GUDANG PTK PTS

Contoh

image
Hello,

Kami, Jasa Pintar

KAMI MEMBANTU DALAM PENYUSUNAN TUGAS-TUGAS ANDA, KAMI MENYEDIAKAN REFERENSI DAN KAMI SANGAT TIDAK MENDUKUNG PLAGIATISME.

TERIMA KASIH


Penelitian Tindakan Kelas
  • PTK SD
  • Penelitian Tindakan Kelas SD/MI

  • PTK SMP
  • Penelitian Tindakan Kelas SMP/MTs

  • PTK SMA
  • Penelitian Tindakan Kelas SMA/MA/SMK


    Experience
    Lead Developer

    State Art company

    UI/UX Developer

    Design Corporation

    Front-End Developer

    Creative Design Studio


    My Skills
    Penyusunan PTK
    Penyusunan PTS
    Contoh PTK
    Contoh PTS

    764

    Awards Won

    1664

    Happy Customers

    2964

    Projects Done

    1564

    Photos Made

    Layanan Kami

    Contoh PTK

    Menyediakan RATUSAN Judul Contoh Penelitian Tindakan Kelas (SD/SMP/SMA) yang dapat Anda gunakan sebagai bahan referensi

    Contoh PTS

    Menyediakan Judul Contoh Penelitian Tindakan Sekolah (Kepala Sekolah/Pengawas) yang dapat Anda gunakan sebagai bahan referensi

    Bikin PTK/PTS

    Jika Anda tidak menemukan judul yang sesuai pada katalog kami, tentukan sendiri judul PTK/PTS Anda, kami siap membantu dalam penyusunan

    Clean Code

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    Photographic

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    Unlimited Support

    Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

    CONTOH PTK PTS
    Tampilkan postingan dengan label PTK SMA. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label PTK SMA. Tampilkan semua postingan

    PTK SMA 007: Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pemahaman Pokok Bahasan Integral Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas III IPA-1 SMU Negeri XXX Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004

    Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pemahaman Pokok Bahasan Integral Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas III IPA-1 SMU Negeri XXX Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A.   Latar Belakang Masalah

                Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar harus diarahkan pada aktifitas pengajaran yang mampu mengembangkan segala potensi dan kreatifitas siswa. Tinggi rendahnya tingkat kreatifitas belajar siswa di sekolah banyak dipengaruhi oleh interaksi komponen-komponen pembelajaran.
                Pengajaran bukan hanya memindahkan pengetahuan ke generasi muda, atau hanya proses perubahan kebudayaan dan mengembangkan kepribadian. Pengajaran siswa yang baik melibatkan siswa secara aktif dan meniadakan pandangan bahwa siswa  sebagai makhluk pasif. Guru sebagai pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
                Pembenahan dalam pembelajaran perlu dilakukan, yaitu pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan media dan penanaman konsep yang benar. Pembaharuan bersifat memperbaiki dan menyempurnakan yang telah ada. Hasil yang diharapkan dengan adanya pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan metode dan penanaman konsep yang benar adalah tujuan pengajaran yang belum tercapai dapat diselesaikan dan dapat memperbaiki pemahaman konsep yang salah pada diri siswa.

                Pembenahan sistem pengajaran harus mampu membangkitkan minat para siswa untuk belajar lebih aktif. Pembaharuan pengajaran, penerapan metode yang tepat, penyediaan media pengajaran terutama harus dilakukan dalam pendidikan matematika, karena dalam pendidikan matematika secara umum masih banyak kendala dan masalah yang dihadapi, misalnya nilai anak untuk mata pelajaran matematika rendah, pelajaran matematika belum mempunyai makna sebagai bagian dalamkehidupans ehari-hari, pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru masih cenderung bersifat konfensional, minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika, minimnya daya inovatif, kreatifitas dalam pembelajaran matematika menjadikan mata pelajaran ini tidak disukai anak.
                Menurut Bloom yang dikutip oleh Djauzak Ahmad (1994 : 9), “Ketuntasan pembelajaran siswa dapat ditunjukkan dengan meningkatkan kemampuan intelektual yang terdiri dari: ingatan, pemahaman, penerapan analisis, sintetis, dan evaluasi”.
                Dari data di SMU NEGERI 1 MADIUN, ternyata prestasi pembelajaran matamatika siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), baik secara individual maupun secara klasikal. Hal ini disebabkan karena di dalam kegiatan belajar hanya mengandalkan teori dan kurang menyadari pentingnya pendekatan pembelajaran yakni metode pembelajaran.
                Metode pembelajaran dalam matematika ini banyak sekali yang tepat dan sesuai dengan tuntutan perkembangan pembelajaran matematika. Metode-metode pembelajaran matematika yakni metode demontrasi, metode pemecahan masalah, metode drill dan latihan, metode penemuan, metode tanya jawab, metode inkuiri dan sebagainya.

                Berdasarkan kajian latar belakang masalah tersebut di atas, maka ditemukan permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMU Negeri 1 Madiun   sebagai berikut:

    1.      Prestasi matematika siswa SMU Negeri 1 Madiun masih tergolong rendah.
    2.      Pelajaran matematika belum memiliki makna sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari.
    3.      Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit.
    4.      Pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru masih bersifat konvensional.
    5.      Minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral.
    6.      Minimnya guru dalam pembelajaran menggunakan media atau alat peraga.
                Agar kualitas pendidikan anak meningkat maka seorang guru harus tahu pentingnya metode pembelajaran. Ada tiga cara utama dalam belajar yaitu model visual, auditorial, dan kinestetik. Visual adalah belajar melalui indra penglihatan. Auditorial adalah belajar melalui indra pendengaran. Kinestetik adalah belajar melalui peraba dan penglihatan. Dari ketiga cara tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana dan tidak kalah pentingnya dengan metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi ini ketiga cara turut bisa menyatu sehingga belajar anak lebih maksimal. Dalam hal ini penulis mencoba menerapkan metode demonstrasi dalam pemahaman integral guna meningkatkan prestasi belajar matematika kelas III IPA-1 di SMU Negeri 1 Madiun.
                Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demontrasi aktivitas murid lebih banyak dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru akan lebih berkurang. Ciri metode demontrasi tampak dengan adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan dalil, atau menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, maka guru dan murid sama-sama berperan dalam proses pembelajaran.
                Pengajaran matematika akan menunjukkan hasil memuaskan, jika pengajaran mampu menyampaikan konsep dengan benar, mampu memilih pendekatan dalam mengajar dengan benar. Matematika tidak akan menjadi sulit jika sejak dini ditanamkan dan diawali dengan penyampaian konsep-konsep secara benar. Hal yang  perlu diperhatikan adalah penanaman konsep pada anak yang benar, pembelajaran yang menyenangkan, dihadapkan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya serta benda yang sesungguhnya.
                Berdasarkan uraian tersebut di atas maka judul dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS III SMU NEGERI 1 MADIUN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2003/2004”.

    B.   Rumusan Masalah

                Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
    “Apakah dengan penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar matematika konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004?”

    C.   Tujuan Penelitian

                Tujuan penelitian yang penulis harapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
    “Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004 melalui metode demonstrasi”

    D.   Manfaat Penelitian

                Hasil pelaksanaan penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika akan memberikan manfaat yang berarti, yaitu:
    1.      Bagi Guru
    Dengan dilaksanakannya penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika ini, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan metode demonstrasi. Dengan penelitian ini diharapkan guru dapat memberikan penanaman konsep yang benar.
    2.      Bagi Siswa
    Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas        III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun dalam meningkatkan pemahamannya terhadap konsep penyelesaian integral. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
    3.      Bagi Sekolah

    Setelah keberhasilan penelitian ini yakini penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.


    DAFTAR PUSTAKA

    Anita Lie. 2005. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Gramedia.
    Arifin Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya
    Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.
    Gredler, Margaret E. Ball. 1991. Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali
    Herman Hudojo, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.
    Koko Martono, R. Eryanto, Firman Syah Noor, (2007). Matematika dan Kecakapan Hidup, Untuk SMA 12A. Bandung : Ganeca Exact.
    Prasetyawan Irawan, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar. Jakarta: Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruktisional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Rini Budiharti. 2001, Strategi Belajar Mengajar. Surakarta :  UNS Press.
    Siti Choiriyah. 2006. Acuan Pengayaan Matematika. Solo : Sindhunata
    UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional
    Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia  



    Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

    hubungi : 0857 2891 6006



    PTK SMA 095 PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES) PADA PERMAINAN VOLLEY BALL SISWA KELAS XI A MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM BASED LEARNING


    PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES) PADA PERMAINAN VOLLEY BALL SISWA KELAS XI A MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM BASED LEARNING DI SMAN 1  BANTUL

    BAB I
    PENDAHULUAN


    A.      Latar Belakang Masalah
    Dalam kehidupan yang serba maju, modern dan serba canggih seperti saat ini, pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia-manusia berkualitas yang akan mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional. Dalam pasal 20 UU tahun 2003, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang berkualitas dengan ciri-ciri beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU no 20 tahun 2003).
    Kini semakin disadari bahwa pendidikan memainkan peranan yang sangat penting didalam kehidupan dan kemajuan umat manusia. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap individu, yang mempengaruhi perkembangan fisiknya, daya, jiwa, sosial dan moralitasnya, atau dengan perkataan lain, pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam mempengaruhi kemampuan, kepribadian dan kehidupan individu dalam pertemuan dan pergaulannya dengan sesama, serta hubungannya dengan Tuhan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
    Mutu pendidikan sangat erat hubungannya dengan mutu siswa, karena siswa merupakan titik pusat proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam meningkatkan mutu pendidikan harus diikuti dengan peningkatan mutu siswa. Peningkatan mutu siswa dapat dilihat pada tingginya tingkat prestasi belajar siswa, sedangkan tingginya tingkat prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh besarnya minat belajar siswa itu sendiri.
    Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum disusun untuk mendorong anak berkembang ke arah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini dicoba diwujudkan dalam kurikulum tiap tingkat dan jenis pendidikan, diuraikan dalam bidang studi dan akhirnya dalam tiap pelajaran yang diberikan oleh guru di dalam kelas.
    Dalam mencapai tujuan pendidikan ini, pemerintah menggagas diberlakukannya kurikulum baru yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah. KTSP tersebut memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.
    Selain itu penggunaan metode pembelajaran yang mengajarkan siswa dalam pemecahan masalah, terutama pemecahan masalah dalam kehidupan sehari- hari masih kurang. Pengembangan metode pembelajaran tersebut sangat perlu dilakukan untuk menjawab kebutuhan keterampilan pemecahan permasalahan yang harus dimiliki oleh siswa. Metode pembelajaran problem based learning atau pemecahan masalah kegunaannya adalah untuk merangsang berfikir dalam situasi masalah yang komplek. Dalam hal ini akan menjawab permasalahan yang menganggap sekolah kurang bisa bermakna dalam kehidupan nyata di masyarakat.
    Penggunaan metode dalam pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, merangsang siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui metode problem based learning diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
    Kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Bantul masih termasuk tradisional karena kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi, sehingga siswa merasa bosan dalam megikuti proses pembelajaran. Hal itu diketahui dari hasil survei yang telah dilakukan. Dari hasil survei tersebut bahwa pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) kurang diminati oleh siswa. Dalam proses pembelajaran terlihat masih rendah perhatian siswa, siswa kurang berpartisipasi, sedangkan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi.
    Diharapkan dengan menggunakan metode problem based learning dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) akan menarik minat siswa mengikuti kegiatan belajar sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa.

    B.       Identifikasi Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang terjadi di SMAN 1 Bantul sebagai berikut:
    1. Masih rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
    2. Masih rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
    3. Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) masih didominasi dengan metode ceramah.

    C.      Batasan Masalah
    Dalam penelitian ini permasalahan yang akan diteliti dibatasi pada masalah hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) dan belum digunakannya metode problem based learning.

    D.      Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
    1. Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A dengan menggunakan metode problem based learning di SMAN 1 Bantul?
    2. Bagaimana peningkatan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball yang terjadi pada siswa kelas XI A setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode problem based learning?

    E.       Tujuan Penelitian
    1.         Untuk mengetahui hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul melalui penerapan Problem based learning.

    2.         Mendapatkan bukti-bukti bahwa penerapan Problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball  siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul.

    F.       Manfaat Penelitian
    Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
    1.  Manfaat Teoritis
             Bertambahnya khazanah keilmuan yang berkaitan dengan metode pembelajaran Problem based learning.
    2.  Manfaat Praktis
    a. Bagi Guru
    1)   Mampu menganalisa terjadinya permasalahan-permasalahan     pembelajaran dan mampu mengatasi permasalahan tersebut.
    2)   Mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan kemandirian siswa.
    b. Bagi peneliti
    Dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan.
    c. Bagi sekolah
    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat.

    DAFTAR PUSTAKA

    Sayogyani, 2002. Teknik Permainan Bola Besar. Surabaya: Apollo
    Mosston, V. 1994. Foundamentals of Teaching Methods. New York: Harvard University
    H.A. Furqon. 1968. Kiat-Kiat Menjadi Guru. Jakarta: Pradnja Paramita
    Abdullah Rusman. 2011. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
    Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
    Sybilla Aunurrahman. 2011. Pembelajaran yang Efektif. Jakarta: Rineka Cipta
    M.A. Hubermen dan P. Miles. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI Press
    Ridwan H.M. 2001. Penelitian Tindakan. Jakarta: Rineka Cipta

    Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
    hubungi : 0857 2891 6006

    PTK SMA 081 Penerapan Metode Pembelajaran Cooperative Group Investigation (CGI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas XII

    Penerapan Metode Pembelajaran Cooperative Group Investigation (CGI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas Xii Smu Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006
    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.  Latar Belakang Masalah
    Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum.
    Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
    Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu melakukan proses edukasi, sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik/ lebih maju).                                                      

    1
     
    SMU Negeri 4 Surakarta merupakan salah satu sekolah negeri yang mempunyai input atau masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi. Karena prestasi belajar yang bervariasi inilah maka peran serta dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar beraneka ragam.
    Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini dapat berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam melaksanakan KBM. Kelas dalam arti luas mencakup interaksi guru dan siswa, teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya (Kasbolah E.S, 2001 hal: 1)
    Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan guru, secara tidak langsung menyangkut berbagai komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Perolehan hasil belajar sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan dan pembelajaran selama program pendidikan dilaksanankan di kelas yang pada kenyataannya tidak pernah lepas dari masalah.  
    Menurut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti melalui observasi kelas dan wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi kelas XII IPS semester genap di SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal. Asumsi dasar yang menyebabkan pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam KBM. Pada tahun ajaran 2005/2006 SMU Negeri 4 Surakarta sudah mempergunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun pelaksanaannya belum optimal. Metode mengajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar ekonomi masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan diskriminasi dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang aktif dalam KBM cenderung lebih aktif dalam bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar yang lain sehingga cenderung memiliki pencapaian kompetensi belajar yang lebih tinggi. Siswa yang kurang aktif cenderung pasif dalam KBM, mereka hanya menerima pengetahuan yang datang padanya sehingga memiliki pencapaian kompetensi yang lebih rendah.
    Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan metode pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran ekonomi.
    Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam metode pembelajaran kooperatif lebih menitikberatkan pada proses belajar pada kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional.
    Teknik presentasi dilakukan di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi, sedangkan kelompok yang lain menunggu giliran untuk mempresentasikan, mengevaluasi dan memberi tanggapan dari topik yang tengah dipresentasikan. Peran guru dalam GI adalah sebagai sumber dan fasilitator. Di samping itu guru juga memperhatikan dan memeriksa setiap kelompok bahwa mereka mampu mengatur pekerjaannya dan membantu setiap permasalahan yang dihadapi di dalam interaksi kelompok tersebut. Pada akhir kegiatan, guru menyimpulkan dari masing-masing kegiatan kelompok dalam bentuk rangkuman.
    Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: “Penerapan Metode Pembelajaran Cooperative Group Investigation (Cgi) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas Xii Smu Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006.”
    B.  Identifikasi Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
    1.        Proses belajar mengajar masih terfokus pada guru belum terfokus pada siswa sehingga kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran.
    2.        Prestasi belajar ekonomi siswa sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan, padahal penerapan metode konvensional kurang efektif dalam kegiatan belajar mengajar.
    3.        Peran serta dan keaktifan siswa dalam KBM khususnya di kelas XII IPS SMU Negeri 4 Surakarta belum menyeluruh sehingga prestasi belajar kurang optimal.
    4.        Implementasi kurikulum berbasis kompetensi membutuhkan penerapan metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa secara keseluruhan, padahal proses pembelajaran selama ini masih didominasi oleh siswa-siswa tertentu.
    C.  Pembatasan Masalah
    Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang timbul dari topik kajian maka pembatasan masalah perlu dilakukan guna memperoleh kedalaman kajian untuk menghindari perluasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam hal ini adalah:
    1.  Subjek Penelitian
    Siswa kelas XII IPS semester genap SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006.
    2.  Objek Penelitian
    Obyek penelitian ini adalah:
    a.         Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran coperative Group Investigation (CGI).
    b.        Kompetensi siswa meliputi:
    1). Aspek kognitif: evaluasi hasil belajar siswa.
    2). Aspek afektif: peran serta siswa dalam KBM dan presentasi lisan.
    c.         Kompetensi dasar yang digunakan dalam penelitian adalah
    D.  Perumusan Masalah
    Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
    1.        Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan keaktifan siswa secara keseluruhan?
    2.        Apakah  penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII semester genap SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006?
    E.  Tujuan Penelitian
    Melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
    1.        Meningkatkan keaktifan siswa secara keseluruhan dalam proses pembelajaran ekonomi melalui penggunaan metode pembelajaran Group Investigation (GI).
    2.        Meningkatkan pencapaian hasil belajar ekonomi siswa kelas XII semester genap SMU Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006 melalui penggunaan metode pembelajaran Group Investigation (GI).
    F.  Manfaat Penelitian
      1. Manfaat Teoritis
    Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan wawasan ilmu-ilmu pendidikan yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi belajar siswa dan peran serta siswa dalam proses pembelajaran.
    2.    Manfaat Praktis
    1. Bagi sekolah yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
    2. Bagi guru memberikan informasi mengenai manfaat pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dalam meningkatkan peran serta siswa dalam proses belajar mengajar.
    3. Bagi siswa yaitu untuk lebih meningkatkan kompetensi belajar siswa dengan perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran.
    DAFTAR PUSTAKA
    Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New Jersey: The Mc.Graw Hill Companies, Inc.
    A. Suhaenah Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
    Balitbang Depdiknas. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Depdikbud.
    Enco Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remadja Rosda Karya.
    Elliott, Stephen.N. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. Boston: Mc Graw Hill.
    H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
    (http://www.naskahakademik.net, 23 April 2006).
    Joyce, Bruce.R. 2000. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.
    Kagan, Spencer. 1985. “Dimension of Cooperative Classroom Structure” dalam Slavin, R.E. Learning to Cooperate, Cooperate to Learn. 72-73. London: Plenum Press.
    Kasihani Kasbolah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.
    Kessler, Carolyn. 1992. Cooperative Language Learning: A Teacher’s Resource Book. New Jersey: Prentice Hall Regents.
    Lexy. J. Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
    Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
    Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosda Karya.
    Nurhadi. 2004. Kurukulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.



    72
    Roestiyah N.K 2001. Strategi Belajar Mengajar (Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar : Teknik Penyajian). Jakarta: Rineka Cipta.
    Suhaida Abdul Kadir. 2002. Perbandingan Pembelajaran Kooperatif dan Tradisional Terhadap Prestasi, Atribusi Pencapaian, Konsep Kondisi Akademik dan hubungan Sosial Dalam Pendidikan Perakaunan. Malaysia: Universiti Putra Malaysia.
    Usman H.B. 2001. Jurnal Ilmu Pendidikan (meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Tentang Konsep Limit Fungsi Satu Variabel real Melalui Pembelajaran Kooperatif). Malang: Universitas Negeri Malang.
    W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
    Zainal Arifin. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
    Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), 
    hubungi : 085728916006

    PTK SMA 080 OPTIMALISASI MODALITAS VISUAL, AUDITORIAL, DAN KINESTIK UNTUK MENINGKATKAN READING SKILL BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-A

    OPTIMALISASI MODALITAS VISUAL, AUDITORIAL, DAN KINESTIK  UNTUK MENINGKATKAN READING SKILL BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-A SMA NEGERI .....
    ABSTRAK
    ..........., NIP ........ Optimalisasi Modalitas Visual, Auditorial, dan Kinestik  untuk Meningkatkan Reading Skill Bahasa Inggris Siswa Kelas X-A SMA Negeri ..... Penelitian Tindakan Kelas. 2009/2010
    Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) Mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan reading skill siswa kelas X-A; (2) Mengetahui besarnya peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris terkait dengan reading skill.
    Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan metode analisis kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada semester gasal tahun pelajaran 2009/2010 di kels X SMA Negeri .....
    Hasil penelitian adalah: (1) Pelaksanaan pembelajaran yang mengoptimalisasikan modalitan V-A-K untuk materi reading dilakukan dengan: (a) Optimalisasi viasual: penggunaan warna-warna pada kata-kata sulit dalam text di papan tulis dan penugasan penggunaan warna pada siswa, penggunaan warna-warna untuk memahami tata bahasa kalimat dalam text, penggunaan gambar atau simbol dan peta kalimat untuk memahami pola kalimat dalam text maupun membantu memahami kata-kata sulit, dan penggunaan diagram waktu untuk mempermudah memahami perubahan kata kerja pada waktu lampau dan kata kerja dasarnya, (b) Perbaikan proses pembelajaran kinestik dilakukan dnegan menggunakan ilustrasi gerakan tangan, badan, sentuhan pada kata atau benda untuk membantu memhami dan mengingat makna kata sulit ataupun pola kalimat, memberikan kesempatan siswa untuk belajar mengingat dan memahami makna text maupun pola kalimat dengan deminstrasi, dan menggunakan kalimat-kalimat action yang berasosiasi dengan kata-kata sulit ataupun untuk membedakan pola kalimat, (c) Perbaikan pembelajaran auditorial dilakukan dengan memberikan penekanan-penekna pada S-P-O-K dan memberi kesempatan siswa bersikusi mengemukakan pendapat dan mempertahankan pendapat, memberikan suara-suara audio yang berasosiasi dengan kata maupun pola kalimat dalam text, dan memberikan kesempatan siswa untuk berbicara dalam memahami dan mengingat materi. Terjadinya peningkatan proses pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas V-A-K diikuti dengan peningkatan prestasi belajar siswa dari pra pelaksanaan penelitin sampai pada siklus II; (2) Optimalisasi modalitas V-A-K dalam pembelajaran reading mampu meningkatkan prestasi belajar reading siswa kelas X-A SMA Negeri ....., dengan peningkatan  nilai rata rata dari pra penelitian tindakan yang hanya hanya 6,8 meningkat menjadi 7,4 pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 7,9 pada siklus II, dimana nilai rata-rata pada siklu II sudah lebih tingi dari KKM yang ditetapkan.
    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.  Latar Belakang Masalah
    Bahasa merupakan sarana utama dalam komunikasi manusia. Melalui bahasa, dapat dilakukan transfer gagasan, pengetahuan, informasi, dan hal-hal lainnya yang bersifat menjembatani terjadi interaksi antara seseorang dengan lainnya.
    Globalisasi abad 21 sebagian besar ditandai dengan penggunaan bahasa-bahasa internasional yang mampu menjadi bahasa penghubung (lingua franca) antara komunitas dan negara yang memiliki ragam bahasa dan budaya yang berbeda-beda (Hinoya, 2005: 6). Menuurt Hendrasworo (2008: 3), bahasa Inggris memiliki kedudukan khusus pada 75 negara, dan digunakan oleh lebih dari 100 nagara-negara di dunia. Diantara berbagai lingua franca, yang paling luas digunakan adalah bahasa Inggris. Hal ini menjadikan bahasa Inggris merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikuasai masyarakat Indonesia agar mampu berkiprah di era globalisasi abad 21.
    Memahami peran penting bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, pemerintah Indonesia melakukan respon yang diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Menurut BSNP (BSNP, 2007: 75) Bahasa Inggris menjadi komponen wajib dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk tingkat sekolah menengah, bahkan untuk tingkat sekolah dasar, bahasa Inggris menjadi komponen pilihan atau menjadi bagian dalam muatan lokal.
    Menurut Tarigan (1983:1) keterampilan berbahasa mencakup 4 segi yaitu menyimak (listening skill), berbicara (speaking skill), membaca (reading skill), dan menulis (writing skill). Semua keterampilan dalam bahasa tersebut merupakan bagian yang penting untuk dikuasai. Meskipun demikian, keterampilan dalam membaca merupakan keterampilan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat, pelajar dan mahasiswa oleh karena masyarakat lebih banyak menggunakan bahasa Inggris secara pasif melalui referensi-referensi bacaan. Berdasarkan hasil survay pendahuluan yang pada sejumlah siswa tingkat SMA, diketahui bahwa 78% siswa tingkat SMA lebih sering menggunakan keterampilan membaca melalui media-media buku, majalah, ataupun buku ceritera/komik bahasa Inggris daripada menggunakan keterampilan lainnya.  
    Membaca dalam pembelajaran bahasa Inggris bukan hanya mencakup bagaimana mengucapkan suatu kata ataupun simbol-simbol bahasa (pronunciation), akan tetapi juga melibatkan unsur pemahaman makna (understanding the meaning) bacaan. Menurut Field (1975: 67), membaca adalah sebuah proses menangkap makna dari simbol-simbol tertulis. Terkait dengan pemahaman bacaan, diperlukan kemampuan-kemampuan bahasa seperti penguasaan perbendaharaan kata atau kosa kata (vocabulary) yang berfungsi untuk memahami makna dari simbol-simbol bahasa secara, pemahaman tata bahasa (grammar) yang berfungsi untuk memahami maksud dari susunan simbol-simbol bahasa, sehingga melalui vocabulary dan grammar akan lebih mudah dipahami maksud sebenarnya dari suatu konteks kalimat dalam bacaan.
    Melihat bahwa reading skill melibatkan kemampuan-kemampuan berbahasa seperti perbendaharaan kata dan tata bahasa, maka diperlukan pelaksanaan pembelajaran yang benar-benar mampu memberdayakan segenap modalitas siswa sehingga siswa lebih mudah dalam menguasai pengetahuan dan pengalaman yang diberikan guru. DePorter dan Hernacci (1999: 57) menjelaskan bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar tertentu, seperti gaya belejar secara visual (grafis), kinestik (gerak), dan auditorial (suara). Potensi siswa yang menjadi gaya belajar tersebut disebut sebagai modalitas. Pembelajaran yang mampu mengakomodir modalitas siswa akan mempermudah siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran (Deporter dan Hernacci, (1999: 58).
    Deporter dan Hernacci (1999: 42) menjelaskan bahwa pada umumnya pembelajaran yang dilakukan oleh berbagai sekolah belum memperhatikan dengan seksama masalah modalitas atau gaya belajar siswa. Siswa yang memiliki modalitas auditorial kecil dipaksa menerima gaya mengajar guru yang dilakukan secara ceramah (mengoptimalkan  odalitas auditorial) cenderung mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses belajar. Demikian juga pada siswa-siswa yang memiliki modalitas visual kecil ketika dipaksa memahami skema-skema grafis akan mengali kesulitan dalam proses belajar. Kondisi ini juga masih terjadi di SMA Negeri ..... dalam bidang bahasa Inggris, dimana modalitas belajar belum mendapat perhatian yang serius dari para guru. Hal ini perlu menjadi perhatian oleh karena kemampuan memahami bacaan (reading skill) siswa masih kurang baik. Nilai test harian siswa kelas X-A ketika dilakukan test dengan menggunakan reading masih relatif rendah.
    Berdasarkan atas uraian tersebut, maka dirasa perlu untuk dilaksanakan penelitian yang berjudul “Optimalisasi Modalitas Visual, Auditorial, dan Kinestik  untuk Meningkatkan Reading Skill Bahasa Inggris Siswa Kelas X-A SMA Negeri .....”
    B.  Identifikasi Masalah
    Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
    1.      Pembelajaran Bahasa Inggris yang dilaksanakan selama ini belum memperhatiakan modalitas siswa.
    2.      Hasil belajar siswa kelas X-A terkait dengan reading skill masih cukup rendah.
    C.  Pembatasan dan Rumusan Masalah
    1.      Pembatasan Masalah
    Penelitian ini dilaksanakan sebatas pada: (1) Strategi pelaksanaan pembelajaran bahsa Inggris untuk reading yang mengoptimalkan modalitas V-A-K, dan tidak sampai pada upaya mengubah model pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya, (2) Menganalisis terjadinya peningkatan prestasi siswa untuk reading melalui nilai atau hasil test siswa yang diselenggarakan selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
    2.      Perumusan Masalah
    Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah penelitian yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
    a.         Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan reading skill siswa kelas X-A?
    b.         Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris terkait dengan reading skill?
    D.  Tujuan Penelitian
    Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
    1.      Deskripsi langkah-langkah pembelajaran yang mengoptimalkan modalitas visual, auditorial, dan kinestik untuk meningkatkan reading skill siswa kelas X-A.
    2.      Besarnya peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris terkait dengan reading skill.
    E.   Manfaat Hasil Penelitian
    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek berikut:
    1.      Aspek teoretis
    Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dalam bidang kependidikan bahasa Inggris, yaitu terkait dengan optimalisasi proses pembelajaran yang memperhatikan gaya belajar siswa.
    2.      Aspek praktis
    a.       Bagi Guru
    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan pada guru untuk memperhatikan keterampilan mengajar terkait dengan keterampilan mengoptimalkan modalitas belajar siswa dalam pembelajaran bahaa Inggris, sehingga pembelajaran menjadi mudah bagi siswa.
    b.      Bagi siswa
    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan jalan bagi peningkatan kualitas dan hasil belajar bahasa Inggris siswa, khususnya terkait dengan reading skill.
    DAFTAR PUSTAKA
    Hinoya, Sakashi. 2005. The Global Development In The 21st Century. Yogyakarta: United Nations Development Program (UNDP)
    BSNP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: BSNP
    Ingridwati Kurnia. 2007. Perkembangan belajar Peserta Didik. Dirjen Dikti Departeman Pendidikan Nasional
    Darhim, Arwan. 2009. Gaya Belajar. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
    DePorter, Bobby dan Hernaccy, P. 1999.  Quantum Learning. Edisi 1. Jakarta: Kaifa
    DePorter, Bobby dan Hernaccy, P. 2002.  Quantum Learning. Edisi 2. Jakarta: Kaifa
    Heryani, Hasna. 2007. Pedoman Pembelajaran Bahasa Inggris di SMA. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
    Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), 
    hubungi : 0857 2891 6006

    PTK SMA 079 PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-B SMA ______

    PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI
    BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS
    SISWA KELAS X-B SMA ______
    ABSTRAK
    ..........., NIP ........ Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally Physical Response (TPR) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas X-B SMA______. 2008/2009
    Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran speaking dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____; (2) Besarnya peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bidang bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR).
    Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan metode analisis kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 di kels X-B SMA _____
    Hasil penelitian adalah: (1) Proses pembelajaran speaking dengan model pembelajaran TPR dilakukan dengan memasukkan aspek respon grakan tubuh, aspek respon koordinasi gerakan dengan lisan, dan aspek respon balikan. Pembelajaran TPR dilakukan dengan memasukkan teknik diskusi, demonstrasi, knowledge sharing, dan problem solving. Pembelajaran speaking dengan TPR diperkuat dengan memasukkan penguatan perbendaharaan kata pada siswa dan tata bahasa pada siswa yang sesuai dengan tema materi pembelajaran speaking; (2) Peningkatan prestasi belajar setelah dilaksanakannya pembelajaran speaking dengan TPR cukup besar, dimana pada pra penelitian tindakan nilai speaking siswa hanya 6,26 dan meningkat sedikit menjadi 6,6 pada siklus I, kemudian meningkat secara drastic menjadi 7,3 pada siklus II, dan meningkat lagi menjadi 7,51 pada siklus III. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan, dimana pada pra pelaksanaan penelitian hanya 18 siswa (45%) siswa tuntas belajar, pada siklus I meningkat sedikit menjadi 19 siswa (47,5%) tuntas belajar, pada siklus II meningkat pesat menjadi 28 siswa (70%) tuntas belajar, dan pada siklus III sudah mencapai 33 orang atau 82,5% siswa tuntas belajar. Jumlah ini sudah lebih besar dari target yang ditetapkan guru, yaitu lebih dari 75% siswa tuntas belajar dengan target nilai rata-rata kelas 7,5.
    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang Masalah
    Pemberlakuan sistem desentralisasi pendidikan akibat pemberlakuan Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah, memberi dampak terhadap pelaksanaan pada manajemen pendidikan yaitu manajemen yang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada pengelolaan pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam era kompetitif mencapai output pendidikan yang berkualitas dan mandiri. Kebijakan desentralisasi, menurut Manullang (2010: 1) akan berpengaruh secara signifikan dengan pembangunan pendidikan, setidaknya ada 4 dampak positif untuk mendukung kebijakan desentralisasi pendidikan, yaitu : 1) Peningkatan mutu, yaitu dengan kewenangan yang dimiliki sekolah maka sekolah lebih leluasa mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya yang dimiliki; 2) Efisiensi Keuangan hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional; 3) Efisiensi Administrasi, dengan memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur yang bertingkat-tingkat; 4) Perluasan dan pemerataan, membuka peluang penyelenggaraan pendidikan pada daerah pelosok sehingga terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan.
    Otonomi pendidikan yang berdampak pada kewenangan yang luas pada tiap satuan pendidikan untuk mengembangkan manajemen dan mutu sekolah berakibat pada munculnya persaingan-persaingan antar satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam mengakses layanan pendidikanyang diberikan sekolah. Peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan untuk setiap sekolah yang didirikan dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi siswa, dengan demikian, manajemen mutu pendidikan di sekolah dalam rangka membentuk sistem pengajaran yang professional dan bersaing merupakan suatu tuntutan yang mutlak harus dipenuhi bagi dunia pendidikan sekolah yang otonomis.
    Pendidikan bahasa Inggris, menurut BSNP (BSNP, 2007: 75), menjadi komponen wajib dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk tingkat sekolah menengah. Kebijakan pendidikan dan kurikulum memberikan cakupan konteks serta harapan yang bisa mendorong proses pembelajaran menuju masa depan siswa yang lebih baik. Disisi lain, bahasa Inggris yang di ajarkan di SMA sebagai bekal siswa, menurut Lie saat ini dirasakan masih belum memuaskan. Sangat sedikit lulusan SMA yang mampu berkomunikasi secara intens menggunakan bahasa Inggris. Dalam penelitian tentang kebijakan pendidikan dan penerapan kurikulum bahasa Inggris sebagai bahasa asing, Lie mengungkapkan bahwa harus ada sebuah komitmen dari pihak sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris secara lebih baik dengan mengacu pada metoda-metoda pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ujian para siswa (Mulyanto dan Syahman, 2009: 1).
    Pelksanaan pembelajaran bahasa Inggris di SMA ___ kelas X selama ini masih dilaksanakan dengan hanya banyak memanfaatkan indera pendengaran siswa. Guru lebih banyak ceramah dengan berfokus pada penjelasan-penjelasan naratif tentang konsep bahasa Inggris. Aktivitas siswa lebh banyak dalam kegiatan mendengarkan dan membaca. Berdasarkan survey awal yang dilakukan di kelas X-B, didapat fakta-fakta sebagai berikut:
    1.      Terdapat 15% siswa yang jenuh dalam pembelajaran bahasa Inggris karena hanya mendengarkan guru yang berceramah.
    2.      Terdapat 67% siswa yang menganggap pembelajaran bahasa Inggris, khususnya untuk speaking cukup sulit, sehingga mereka kurang berminat dan merasa kurang mampu dalam menguasainya.
    3.      Prestasi belajar bahasa Inggris siswa  khususnya untuk speaking cukup rendah, dengan nilai rata-rata kelas 6,26 dengan 45% siswa tuntas belajar, sedangkan target yang ditetapkan dalam KKM adalah 70% siswa tuntas belajar, dengan nilai rata-rata kelas minimum adalah 7,5.
    Kondisi tersebut menuntut kreativitas guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga masalah-masalah tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan.
    Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah kualitas pembelajaran adalah model Totally Physical Response (TPR). Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan sebagai
    cara pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan aktivitas sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
    Atas dasar latar belakang dan pemikiran tersebut, maka dirasa perlu untuk dilaksanakan penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally Physical Response (TPR) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas X-B SMA______
    B.     Identifikasi Masalah
    Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
    1.      Proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas X SMA ___ selama ini masih banyak menggunakan model ceramah yang berfokus pada indera pendengaran siswa, sehingga siswa kurang aktif dalam keterlibatanya berfikir dan bertindak sesuai dengan materi pembelajaran yangh disampaikan.
    2.      Prestasi belajar bahasa Inggris siswa, khususnya untuk speaking, masih rendah, dengan nilai rata-rata kelas hanya 6,0 dan hanya 65% siswa yang tuntas belajar.
    3.      Terdapat siswa yang mudah jenuh dengan pembelajaran bahasa Inggris dan cukup banyak siswa yang menganggap bahawa materi pembelajaran speaking cukup sulit, sehingga siswa merasa kurang berminat dengan materi bahasa Inggris.
    C.    Pembatasan dan Rumusan Masalah
    1.    Pembatasan Masalah
    Penelitian ini dilaksanakan terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut:
    a.         Pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris pada siswa kelas X-B dengan model pembelajaran TRP untuk materi speaking.
    b.         Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-B untuk speaking dalam  bahasa Inggris setelah dilakanakan proses pembelajaran dengan model TPR.
    2.    Rumusan Masalah
    Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
    1.      Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris untuk materi speaking  dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____?
    2.      Seberapa besarkah peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR)?
    D.    Tujuan Penelitian
    Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
    1.         Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran speaking dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____.
    2.         Besarnya peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bidang bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR).
    E.     Manfaat Hasil Penelitian
    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek sebagai berikut:
    1.      Aspek Teoretis
    Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dibidang teknologi kependidikan, khususnya terkait dengan model pembelajaran bahasa Inggris.
    2.      Aspek Praktis
    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
    a.       Sekolah
    Guna memberikan masukan pada sekolah tentang arti penting pengembangan teknologi kependidikan dalam proses pembelajaran bahsa Inggris dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah sehingga diharapkan dapat mendukung tercapainya peningkatan output sekolah maupun daya saing sekolah.
    b.      Bagi Guru
    Guna memberikan masukan pada guru tentang prosedur pelaksanaan model pembelajaran TPR dalam bidang bahasa Inggris dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.
    c.       Bagi Siswa
    Hasil penelitian diharapkan dapat membantu siswa dalam memproleh kemudahan belajar bahasa Inggris di kelas, sehingga prestasi siswa dapat ditingkatkan lebih baik.
    DAFTAR PUSTAKA
    . Setia Mulyanto dan Luciana Syahman, 2009. Pengembangan Kompetensi Bahasa Inggris di SMA dengan Menggunakan Pendekatan Inquiry Melalui Kegiatan “Independent Movie Festival: Anti Bullying Campaign”. Jurnal Penelitian, No 1, Vol. 9, Edisi April 2009.
    Sudibyo Manullang, 2010. Otonomi Pendidikan: Suatu Analisis Implementasi Manajemen Pendidikan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: UNY
    Lasti Nur Satiani, 2012. Efektivitas Pembelajaran Totally Physical Response dalam Meningkatan Kemampuan Menyimak Bahasa Jepang (Eksperimen Terhadap Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di STIBA Satya Wacana). Jurnal Teknologi Pembelajaran, No 1, Vol 1, Edisi Januari, 2012. Yogyakarta: UNY. Tidak diterbitkan
    Richard, Jack and Theodore. 1986. Approach and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
    Makmun, H.A., Samsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
    Miles, J.A dan Huberman, P. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI Press
    Lexy J, Moeloeng. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya

    Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), 
    hubungi : 085 728 916 006

    DOWNLOAD

    KATALOG PTK TK
    Download
    KATALOG PTK SD
    Download
    KATALOG PTK SMP
    Download
    KATALOG PTK SMA
    Download
    KATALOG PTS
    Download
    Bikin PTK/PTS

    Download form penyusunan PTK/PTS

    Download

    Start Work With Me

    Kontak langsung via WA


    Penelitian Tindakan Kelas
  • PTK SD
  • Penelitian Tindakan Kelas SD/MI

  • PTK SMP
  • Penelitian Tindakan Kelas SMP/MTs

  • PTK SMA
  • Penelitian Tindakan Kelas SMA/MA/SMK


    Experience
    Lead Developer

    State Art company

    UI/UX Developer

    Design Corporation

    Front-End Developer

    Creative Design Studio


    My Skills
    Penyusunan PTK
    Penyusunan PTS
    Contoh PTK
    Contoh PTS
    Contact Us
    Jasa Pintar
    0857 2891 6006 (WA Only)
    Surakarta, Jawa Tengah
    Hubungi kami melalui form ini (Mohon lengkapi dengan alamat email dan nomor WA)

    Blog Archive