutama harus dilakukan dalam pendidikan matematika, karena dalam pendidikan matematika secara umum masih banyak kendala dan masalah yang dihadapi, misalnya nilai anak untuk mata pelajaran matematika rendah, pelajaran matematika belum mempunyai makna sebagai bagian dalamkehidupans ehari-hari, pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru masih cenderung bersifat konfensional, minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika, minimnya daya inovatif, kreatifitas dalam pembelajaran matematika menjadikan mata pelajaran ini tidak disukai anak.
Menurut Bloom yang dikutip oleh Djauzak Ahmad (1994 : 9), “Ketuntasan pembelajaran siswa dapat ditunjukkan dengan meningkatkan kemampuan intelektual yang terdiri dari: ingatan, pemahaman, penerapan analisis, sintetis, dan evaluasi”.
Dari data di SMU NEGERI 1 MADIUN, ternyata prestasi pembelajaran matamatika siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), baik secara individual maupun secara klasikal. Hal ini disebabkan karena di dalam kegiatan belajar hanya mengandalkan teori dan kurang menyadari pentingnya pendekatan pembelajaran yakni metode pembelajaran.
Metode pembelajaran dalam matematika ini banyak sekali yang tepat dan sesuai dengan tuntutan perkembangan pembelajaran matematika. Metode-metode pembelajaran matematika yakni metode demontrasi, metode pemecahan masalah, metode drill dan latihan, metode penemuan, metode tanya jawab, metode inkuiri dan sebagainya.
Berdasarkan kajian latar belakang masalah tersebut di atas, maka ditemukan permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMU Negeri 1 Madiun sebagai berikut:
1. Prestasi matematika siswa SMU Negeri 1 Madiun masih tergolong rendah.
2. Pelajaran matematika belum memiliki makna sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit.
4. Pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru masih bersifat konvensional.
5. Minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral.
6. Minimnya guru dalam pembelajaran menggunakan media atau alat peraga.
Agar kualitas pendidikan anak meningkat maka seorang guru harus tahu pentingnya metode pembelajaran. Ada tiga cara utama dalam belajar yaitu model visual, auditorial, dan kinestetik. Visual adalah belajar melalui indra penglihatan. Auditorial adalah belajar melalui indra pendengaran. Kinestetik adalah belajar melalui peraba dan penglihatan. Dari ketiga cara tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana dan tidak kalah pentingnya dengan metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi ini ketiga cara turut bisa menyatu sehingga belajar anak lebih maksimal. Dalam hal ini penulis mencoba menerapkan metode demonstrasi dalam pemahaman integral guna meningkatkan prestasi belajar matematika kelas III IPA-1 di SMU Negeri 1 Madiun.
Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demontrasi aktivitas murid lebih banyak dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru akan lebih berkurang. Ciri metode demontrasi tampak dengan adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan dalil, atau menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, maka guru dan murid sama-sama berperan dalam proses pembelajaran.
Pengajaran matematika akan menunjukkan hasil memuaskan, jika pengajaran mampu menyampaikan konsep dengan benar, mampu memilih pendekatan dalam mengajar dengan benar. Matematika tidak akan menjadi sulit jika sejak dini ditanamkan dan diawali dengan penyampaian konsep-konsep secara benar. Hal yang perlu diperhatikan adalah penanaman konsep pada anak yang benar, pembelajaran yang menyenangkan, dihadapkan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya serta benda yang sesungguhnya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka judul dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS III SMU NEGERI 1 MADIUN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2003/2004”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah dengan penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar matematika konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang penulis harapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
“Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004 melalui metode demonstrasi”
D. Manfaat Penelitian
Hasil pelaksanaan penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika akan memberikan manfaat yang berarti, yaitu:
1. Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika ini, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan metode demonstrasi. Dengan penelitian ini diharapkan guru dapat memberikan penanaman konsep yang benar.
2. Bagi Siswa
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun dalam meningkatkan pemahamannya terhadap konsep penyelesaian integral. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi Sekolah
Setelah keberhasilan penelitian ini yakini penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Lie. 2005. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Gramedia.
Arifin Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya
Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.
Gredler, Margaret E. Ball. 1991. Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali
Herman Hudojo, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.
Koko Martono, R. Eryanto, Firman Syah Noor, (2007). Matematika dan Kecakapan Hidup, Untuk SMA 12A. Bandung : Ganeca Exact.
Prasetyawan Irawan, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar. Jakarta: Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruktisional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rini Budiharti. 2001, Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : UNS Press.
Siti Choiriyah. 2006. Acuan Pengayaan Matematika. Solo : Sindhunata
UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia
Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES) PADA PERMAINAN VOLLEY BALL SISWA KELAS XI A MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM BASED LEARNING DI SMAN 1 BANTUL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan yang serba maju, modern dan serba canggih seperti saat ini, pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia-manusia berkualitas yang akan mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional. Dalam pasal 20 UU tahun 2003, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang berkualitas dengan ciri-ciri beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU no 20 tahun 2003).
Kini semakin disadari bahwa pendidikan memainkan peranan yang sangat penting didalam kehidupan dan kemajuan umat manusia. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap individu, yang mempengaruhi perkembangan fisiknya, daya, jiwa, sosial dan moralitasnya, atau dengan perkataan lain, pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam mempengaruhi kemampuan, kepribadian dan kehidupan individu dalam pertemuan dan pergaulannya dengan sesama, serta hubungannya dengan Tuhan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Mutu pendidikan sangat erat hubungannya dengan mutu siswa, karena siswa merupakan titik pusat proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam meningkatkan mutu pendidikan harus diikuti dengan peningkatan mutu siswa. Peningkatan mutu siswa dapat dilihat pada tingginya tingkat prestasi belajar siswa, sedangkan tingginya tingkat prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh besarnya minat belajar siswa itu sendiri.
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum disusun untuk mendorong anak berkembang ke arah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini dicoba diwujudkan dalam kurikulum tiap tingkat dan jenis pendidikan, diuraikan dalam bidang studi dan akhirnya dalam tiap pelajaran yang diberikan oleh guru di dalam kelas.
Dalam mencapai tujuan pendidikan ini, pemerintah menggagas diberlakukannya kurikulum baru yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah. KTSP tersebut memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.
Selain itu penggunaan metode pembelajaran yang mengajarkan siswa dalam pemecahan masalah, terutama pemecahan masalah dalam kehidupan sehari- hari masih kurang. Pengembangan metode pembelajaran tersebut sangat perlu dilakukan untuk menjawab kebutuhan keterampilan pemecahan permasalahan yang harus dimiliki oleh siswa. Metode pembelajaran problem based learning atau pemecahan masalah kegunaannya adalah untuk merangsang berfikir dalam situasi masalah yang komplek. Dalam hal ini akan menjawab permasalahan yang menganggap sekolah kurang bisa bermakna dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Penggunaan metode dalam pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, merangsang siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui metode problem based learning diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Bantul masih termasuk tradisional karena kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi, sehingga siswa merasa bosan dalam megikuti proses pembelajaran. Hal itu diketahui dari hasil survei yang telah dilakukan. Dari hasil survei tersebut bahwa pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) kurang diminati oleh siswa. Dalam proses pembelajaran terlihat masih rendah perhatian siswa, siswa kurang berpartisipasi, sedangkan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi.
Diharapkan dengan menggunakan metode problem based learning dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) akan menarik minat siswa mengikuti kegiatan belajar sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang terjadi di SMAN 1 Bantul sebagai berikut:
- Masih rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
- Masih rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
- Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) masih didominasi dengan metode ceramah.
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan yang akan diteliti dibatasi pada masalah hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) dan belum digunakannya metode problem based learning.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
- Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A dengan menggunakan metode problem based learning di SMAN 1 Bantul?
- Bagaimana peningkatan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball yang terjadi pada siswa kelas XI A setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode problem based learning?
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul melalui penerapan Problem based learning.
2. Mendapatkan bukti-bukti bahwa penerapan Problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Bertambahnya khazanah keilmuan yang berkaitan dengan metode pembelajaran Problem based learning.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
1) Mampu menganalisa terjadinya permasalahan-permasalahan pembelajaran dan mampu mengatasi permasalahan tersebut.
2) Mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan kemandirian siswa.
b. Bagi peneliti
Dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan.
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Sayogyani, 2002. Teknik Permainan Bola Besar. Surabaya: Apollo
Mosston, V. 1994. Foundamentals of Teaching Methods. New York: Harvard University
H.A. Furqon. 1968. Kiat-Kiat Menjadi Guru. Jakarta: Pradnja Paramita
Abdullah Rusman. 2011. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Sybilla Aunurrahman. 2011. Pembelajaran yang Efektif. Jakarta: Rineka Cipta
M.A. Hubermen dan P. Miles. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI Press
Ridwan H.M. 2001. Penelitian Tindakan. Jakarta: Rineka Cipta
Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006
PTK SMA 095 PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES) PADA PERMAINAN VOLLEY BALL SISWA KELAS XI A MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM BASED LEARNING
Unknown
14.23
Penerapan
Metode Pembelajaran Cooperative Group Investigation (CGI) Dalam Meningkatkan
Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas Xii Smu Negeri 4 Surakarta
Tahun Pelajaran 2005/2006
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan selalu mengalami
pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan
metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain
peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta
didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum.
Pendidikan yang mampu mendukung
pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan
potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan
problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani
maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa
semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan
dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang
dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan
sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Sekolah sebagai suatu institusi
atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu melakukan proses edukasi,
sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah
sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang
menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses
bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses
perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik/ lebih maju).
|
Masalah proses belajar mengajar
pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini dapat berarti segala
kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam
melaksanakan KBM. Kelas dalam arti luas mencakup interaksi guru dan siswa,
teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta
evaluasinya (Kasbolah E.S, 2001 hal: 1)
Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan siswa,
siswa dan siswa, dan siswa dengan guru, secara tidak langsung menyangkut
berbagai komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Perolehan hasil belajar
sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan dan pembelajaran selama program
pendidikan dilaksanankan di kelas yang pada kenyataannya tidak pernah lepas
dari masalah.
Menurut hasil pengamatan yang
dilakukan peneliti melalui observasi kelas dan wawancara dengan guru mata
pelajaran ekonomi kelas XII IPS semester genap di SMU Negeri 4 Surakarta tahun
pelajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi mata pelajaran
ekonomi siswa kurang optimal. Asumsi dasar yang menyebabkan pencapaian
kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal adalah pemilihan metode
pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam KBM. Pada tahun
ajaran 2005/2006 SMU Negeri 4 Surakarta sudah mempergunakan Kurikulum Berbasis
Kompetensi, namun pelaksanaannya belum optimal. Metode mengajar guru masih
secara konvensional. Proses belajar mengajar ekonomi masih terfokus pada guru
dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar
(KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Metode
pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja.
Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan diskriminasi dalam
kegiatan pembelajaran. Siswa yang aktif dalam KBM cenderung lebih aktif dalam
bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar yang lain
sehingga cenderung memiliki pencapaian kompetensi belajar yang lebih tinggi. Siswa
yang kurang aktif cenderung pasif dalam KBM, mereka hanya menerima pengetahuan
yang datang padanya sehingga memiliki pencapaian kompetensi yang lebih rendah.
Berdasarkan pertimbangan di atas,
maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran
serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya
didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan metode
pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak
hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan
siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran
ekonomi.
Salah satu metode pembelajaran
yang melibatkan peran serta siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam
metode pembelajaran kooperatif lebih menitikberatkan pada proses belajar pada
kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Proses belajar dalam
kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka
tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional.
Teknik presentasi dilakukan di
depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi, sedangkan kelompok yang
lain menunggu giliran untuk mempresentasikan, mengevaluasi dan memberi
tanggapan dari topik yang tengah dipresentasikan. Peran guru dalam GI adalah
sebagai sumber dan fasilitator. Di samping itu guru juga memperhatikan dan
memeriksa setiap kelompok bahwa mereka mampu mengatur pekerjaannya dan membantu
setiap permasalahan yang dihadapi di dalam interaksi kelompok tersebut. Pada
akhir kegiatan, guru menyimpulkan dari masing-masing kegiatan kelompok dalam
bentuk rangkuman.
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: “Penerapan
Metode Pembelajaran Cooperative Group
Investigation (Cgi) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi
Pada Siswa Kelas Xii Smu Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dikemukakan di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai
berikut:
1.
Proses belajar mengajar masih terfokus pada guru belum
terfokus pada siswa sehingga kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada
pengajaran daripada pembelajaran.
2.
Prestasi belajar ekonomi siswa sangat dipengaruhi oleh
metode pembelajaran yang digunakan, padahal penerapan metode konvensional
kurang efektif dalam kegiatan belajar mengajar.
3.
Peran serta dan keaktifan siswa dalam KBM khususnya di kelas
XII IPS SMU Negeri 4 Surakarta belum menyeluruh sehingga prestasi belajar
kurang optimal.
4.
Implementasi kurikulum berbasis kompetensi membutuhkan
penerapan metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa secara
keseluruhan, padahal proses pembelajaran selama ini masih didominasi oleh
siswa-siswa tertentu.
C. Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan luasnya
permasalahan yang timbul dari topik kajian maka pembatasan masalah perlu
dilakukan guna memperoleh kedalaman kajian untuk menghindari perluasan masalah.
Adapun pembatasan masalah dalam hal ini adalah:
1. Subjek
Penelitian
Siswa kelas XII IPS semester genap
SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006.
2. Objek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah:
a.
Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode
pembelajaran coperative Group
Investigation (CGI).
b.
Kompetensi siswa meliputi:
1). Aspek kognitif: evaluasi hasil belajar siswa.
2). Aspek afektif: peran
serta siswa dalam KBM dan presentasi lisan.
c.
Kompetensi dasar yang digunakan dalam penelitian adalah
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan
pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.
Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif Group
Investigation (GI) dapat meningkatkan keaktifan siswa secara keseluruhan?
2.
Apakah penerapan metode
pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas XII semester genap SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran
2005/2006?
E.
Tujuan Penelitian
Melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif Group
Investigation (GI), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.
Meningkatkan keaktifan siswa secara keseluruhan dalam
proses pembelajaran ekonomi melalui penggunaan metode pembelajaran Group Investigation (GI).
2.
Meningkatkan pencapaian hasil belajar ekonomi siswa kelas
XII semester genap SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006 melalui
penggunaan metode pembelajaran Group
Investigation (GI).
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian
ini adalah untuk mengembangkan wawasan ilmu-ilmu pendidikan yang berhubungan
dengan peningkatan kompetensi belajar siswa dan peran serta siswa dalam proses
pembelajaran.
2.
Manfaat Praktis
- Bagi sekolah yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
- Bagi guru memberikan informasi mengenai manfaat pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dalam meningkatkan peran serta siswa dalam proses belajar mengajar.
- Bagi siswa yaitu untuk lebih meningkatkan kompetensi belajar siswa dengan perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Arends,
R.I. 1997. Classroom Instruction and
Management. New Jersey: The Mc.Graw
Hill Companies, Inc.
A. Suhaenah
Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Balitbang Depdiknas. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta:
Depdikbud.
Enco
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung: Remadja Rosda
Karya.
Elliott, Stephen.N. 2000. Educational
Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. Boston: Mc Graw Hill.
H.B.
Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret
University Press.
(http://www.naskahakademik.net, 23 April 2006).
Joyce, Bruce.R.
2000. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.
Kagan, Spencer. 1985. “Dimension of Cooperative Classroom Structure”
dalam Slavin, R.E. Learning to Cooperate,
Cooperate to Learn. 72-73. London: Plenum Press.
Kasihani
Kasbolah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Kessler, Carolyn. 1992. Cooperative
Language Learning: A Teacher’s Resource Book. New Jersey: Prentice Hall
Regents.
Lexy. J. Moleong. 2004. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lie, Anita.
2004. Cooperative Learning:
Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia
Widia Sarana Indonesia.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosda
Karya.
Nurhadi.
2004. Kurukulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
|
Suhaida
Abdul Kadir. 2002. Perbandingan Pembelajaran Kooperatif dan Tradisional
Terhadap Prestasi, Atribusi Pencapaian, Konsep Kondisi Akademik dan hubungan
Sosial Dalam Pendidikan Perakaunan. Malaysia:
Universiti Putra Malaysia.
Usman H.B.
2001. Jurnal Ilmu Pendidikan (meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Tentang
Konsep Limit Fungsi Satu Variabel real Melalui Pembelajaran
Kooperatif). Malang: Universitas Negeri Malang.
W. Gulo.
2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Zainal Arifin. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap
(Ms.Word),
hubungi : 085728916006
PTK SMA 081 Penerapan Metode Pembelajaran Cooperative Group Investigation (CGI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas XII
Unknown
20.26
OPTIMALISASI MODALITAS VISUAL,
AUDITORIAL, DAN KINESTIK UNTUK
MENINGKATKAN READING SKILL BAHASA
INGGRIS SISWA KELAS X-A SMA NEGERI .....
ABSTRAK
...........,
NIP ........ Optimalisasi
Modalitas Visual, Auditorial, dan Kinestik
untuk Meningkatkan Reading Skill Bahasa Inggris Siswa Kelas X-A SMA
Negeri ..... Penelitian Tindakan Kelas. 2009/2010
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) Mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran yang mengoptimalkan
modalitas visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan reading skill siswa kelas X-A; (2)
Mengetahui besarnya peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris terkait dengan reading skill.
Jenis penelitian adalah penelitian tindakan
kelas (classroom action research)
dengan metode analisis kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada semester gasal
tahun pelajaran 2009/2010 di kels X SMA Negeri .....
Hasil penelitian adalah: (1) Pelaksanaan pembelajaran yang mengoptimalisasikan modalitan V-A-K
untuk materi reading dilakukan
dengan: (a) Optimalisasi viasual: penggunaan warna-warna pada kata-kata sulit
dalam text di papan tulis dan penugasan penggunaan warna pada siswa, penggunaan
warna-warna untuk memahami tata bahasa kalimat dalam text, penggunaan gambar
atau simbol dan peta kalimat untuk memahami pola kalimat dalam text maupun
membantu memahami kata-kata sulit, dan penggunaan diagram waktu untuk
mempermudah memahami perubahan kata kerja pada waktu lampau dan kata kerja
dasarnya, (b) Perbaikan proses pembelajaran kinestik dilakukan dnegan
menggunakan ilustrasi gerakan tangan, badan, sentuhan pada kata atau benda
untuk membantu memhami dan mengingat makna kata sulit ataupun pola kalimat,
memberikan kesempatan siswa untuk belajar mengingat dan memahami makna text maupun
pola kalimat dengan deminstrasi, dan menggunakan kalimat-kalimat action yang
berasosiasi dengan kata-kata sulit ataupun untuk membedakan pola kalimat, (c)
Perbaikan pembelajaran auditorial dilakukan dengan memberikan penekanan-penekna
pada S-P-O-K dan memberi kesempatan siswa bersikusi mengemukakan pendapat dan
mempertahankan pendapat, memberikan suara-suara audio yang berasosiasi dengan
kata maupun pola kalimat dalam text, dan memberikan kesempatan siswa untuk
berbicara dalam memahami dan mengingat materi. Terjadinya peningkatan proses
pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas V-A-K diikuti dengan peningkatan
prestasi belajar siswa dari pra pelaksanaan penelitin sampai pada siklus II;
(2) Optimalisasi modalitas V-A-K dalam pembelajaran reading mampu meningkatkan
prestasi belajar reading siswa kelas X-A SMA Negeri ....., dengan
peningkatan nilai rata rata dari pra
penelitian tindakan yang hanya hanya 6,8 meningkat menjadi 7,4 pada siklus I,
dan meningkat lagi menjadi 7,9 pada siklus II, dimana nilai rata-rata pada
siklu II sudah lebih tingi dari KKM yang ditetapkan.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Bahasa merupakan sarana utama dalam
komunikasi manusia. Melalui bahasa, dapat dilakukan transfer gagasan,
pengetahuan, informasi, dan hal-hal lainnya yang bersifat menjembatani terjadi
interaksi antara seseorang dengan lainnya.
Globalisasi abad 21 sebagian besar
ditandai dengan penggunaan bahasa-bahasa internasional yang mampu menjadi
bahasa penghubung (lingua franca)
antara komunitas dan negara yang memiliki ragam bahasa dan budaya yang
berbeda-beda (Hinoya, 2005: 6). Menuurt Hendrasworo (2008: 3), bahasa Inggris
memiliki kedudukan khusus pada 75 negara, dan digunakan oleh lebih dari 100
nagara-negara di dunia. Diantara berbagai lingua
franca, yang paling luas digunakan adalah bahasa Inggris. Hal ini
menjadikan bahasa Inggris merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikuasai masyarakat
Indonesia agar mampu berkiprah di era globalisasi abad 21.
Memahami peran penting
bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, pemerintah Indonesia melakukan
respon yang diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Menurut BSNP (BSNP, 2007:
75) Bahasa Inggris menjadi komponen wajib dalam kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) untuk tingkat sekolah menengah, bahkan untuk tingkat sekolah
dasar, bahasa Inggris menjadi komponen pilihan atau menjadi bagian dalam muatan
lokal.
Menurut Tarigan (1983:1) keterampilan berbahasa mencakup 4 segi yaitu
menyimak (listening skill), berbicara
(speaking skill), membaca (reading skill), dan menulis (writing skill). Semua keterampilan dalam
bahasa tersebut merupakan bagian yang penting untuk dikuasai. Meskipun
demikian, keterampilan dalam membaca merupakan keterampilan yang paling banyak
digunakan oleh masyarakat, pelajar dan mahasiswa oleh karena masyarakat lebih
banyak menggunakan bahasa Inggris secara pasif melalui referensi-referensi
bacaan. Berdasarkan hasil survay pendahuluan yang pada sejumlah siswa tingkat
SMA, diketahui bahwa 78% siswa tingkat SMA lebih sering menggunakan
keterampilan membaca melalui media-media buku, majalah, ataupun buku ceritera/komik
bahasa Inggris daripada menggunakan keterampilan lainnya.
Membaca dalam pembelajaran bahasa Inggris bukan hanya mencakup bagaimana
mengucapkan suatu kata ataupun simbol-simbol bahasa (pronunciation), akan tetapi juga melibatkan unsur pemahaman makna (understanding the meaning) bacaan. Menurut
Field (1975: 67), membaca adalah sebuah proses menangkap makna
dari simbol-simbol tertulis. Terkait dengan pemahaman bacaan, diperlukan kemampuan-kemampuan
bahasa seperti penguasaan perbendaharaan kata atau kosa kata (vocabulary) yang berfungsi untuk
memahami makna dari simbol-simbol bahasa secara, pemahaman tata bahasa (grammar) yang berfungsi untuk memahami
maksud dari susunan simbol-simbol bahasa, sehingga melalui vocabulary dan
grammar akan lebih mudah dipahami maksud sebenarnya dari suatu konteks kalimat
dalam bacaan.
Melihat bahwa reading skill
melibatkan kemampuan-kemampuan berbahasa seperti perbendaharaan kata dan tata
bahasa, maka diperlukan pelaksanaan pembelajaran yang benar-benar mampu memberdayakan
segenap modalitas siswa sehingga siswa lebih mudah dalam menguasai pengetahuan
dan pengalaman yang diberikan guru. DePorter dan Hernacci (1999: 57)
menjelaskan bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar tertentu, seperti gaya
belejar secara visual (grafis), kinestik (gerak), dan auditorial (suara). Potensi
siswa yang menjadi gaya belajar tersebut disebut sebagai modalitas.
Pembelajaran yang mampu mengakomodir modalitas siswa akan mempermudah siswa
dalam melaksanakan proses pembelajaran (Deporter dan Hernacci, (1999: 58).
Deporter dan Hernacci (1999: 42) menjelaskan bahwa pada umumnya
pembelajaran yang dilakukan oleh berbagai sekolah belum memperhatikan dengan
seksama masalah modalitas atau gaya belajar siswa. Siswa yang memiliki
modalitas auditorial kecil dipaksa menerima gaya mengajar guru yang dilakukan
secara ceramah (mengoptimalkan odalitas
auditorial) cenderung mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses belajar.
Demikian juga pada siswa-siswa yang memiliki modalitas visual kecil ketika
dipaksa memahami skema-skema grafis akan mengali kesulitan dalam proses
belajar. Kondisi ini juga masih terjadi di SMA Negeri ..... dalam bidang bahasa
Inggris, dimana modalitas belajar belum mendapat perhatian yang serius dari
para guru. Hal ini perlu menjadi perhatian oleh karena kemampuan memahami
bacaan (reading skill) siswa masih kurang baik. Nilai test harian siswa kelas
X-A ketika dilakukan test dengan menggunakan reading masih relatif rendah.
Berdasarkan atas uraian tersebut, maka dirasa perlu untuk dilaksanakan
penelitian yang berjudul “Optimalisasi
Modalitas Visual, Auditorial, dan Kinestik
untuk Meningkatkan Reading Skill Bahasa Inggris Siswa Kelas X-A SMA Negeri
.....”
B. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat
diidentifikasi adanya permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1.
Pembelajaran Bahasa Inggris yang dilaksanakan
selama ini belum memperhatiakan modalitas siswa.
2.
Hasil belajar siswa kelas X-A terkait dengan reading skill masih cukup rendah.
C. Pembatasan
dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Penelitian ini
dilaksanakan sebatas pada: (1) Strategi pelaksanaan pembelajaran bahsa Inggris
untuk reading yang mengoptimalkan modalitas V-A-K, dan tidak sampai pada upaya
mengubah model pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya, (2)
Menganalisis terjadinya peningkatan prestasi siswa untuk reading melalui nilai
atau hasil test siswa yang diselenggarakan selama pelaksanaan penelitian
tindakan kelas.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan atas latar
belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah penelitian yang
telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
a.
Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas
visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan reading skill siswa kelas
X-A?
b.
Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris terkait dengan
reading skill?
D. Tujuan
Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan
penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
1. Deskripsi langkah-langkah pembelajaran
yang mengoptimalkan modalitas visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan
reading skill siswa kelas X-A.
2. Besarnya peningkatan prestasi belajar
bahasa Inggris terkait dengan reading
skill.
E. Manfaat
Hasil Penelitian
Hasil penelitian
diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek berikut:
1. Aspek teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat
menjadi referensi dalam bidang kependidikan bahasa Inggris, yaitu terkait
dengan optimalisasi proses pembelajaran yang memperhatikan gaya belajar siswa.
2. Aspek praktis
a. Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan masukan pada guru untuk memperhatikan keterampilan mengajar terkait
dengan keterampilan mengoptimalkan modalitas belajar siswa dalam pembelajaran
bahaa Inggris, sehingga pembelajaran menjadi mudah bagi siswa.
b. Bagi siswa
Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan jalan bagi peningkatan kualitas dan hasil belajar bahasa Inggris
siswa, khususnya terkait dengan reading
skill.
DAFTAR PUSTAKA
Hinoya, Sakashi. 2005. The Global Development In The 21st Century. Yogyakarta: United
Nations Development Program (UNDP)
BSNP. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: BSNP
Ingridwati Kurnia. 2007. Perkembangan belajar Peserta Didik. Dirjen Dikti Departeman
Pendidikan Nasional
Darhim, Arwan. 2009. Gaya Belajar. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
DePorter, Bobby dan Hernaccy, P. 1999. Quantum Learning.
Edisi 1. Jakarta: Kaifa
DePorter, Bobby dan Hernaccy, P. 2002. Quantum Learning.
Edisi 2. Jakarta: Kaifa
Heryani, Hasna. 2007. Pedoman Pembelajaran Bahasa Inggris di SMA. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia
Untuk
mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 0857 2891 6006
PTK SMA 080 OPTIMALISASI MODALITAS VISUAL, AUDITORIAL, DAN KINESTIK UNTUK MENINGKATKAN READING SKILL BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-A
Unknown
20.26
PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS
SISWA KELAS X-B SMA ______
ABSTRAK
..........., NIP ........ Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally Physical Response (TPR) Untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking
dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas X-B SMA______. 2008/2009
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui:
(1) Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran speaking dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada
siswa kelas X-B SMA ____; (2) Besarnya peningkatan prestasi siswa kelas X-B
untuk speaking dalam bidang bahasa
Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR).
Jenis penelitian adalah penelitian
tindakan kelas (classroom action research)
dengan metode analisis kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009
di kels X-B SMA _____
Hasil penelitian adalah: (1) Proses pembelajaran speaking dengan model pembelajaran
TPR dilakukan dengan memasukkan aspek respon grakan tubuh, aspek respon
koordinasi gerakan dengan lisan, dan aspek respon balikan. Pembelajaran TPR
dilakukan dengan memasukkan teknik diskusi, demonstrasi, knowledge sharing, dan problem solving. Pembelajaran speaking
dengan TPR diperkuat dengan memasukkan penguatan perbendaharaan kata pada siswa
dan tata bahasa pada siswa yang sesuai dengan tema materi pembelajaran
speaking; (2) Peningkatan prestasi belajar setelah dilaksanakannya pembelajaran
speaking dengan TPR cukup besar, dimana pada pra penelitian tindakan nilai
speaking siswa hanya 6,26 dan meningkat sedikit menjadi 6,6 pada siklus I, kemudian
meningkat secara drastic menjadi 7,3 pada siklus II, dan meningkat lagi menjadi
7,51 pada siklus III. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga mengalami
peningkatan, dimana pada pra pelaksanaan penelitian hanya 18 siswa (45%) siswa
tuntas belajar, pada siklus I meningkat sedikit menjadi 19 siswa (47,5%) tuntas
belajar, pada siklus II meningkat pesat menjadi 28 siswa (70%) tuntas belajar,
dan pada siklus III sudah mencapai 33 orang atau 82,5% siswa tuntas belajar.
Jumlah ini sudah lebih besar dari target yang ditetapkan guru, yaitu lebih dari
75% siswa tuntas belajar dengan target nilai rata-rata kelas 7,5.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pemberlakuan sistem desentralisasi pendidikan
akibat pemberlakuan Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan
daerah, memberi dampak terhadap pelaksanaan pada manajemen pendidikan yaitu
manajemen yang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada pengelolaan
pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam era kompetitif mencapai
output pendidikan yang berkualitas dan mandiri. Kebijakan desentralisasi,
menurut Manullang (2010: 1) akan berpengaruh secara signifikan dengan pembangunan
pendidikan, setidaknya ada 4 dampak positif untuk mendukung kebijakan
desentralisasi pendidikan, yaitu : 1) Peningkatan mutu, yaitu dengan kewenangan
yang dimiliki sekolah maka sekolah lebih leluasa mengelola dan memberdayakan
potensi sumber daya yang dimiliki; 2) Efisiensi Keuangan hal ini dapat dicapai
dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional;
3) Efisiensi Administrasi, dengan memotong mata rantai birokrasi yang panjang
dengan menghilangkan prosedur yang bertingkat-tingkat; 4) Perluasan dan
pemerataan, membuka peluang penyelenggaraan pendidikan pada daerah pelosok
sehingga terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan.
Otonomi pendidikan yang berdampak pada
kewenangan yang luas pada tiap satuan pendidikan untuk mengembangkan manajemen
dan mutu sekolah berakibat pada munculnya persaingan-persaingan antar satuan
pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah
masing-masing untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam mengakses layanan pendidikanyang
diberikan sekolah. Peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan untuk setiap
sekolah yang didirikan dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan
kreativitas dan inovasi siswa, dengan demikian, manajemen mutu pendidikan di
sekolah dalam rangka membentuk sistem pengajaran yang professional dan bersaing
merupakan suatu tuntutan yang mutlak harus dipenuhi bagi dunia pendidikan sekolah
yang otonomis.
Pendidikan bahasa Inggris, menurut BSNP
(BSNP, 2007: 75), menjadi komponen wajib dalam kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) untuk tingkat sekolah menengah. Kebijakan pendidikan dan
kurikulum memberikan cakupan konteks serta harapan yang bisa mendorong proses
pembelajaran menuju masa depan siswa yang lebih baik. Disisi lain, bahasa
Inggris yang di ajarkan di SMA sebagai bekal siswa, menurut Lie saat ini dirasakan
masih belum memuaskan. Sangat sedikit lulusan SMA yang mampu berkomunikasi
secara intens menggunakan bahasa Inggris. Dalam penelitian tentang kebijakan
pendidikan dan penerapan kurikulum bahasa Inggris sebagai bahasa asing, Lie
mengungkapkan bahwa harus ada sebuah komitmen dari pihak sekolah untuk
menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris secara lebih baik dengan mengacu pada
metoda-metoda pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ujian para
siswa (Mulyanto dan Syahman, 2009: 1).
Pelksanaan pembelajaran bahasa Inggris
di SMA ___ kelas X selama ini masih dilaksanakan dengan hanya banyak
memanfaatkan indera pendengaran siswa. Guru lebih banyak ceramah dengan
berfokus pada penjelasan-penjelasan naratif tentang konsep bahasa Inggris.
Aktivitas siswa lebh banyak dalam kegiatan mendengarkan dan membaca.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan di kelas X-B, didapat fakta-fakta
sebagai berikut:
1. Terdapat 15% siswa yang jenuh dalam pembelajaran
bahasa Inggris karena hanya mendengarkan guru yang berceramah.
2. Terdapat 67% siswa yang menganggap pembelajaran bahasa
Inggris, khususnya untuk speaking cukup
sulit, sehingga mereka kurang berminat dan merasa kurang mampu dalam
menguasainya.
3. Prestasi belajar bahasa Inggris siswa khususnya untuk speaking cukup rendah, dengan nilai rata-rata kelas 6,26 dengan 45%
siswa tuntas belajar, sedangkan target yang ditetapkan dalam KKM adalah 70% siswa
tuntas belajar, dengan nilai rata-rata kelas minimum adalah 7,5.
Kondisi tersebut menuntut kreativitas
guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga masalah-masalah tersebut
dapat dikurangi atau dihilangkan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat
diterapkan untuk menyelesaikan masalah kualitas pembelajaran adalah model Totally Physical Response (TPR). Menurut
Richards J dalam bukunya Approaches and
Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan sebagai
cara pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan aktivitas sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
cara pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan aktivitas sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Atas dasar latar belakang dan pemikiran
tersebut, maka dirasa perlu untuk dilaksanakan penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally
Physical Response (TPR) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking dalam Bahasa
Inggris Siswa Kelas X-B SMA______
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan,
dapat diidentifikasi adanya permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas X SMA ___
selama ini masih banyak menggunakan model ceramah yang berfokus pada indera
pendengaran siswa, sehingga siswa kurang aktif dalam keterlibatanya berfikir
dan bertindak sesuai dengan materi pembelajaran yangh disampaikan.
2. Prestasi belajar bahasa Inggris siswa, khususnya untuk
speaking, masih rendah, dengan nilai
rata-rata kelas hanya 6,0 dan hanya 65% siswa yang tuntas belajar.
3. Terdapat siswa yang mudah jenuh dengan pembelajaran
bahasa Inggris dan cukup banyak siswa yang menganggap bahawa materi
pembelajaran speaking cukup sulit,
sehingga siswa merasa kurang berminat dengan materi bahasa Inggris.
C.
Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dilaksanakan terbatas pada
masalah-masalah sebagai berikut:
a.
Pelaksanaan
pembelajaran bahasa Inggris pada siswa kelas X-B dengan model pembelajaran TRP
untuk materi speaking.
b.
Besarnya
peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-B untuk speaking dalam bahasa
Inggris setelah dilakanakan proses pembelajaran dengan model TPR.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi
masalah, dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris
untuk materi speaking dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____?
2. Seberapa besarkah peningkatan prestasi siswa kelas X-B
untuk speaking dalam bahasa Inggris
setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR)?
D.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah
untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
1.
Langkah-langkah
pelaksanaan pembelajaran speaking
dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____.
2.
Besarnya
peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking
dalam bidang bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan
model pembelajaran Totally Physical
Response (TPR).
E.
Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat
dalam dua aspek sebagai berikut:
1. Aspek Teoretis
Hasil
penelitian diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dibidang
teknologi kependidikan, khususnya terkait dengan model pembelajaran bahasa
Inggris.
2. Aspek Praktis
Hasil
penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
a. Sekolah
Guna memberikan masukan pada sekolah tentang arti
penting pengembangan teknologi kependidikan dalam proses pembelajaran bahsa
Inggris dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah
sehingga diharapkan dapat mendukung tercapainya peningkatan output sekolah
maupun daya saing sekolah.
b. Bagi Guru
Guna memberikan masukan pada guru tentang prosedur
pelaksanaan model pembelajaran TPR dalam bidang bahasa Inggris dalam rangka
meningkatkan prestasi belajar siswa.
c. Bagi Siswa
Hasil penelitian diharapkan dapat membantu siswa dalam
memproleh kemudahan belajar bahasa Inggris di kelas, sehingga prestasi siswa
dapat ditingkatkan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
. Setia Mulyanto dan Luciana Syahman,
2009. Pengembangan
Kompetensi
Bahasa Inggris di SMA dengan Menggunakan Pendekatan Inquiry Melalui
Kegiatan “Independent Movie Festival: Anti Bullying Campaign”. Jurnal Penelitian, No 1, Vol. 9, Edisi April
2009.
Sudibyo Manullang, 2010. Otonomi Pendidikan: Suatu Analisis
Implementasi Manajemen Pendidikan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas
Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: UNY
Lasti Nur Satiani, 2012. Efektivitas Pembelajaran Totally Physical
Response dalam Meningkatan Kemampuan Menyimak Bahasa Jepang (Eksperimen
Terhadap Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di STIBA Satya Wacana). Jurnal
Teknologi Pembelajaran, No 1, Vol 1, Edisi Januari, 2012. Yogyakarta: UNY.
Tidak diterbitkan
Richard, Jack and Theodore. 1986. Approach
and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
Makmun, H.A., Samsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Miles, J.A dan Huberman, P. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI Press
Lexy J, Moeloeng. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya
Untuk
mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 085 728 916 006
PTK SMA 079 PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-B SMA ______
Unknown
20.25