Tampilkan postingan dengan label PTK PLB/SLB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK PLB/SLB. Tampilkan semua postingan
PENINGKATAN
KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS D I DI SDLBN SAMBIROTO, PADAS, NGAWI PENELITIAN TINDAKAN KELAS
ABSTRAK
Kata
Kunci : Modifikasi permainan dakon,
penjumlahan bilangan bulat, anak tunanetra
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kecepatan menghitung
serta meningkatkan hasil pembelajaran matematika tentang penjumlahan bilangan
bulat pada anak tunanetra kelas IV di SLB Negeri Gedangan Sidoarjo. Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian tindakan kelas. Penelitian ini bersifat kolaborasi. Jumlah siswa
yang dijadikan subyek penelitian 4 siswa tunanetra.
Tulisan ini bertolak dari instropeksi yang penulis lakukan setelah
pembelajaran siswa pada materi tentang bilangan bulat dengan indikator melakukan
operasi hitung penjumlahan bilangan bulat dengan menggunakan garis bilangan.
Setelah para siswa belajar sesuai dengan alokasi waktu yang ada, ternyata hasil
penilaiannya kurang memuaskan. Hal ini penulis ketahui setelah mengadakan
analisis hasil ulangan. Penulis menduga bahwa penggunaan garis bilangan pada
operasi penjumlahan bilangan bulat membuat siswa jenuh dan pembelajaran kurang
menarik. Dari intropeksi diatas, maka penulis menciptakan alat atau media yang diharapkan membuat siswa
lebih mudah memahami materi, aktif, kreatif, afektif dan menyenangkan yaitu
modifikasi permainan dakon dan cara penggunaannya untuk meningkatkan kecepatan
menghitung dalam operasi penjumlahan bilangan bulat pada anak tunanetra kelas
IV.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penelitian tindakan kelas dan
modifikasi permainan dakon dapat meningkatkan kecepatan menghitung dalam
operasi penjumlahan bilangan bulat, serta dapat meningkatkan hasil pembelajaran
(Mencapai hasil belajar tuntas).
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Matematika
merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis
dan kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika
bersifat kuat dan jelas. Tanpa
konsep A tidak mungkin akan memahami konsep B.
Salah satu materi pokok mata pelajaran matematika kelas 4 pada Kurikulum 2004 yaitu operasi hitung bilangan bulat.
Salah satu indikatornya yaitu melakukan operasi hitung penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan garis bilangan. Indikator
tersebut sebelumnya tidak dipelajari di kelas 3. Jadi merupakan materi baru.
Sudah
barang tentu sebagai materi baru maka guru harus berusaha agar para siswa
benar-benar memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan
bulat dengan menggunakan garis bilangan tersebut.
Alokasi
waktu untuk operasi hitung penjumlahan bilangan bulat dengan menggunakan garis
bilangan yaitu 1 kali pertemuan selama 3 jam pelajaran (@ 40 menit). Sedangkan
untuk operasi hitung pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan garis
bilangan juga 1 kali pertemuan selama 3 jam pelajaran (@ 40 menit).
Setelah
para siswa belajar operasi hitung penjumlahan bilangan bulat dengan menggunakan
garis bilangan sesuai alokasi waktu yang ada, ternyata hasil penilaiannya
kurang memuaskan. Hal ini penulis ketahui setelah mengadakan analisis hasil
ulangan. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa rata-rata nilai
pengamatan yaitu 6,7 (kategori cukup) dan rata-rata nilai ulangan harian 5,1.
Dan hasil
tersebut rnaka penulis harus mengulang atau melakukan perbaikan proses
pembelajaran materi operasi hitung penjumlahan bilangan bulat tersebut.
Sehingga penulis tidak melanjutkan indikator berikutnya yaitu operasi hitung
pengurangan bilangan bulat
Instrospeksi
yang penulis lakukan, penulis menduga bahwa penggunaan garis bilangan pada
operasi penjumlahan bilangan bulat membuat siswa menjadi jenuh. Setiap kali
menyelesaikan soal siswa harus membuat garis bilangan. Jika siswa diberi
sepuluh nomor soal penjumlahan bilangan bulat, maka siswa harus membuat sepuluh
garis bilangan. Hal ini membuat siswa bosan dan cepat lelah. Akhirnya menjadi
kurang konsentrasi dalam belajar.
Dan
introspeksi di atas, maka penulis perlu menciptakan alat atau metode lain yang
membuat siswa lebih memahami materi, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penulis membuat sebuah alat peraga beserta
cara penggunaannya untuk memahamj konsep operasi hitung penjumlahan bilangan
bulat yaitu alat permainan dakon.
Harapan
penulis, alat peraga permainan dakon tersebut dapat membantu dan mempermudah
siswa dalam memahami konsep penjumlahan bilangan bulat dan menyelesaikan
operasi hitung penjumlahan bilangan bulat sekaligus menyenangkan siswa karena
mengandung unsur permainan. Penulis memandang bahwa alat permainan tersebut
menarik, penting, dan perlu dilakukan oleh guru karena dapat menarik minat
siswa dalam belajar tentang operasi penjumlahan bilangan bulat.
B.
Rumusan Masalah
Berkaitan
dengan permasalahan yang ingin dipecahkan. Maka dalam bagian ini diketengahkan
rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimanakah
penggunaan modifikasi permainan dakon untuk meningkatkan kecepatan menghitung dalam operasi
penjumlahan bilangan bulat pada Anak Tunanetra kelas IV di SLBN Gedangan
Sidoarjo?”
C.
Pemecahan Masalah
Keterbatasan
anak tunanetra dalam mengerjakan penjumlahan bilangan bulat dalam
mengoptimalkan penggunaan media dakon dalam kegiatan pembelajaran di kelas,
dengan penggunaan permainan dakon dalam pembelajaran ini siswa akan tumbuh
minat belajar matematika khususnya pada penjumlahan bilangan bulat sehingga
meningkat hasil belajarnya.
D.
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan kecepatan menghitung dalam
operasi penjumlahan bilangan bulat dengan menerapkan permainan dakon pada
anak-anak tunanetra.
E.
Manfaat
Manfaat
yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain :
1. Bagi siswa, untuk perbaikan dalam
meningkatkan hasil pembelajaran mata pelajaran matematika.
2. Bagi guru, agar lebih kreatif dalam
mengembangkan pembelajaran mata pelajaran matematika.
3. Bagi sekolah/ lembaga, untuk meningkatkan
mutu kegiatan belajar di sekolah tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Achmad DS. 1996. Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar
Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Amin Suyitno. 2001. Dasar-Dasar Pembelajaran Matematika.
Semarang : FMIPA IKIP.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian
di Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1996. Pedoman Pelaksanaan
Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta : Depdikbud.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan 1996. Petunjuk Pelaksanaan
Proses Belajar Mengajar Kelas IV Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Departemen Pendidikan
Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Kerangka
Dasar. Jakarta : Depdiknas.
Depdikbud, 1994, Petunjuk Praktis Pelaksanaan Pendidikan Luar
Biasa, Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2001. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Surabaya, Depdiknas Jatim.
Depdiknas, 2002. Pelayanan
Pendidikan AnakBerkebutuhan Khusus, Jakarta ;
Direktur Jendral Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Depdiknas, 2004. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta,
Depdiknas.
Sukayati. 2003. Media Pembelajaran Matematika SD (Materi
Pelatihan Instruktur Matematika SD). PPPG Matematika.
Purwadarminto. Wgs. 1995. Kamus
Umum Bahasa Indonesia .
Jakarta . Balai
Pustaka.
H.T. Sutjihati Sumantri. 1996. Psikologi
Pendidikan Luar Biasa. Jakarta
: Depdiknas Dirjen Dikti PATG.
Untuk mendapatkan file
lengkap (Ms.Word/pdf)
hubungi : 0857
2891 6006
PENINGKATAN
KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS D I DI SDLBN SAMBIROTO, PADAS, NGAWI PENELITIAN TINDAKAN KELAS
ABSTRAK
Pelajaran Matematika sangat penting bagi anak tunagrahita meskipun
terbatas pada bilangan tertetnu. Dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya
mata pelajaran matematika diperlukan pelayanan khusus sesuai dengan kondisi
anak tunagrahita. Oleh karena itu untuk membantu kelancaran belajar matematika
sangat diperlukan penunjang media atau alat bantu untuk memberikan pengalaman
yang berarti dan membentuk pemahaman anak. Berdasarkan hasil observasi di SDLBN
Sambiroto untuk materi pokok mengenal lambang bilangan 1 sampai 20 hasil
belajar untuk kelas DI/C kurang memuaskan termasuk siswa tunagrahita yaitu rata-rata
kurang dari 6.Mencermati hasil observasi di lapangan dan teori meia
pembelajaran khususnya mengenal lambang bilangan maka dilakukan penelitian
tindakan kelas untuk meningkatkan perolehan belajar siswa.
Penelitian ini bertujuan :
1.
Untuk
mendeskripsikan tingkat hasil perolehan belajar tentang pengenalan lambang
bilangan melalui permainan kartu bilangan pada siswa tunagrahita.
2.
Untuk
mendeskripsikan tingkat kemampuan mengenal lambang bilangan melalui permainan
kartu bilangan pada siswa tunagrahita.
Subyek penelitian
ini adalah siswa DI/C SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi. Rancangan penelitian
menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga kali
pertemuan untuk siklus 1, 1 kali pertemuan untuk siklus 2, dengan waktu 70menit
setiap kali pertemaun. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara,
observasi dan tes. Perangkat pembelajaran terdiri dari rencana persiapan
pembelajaran dan LKS berorientasi permainan kartu bilangan. Sedangkan instrumen
penelitiannya adalah lembar observasi pengenalan lambang bilangan dan soal tes
data yang diperoleh dianalisis secara diskriptif kualitatif dan diskriptif
kuantitatif.
Hasil penelitian
menunjukkan baha hasil belajar siswa mengalami peningkatan 50% pada siklus
1 pertemuan 1, 605 pada siklus
1pertemuan 2, 70% pada siklus 1 pertemaun3, dan 80% pada siklus 2.
Kata kunci : Mengenal
Lambang Bilangan, Permainan Kartu Bilangan Anak Tunagrahita.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Matematika
merupakan suatu bahan kajian yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi bagi
siswa tunagrahita apabila diajarkan dengan ceramah akan menjadi materi abstrak
(tidak nyata). Salah satu cara untuk mengatasi problem terhadap pembelajaran
adalah diperlukan pengalaman menggunakan benda-benda kongkrit. Sedangkan untuk
menjembatani keabstrakan atau prinsip dan konsep matematika, maka diperlukan
media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa tunagrahita.
Anak
tunagrahita dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya mata pelajaran
matematika diperlukan pelayanan khusus
sesuai dengan kondisi tunagrahita. Oleh karena itu untuk membantu
kelancaran belajar matematika sangat diperlukan penunjang media atau alat untuk
memberikan pengalaman yang berarti dan membentuk pemahaman anak. Pujiati (2003:
2) menyatakan bahwa media alat peraga akan dapat berfungsi dengan baik apabila
dapat memberikan pengalaman yang bermakna, mengaktifkan dan menyenangkan siswa.
Salah satu media yang sesuai dengan kondisi anak tunagrahita sehingga dapat
diangkat dalam penelitian ini, yaitu kartu bilangan.
Berdasarkan
hasil observasi di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi untuk materi pokok mengenal
lambang bilangan 1 sampai 20. Hasil belajar pelajaran matematika untuk kelas
Dasar I C kurang memuaskan termasuk siswa tunagrahita, yaitu rata-rata kurang
dari 6 (dari nilai raport semester 1 tahun 2007/2008). Pembelajaran materi
pengenalan lambang bilangan menggunakan media lidi, biji-bijian, tulisan
bilangan pada papan tulis dan tabel bilangan hasil observasi menunjukkan
penilaian materi bilangan lambang bilangan rata-rata kurang dari 6. Anak
seringkali melakukan kesalahn konsep yaitu terbalik di dalam menyatakan lambang
bilangan 12 terdiri dari 2 dan 1 (2 sebelah kiri, 1 sebelah kanan), lambang
bilangan 13 terdiri dari 3 dan 1 ( 3 sebelah kiri, 1 sebelah kanan). Selama
observasi di lapangan kondisi anak dalam proses belajar mengajar menunjukkan
mudah lupa dengan materi pelajaran yang diterimanya, memerlukan waktu yang lama
karena adanya pengulangan-pengulangan dan mudah jenuh. Demikian juga hasil
pengajaran matematika dengan menggunakan metode caramah, tanggung jawab,
demontrasi menunjukkan rata-rata nilai kurang dari 6. Pemberian tugas untuk
pekerjaan rumah materi pengenalan lambang bilangan juga menunjukkan hasil
rata-rata kurang dari 6. Berarti penguasaan lambang bilangan pada siswa
tunagrahita kelas 1 masih rendah. Untuk mengatasi kondisi ini dapat dilakukan
dengan menggunakan benda kongkrit dalam bentuk kartu bilangan. Sukayati (2004 :
9) menjelaskan bahwa media kartu bilangan digunakan untuk pengenalan lambang
bilangan pada kegiatan penanaman konsep dan pemahaman konsep. Bentuk permainan
kartu bilangan ini tidak jauh berbeda dengan permainan kartu domino yang
ditemui pada kehidupan sehari-hari. Perbedaanya terletak pada kartu-kartunya
dan aturan permainannya. Keunggulan permainan kartu bilangan menurut hasil
temuan Pujiti (2003: 19) yaitu melatih keterampilan siswa dalam memahami suatu
pokok bahasan tertentu dalam pelajaran matematika, melatih pemain dalam
memasangkan antara bilangan dan gambar yang sesuai dengan bilangan. Bilangan
tersebut dan sebaliknya. Tarjono (2003 : 2) menjelaskan bahwa keunggulan kartu
bilangan yaitu meruapakan alat bantu paling penting untuk berlatih dan
memperkuat kemampuan mengenal bilangan, meningkatkan kemampuan menyebut sambil
mengenmbangkan kemampuan mengenal bilangan.
Mencermati
hasil observasi di lapangan dan teori media pembelajaran khususnya mengenai
pengenalan lambang bilangan maka dilakukan penelitian tindakan kelas untuk
meningkatkan perolehan hasil belajar siswa.
B.
Rumusan Masalah
Sesuai
dengan latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
- Bagaimana peningkatan hasil balajar tentang pengenalan
lambang bilangan melalui permainan kartu bilangan pada siswa tunagrahita
kelas Dasar IC SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi ?
- Bagaimana peningkatan kemampuan mengenal lambang bilangan
melalui permainan kartu bilangan pada siswa tungrahita kelas Dasar IC di
SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi ?
C.
Alternatif Pemecahan Masalah
- Identifikasi Alternatif Tindakan
Permasalan
pembelajaran matematika di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi khususnya yang
berkaitan dengan kamampuan siswa mengenal lambang bilangan dapat dioptimalkan
dengan permainan kartu bilangan. Pada
permainan ini setiap kartu mempunyai 2 bagian yaitu bagian gambar dan bagian
bilangan. Model permainan ini diduga sangat cocok dengan permasalahan
matematika yang ingin dipecahkan. Melalui permainan kartu bilangan. Siswa
dimungkinkan dapat memasangkan antara kartu bilangan. Selama kegiatan permainan
ini, anak sering menyatakan lambang
bilangan sesuai dengan jumlah gambar.
- Cara
Pemecahan Masalah
Pemecahan
masalah menggunakan model Kemmis dan Targat (Aqib, 2006: 22) dengan perencanaan
yang meliputi langkah tindakan pertama, kedua, ketiga dan keempat.
Langkah
tindakan pertama adalah menghimpun data dari sekolah dan melakukan pendekatan
pada siswa. Langkah tindakana kedua adalah menyusun instrument bagi siswa guna
meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan. Sedangkan langkah tindakan
ketiga adalah melakukan kolaborasi dengan guru kelas untuk mengimplementasikan
instrument yang sudah didesain dengan menggunakan media permainan untuk
meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan.
Tindakan
pembelajaran siklus pertama direncanakan tiga kali pertemuan. Kegiatan
pertemuan pertama adalah permainan kartu bilangan, observasi, perbaikan dan
evaluasi/ refleksi. Kegiatan pertemuan kedua adalah permainan kartu bilangan 1
- 10, observasi, perbaikan dan evaluasii/ refleksi. Sedangkan kegiatan
pertemuan ketiga adalah permainan kartu
bilangan 1-15, observasi, perbaikan lalu dilakukan evaluasi/ refleksi. Dari
hasil evaluasi kalau belum sesuai dengan tingkat keberhasilan yang mengacu
indikator keberhasilan yang ditetapkan maka masuk disiklus 2, apabila hasil
juga belum cukup maka dimasukkan dalam siklus berikutnya sampai diperoleh hasil
indikator keberhasilan.
- Indikator
Keberhasilan
Indikator
keberhasilan tindakan, dapat ditemukan adanya perubahan pada siswa dalam hal :
(1) Siswa 80% dapat memasangkan antara kartu bilangan (2) siswa 80% benar dalam
menyatakan lambang bilangan (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2006: 40)
D.
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan
permasalahan yang ada, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini sebagai
berikut :
- Untuk mendeskripsikan tingkat kelas hasil perolehan belajar tentang
pengenalan lambang bilangan melalui permainan kartu bilangan pada siswa
tungrahita.
- Untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan mengenal lambang bilangan melalui permainan kartu
bilangan pada siswa tunagrahita.
E.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari
penelitian tindakan kelas antara lain :
- Bagi guru : melaui PTK ini guru dapat mengetahui strategi pembelajaran
yang berviasi untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran serta
meminimalkan kesalahan siswa kelas 1 dalam menyatakan lambang bilangan
1-20.
- Bagi siswa : hasil penelitian ini bermanaat bagi siswa yang
bermasalah dalam menyatakan lambang bilangan 1-20 terutama terbolak balik
dalam konsep setelah bilangan 11.
- Bagi sekolah : hasil penelitian ini membantu pemperbaiki
pembelajaran Matematika di Sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, M. 1995. Orped Tunagrahita.
Jakarta : Depdikbud
Soemantri, S. 1996. Psikologi Belajar Anak
Luar Biasa. Jakarta : Depdikbud
Sukayati, 2004. Media Pembelajaran
Matematika Sekolah Dasar. Yogyakarta : PPPG Matematika
Sutejo. 2003. Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya:
Karya Utama
Tarjono, 2003. Pengenalam dam Pemahaman
Terhadap Bilangan. Jakart : IMB
Wojowasito, 1999.Kamus Bahasa Indonesia. Malang
: CV Pengarang.
Zahroh, Siti Fatimah. 2001. Meningkatkan
Prestasi Belajar Matematika Melalui Media Pembelajaran Kartu Remi Untuk Anak
Tunagrahita. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.
Untuk mendapatkan file
lengkap (Ms.Word/pdf)
hubungi : 0857
2891 6006
PTK PLB 002 ENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK TUNAGRAHITA
Unknown
10.18
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS
DESKRIPSI DENGAN STRATEGI PEMETAAN PANCA INDERA BAGI SISWA TUNARUNGU KELAS D
III SDLBN SAMBIROTO, PADAS, NGAWI
ABSTRAK
Menulis sangat penting bagi anak tunarungu, karena merupakan prasarat
bagi upaya belajar berbagai mata pelajaran lainnya. Siswa tunarungu kelas III B
SDLBN Sambiroto Kecamatan Padas dalam pembelajaran menulis diharapkan dapat
menulis karangan dengan topik yang sederhana dengan ejaan siswa yang merniliki
kosakata terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peningkatan Keterampilan
Menulis Deskripsi Dengan Strategi Pernetaan Panca.lndera Bagi Siswa
Tunarungu Kelas D III SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi.
Desain penelitian menggunakan "Penelitian Tindakan Kelas" dan
yang menjadi subyek atau populasi penelitian adalah siswa tunarungu kelas III B
di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi yang berjurnlah 5 anak.
Metode penelitian ini menggunakan Pendekatan Penelitian Tindakan kelas
dengan jenis deskriptif kualitatif. Dengan tenik pengumpulan data observasi,
dokumentasi dan catatan di lapangan.
Teknik analisa data adalah reduksi data penyajian data dan penyimpulan
data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan strategi pemetaan panca indera
dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa tunarungu.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pernetaan panca indera
merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk
meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa tunarungu D III SDLBN
Sambiroto, Padas, Ngawi, dengan pemetaan panca indera siswa dapat memanfaatkan
indera visual dan indera lainnya untuk mengungkapkan ide dan gagasannya.
Kata Kunci
: Manulis Deskripsi, Pernetaan Panca Indera.
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Menulis bukan hanya
menyalin, tetapi juga mengekspresikan pikiran, kehendak dan perasaan ke dalam
lambang-lambang tulis. Menulis sangat penting bagi siswa tuna rungu karena
merupakan persyaratan bagi upaya belajar berbagai mata pelajaran lainnya. Bagi
siswa tunarungu dituntut agar mampu mengungkapkan/ mengekspresikan pikiran,
kehendak dan perasaannya melalui pemahaman lambang-lambang yang inengandung
arti atau makna.
Secara konkret
tuntutan kemampuan menulis siswa tunarungu tercermin dalam KTSP (Kurikulurn
Tingkat Pendidikan) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia diambil tema kegernaran
dengan SK (Standar Dasar) menulis dengan menampilkan karangan dan puisi dan KD
(Kompetensi Dasar) menulis karangan tentang berbagai topik sederhana dengan
penggunaan ejaan yang tepat (Depdiknas, 2006 : 88). Ini berarti untuk siswa
tunarungu kelas III SDLBN Sambiroto Kec. Padas dalam pembelajaran menulis
diharapkan dapat menulis karangan dengan topik yang sederhana dengan ejaan yang
tepat atau mendeskripsikan satu topik dengan penulisan tanda baca yang tepat.
Kenyataan di
lapangan ternpat penelitian ini dilaksanakan menunjukkan bahwa dalam hal
menulis target yang dapat dicapai 60%, berkaitan dengan pembelajaran menulis,
kemampuan menulis siswa tunarungu nampak rendah. Terbukti dengan hasil analisis
karangan siswa dalam pembelajaran menulis deskripsi kosakata terbatas, kesesuaian
antara ide dan gagasan masih belum sesuai, penggunaan tanda baca kurang
dipahami, dalam mengembangkan karangan deskripsi sederhana siswa mengalami
kesulitan dalam menyusun kalimat.
Hal tersebut
disebabkan oleh berbagai faktor baik yang berasal dari siswa dan guru. Adapun
faktor yang berasal dari siswa karena kosakatanya terbatas, sulit mengungkapkan
ide dan kata yang abstrak, sehingga siswa mengalami kesulitan maupun tertulis.
Adapun faktor dari guru karena penggunaan metode clan media pembelajaran yang
kurang tepat.
Untuk mengatasi
permasalahan tersebut di atas dapat diterapkan pembelajaran menulis deskripsi
dengan pengembangan model pemetaan panca indera.
Pemetaan/
pengklutseran adalah salah satu strategi dalam membantu siswa memulai menulis.
Tompkins 1994 (dalam Purbaningrurn clan Yuliat, 2006:13) menawarkan empat
bentuk klutser yaitu : klutser cerita, klutser enam kata tanya, klutser laporan
(reportase) dan klutser panca indera. Dari keempat klutser ini dipilih klutser
panca indera karena lebih mudah clan efisien pelaksanaan pembelajaran khususnya
dalam hat menulis. Dalam teknik khitser panca indera siswa dituntut
mengumpulkan informasi melalui pernanfaatan indera, baik indera penglihatan,
pendengaran, penciurnan, peraba clan perasa/ pengecap.
Dengan teknik
klutser panca indera ini siswa tunarungu belajar mengenal, memahami,
mendefinisikan dan mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda dengan menggunakan
indera lain yang masih berfungsi selain indera pendengarannya. Sehingga siswa
memiliki pengalaman belajar tentang sesuatu benda yang dapat dilihat, dicium,
diraba, dan dirasakan, sehingga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan sesuai
dengan ide dan gagasannya.
Adapun manfaat
pengklutseran adalah untuk mengungkapkan sebanyak mungkin hubungan antara ide dalam
topik, dan fungsinya adalah lebih menyenangkan, bermakna dan bermanfaat bagi
siswa.
Berdasarkan uraian
di atas maka perlu dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul
Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi Dengan Strategi Pemetaan Panca
Indera Bagi Siswa Tunarungu Kelas D[II SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian di atas
maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : Apakah ada peningkatan keterampilan
menulis deskripsi siswa tunarungu kelas D III SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi
dengan strategi pemetaan panca indera tersebut.
C.
Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui keterampilan menulis deskripsi siswa
tunarungu kelas III di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi, sebelurn menggunakan
strategi pemetaan panca indera.
2.
Mengetahui keterampilan menulis deskripsi siswa
tunarungu kelas III di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi setelah menggunakan
strategi pemetaan panca indera.
3.
Mengetahui peningkatan keterampilan menulis deskripsi
siswa tunarungu kelas III di SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi dengan strategi
pemetaan panca indera.
D.
Hipotesis
Dalam
penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah :
"Melalui
strategi pernetaan panca indera keterampilan menulis deskripsi siswa tunarungu
kelas D III SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi".
E.
Manfaat Penulisan
1.
Siswa akan lebih mernaharni, mengenal dan
mendefinisikan dalam mendeskripsikan suatu benda dengan menggunakan indera lain
yang masih berfungsi selain indera pendengaran.
2.
Bagi guru hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
masukan untuk mernilih strategi dalam meningkatakan proses pembelajaran di
kelas.
3.
Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat
dijadikan acuan dalam membuat kebijakan tentang peningkatan kualitas sekolah.
4.
Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat dijadikan
acuan dalam melakukan penelitian yang sejenis.
F.
Penjelasan Istilah, Asumsi, Keterbatasan
1. Penjelasan
Istilah
Untuk menghindari penafsiran yang salah maka
dijelaskan istilah terkait penelitian sebagai berikut :
a.
Peningkatan keterampilan menulis deskripsi adalah
proses dan hasil belajar menulis deskripsi setelah ditetapkan strategi pemetaan
panca indera.
b.
Pemetaan panca indera
Pengklutseran/ pemetaan merupakan salah satu strategi
dalam membantu siswa tunarungu memulai menulis dengan cara lnenggali ide-ide
menulis siswa dengan tanya jawab, kemudian jawaban siswa ditata dalam dalam
bentuk klutser atau disusun dalam bentuk lingkaran dan cabang-cabang
dihubungkan dengan garis.
Dalam penelitian yang dimaksud pemetaan panca indera
adalah menernu kenali hal-hal yang diketahui dengan pengamatan panca indera
(penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan peraga) pada materi buah dan
minuman yang ada dalam materi intervensi.
c.
Siswa tunarungu
Anak tunarungu adalah anak yang mengalarni kekurang
kemampuan mendengar, sehingga menyebabkan indera visual dan indera lainnya yang
masih berfungsi dapat digunakan secara optimal untuk membantu dalam
berkomunikasi baik lisan maupun tertulis. Dalam penelitian ini anak tunarungu
adalah anak yang memiliki taraf ketunarunguan berat, berinteraksi rata-rata
clan di bawah normal clan di kelas III SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi.
2. Asumsi
Asumsi adalah anggapan dasar tentang suatu hal yang
dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian.
a.
Ketunarunguan dapat menyebabkan hambatan dalam
perkembangan bahasa bila tidak dilakukan intervensi.
b.
Pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dapat
mengeektifkan pembelajaran siswa.
3. Keterbatasan
Masalah
Agar permasalahan tidak meluas, masalah yang diteliti
mempunyai keterbatasan sebagai berikut :
a.
Subyek yang diteliti adalah siswa tunarungu kelas D III
SDLBN Sambiroto, Padas, Ngawi dengan karakteristik usia siswa 11-13 tahun clan
berintelegensi normal.
b.
Penelitian terfokus pada keterampilan menulis deskripsi
buah clan minuman.
c.
Strategi dalam penelitian menggunakan pemetaan, panca
indera dengan tahap aktivitas pra menulis, aktivitas saat menulis, aktivitas
pasca menulis.
d.
Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus
terdiri dari empat kali perternuan, tiap pertemuan 75 menit.
e.
Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman,
Mulyono. 2003.
Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta Rineka cipta.
Anggoro, Toha. 2007.
Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka.
Aqib, Zainal. 2006.
Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung : Irarna Widya.
Arikunto,
Suharsimi. 2003.
Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Bunawan, Lani dan
Cecilia Sy. 2000.
Penguasaan Bahasa Anak 2'unarungu. Jakarta: Yayasan Santi Rarna.
De Porter, Bobbi
dan Miki Hernareki. 2002. Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan
Menyenangkan. Terjemahan oleh alwiyah Abdurrahman. Bandung : Kaifa.
Depdiknas. 2006.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta : BNSP.
Depdiknas. 2006.
Keterampilan Kompensatoris Bagi Anak Dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
danF Gangguan Pendengaran (Tunarungu). Jakarta Direktor Pernbinaan
Sekolah Luar Biasa.
Moleong. 2005.
Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nurhayati. 1992.
Pengantar Orthopaedagogh, SGPLB. Surabaya.
Purbaningrum,
Endang dan Yuliati. 2006. Pengaruh Pembelajaran Menulis Proses Terhadap
Perfomansi Menulis Siswa Tunarungu. Surabaya.
Purwanto Ngalim. 2008.
Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosda Karya. Salim Mufti. 1984.
OrtopedagogikAnak Tunarungu. Jakarta : Depdikbud.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor- Faktor yang mempengaruhi. Jakarta:
Rineka Cipta
Untuk mendapatkan file
lengkap (Ms.Word/pdf)
hubungi : 0857
2891 6006
PTK PLB 01 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI DENGAN STRATEGI PEMETAAN PANCA INDERA BAGI SISWA TUNARUNGU
Unknown
10.16
Peraturan dan Cara Pemesanan
1. Download judul – judul Skripsi/PTK/Thesis yang telah tersedia
pada blog ini. Atau hubungi contact person dibawah.
2. Setelah Anda mendapatkan judul yang sesuai, konfirmasikan kode /
judul yang anda pilih melalui telp/sms.
3. Sistem pembayaran melalui transfer via Bank BRI atau BNI (No.
Rekening akan dikonfirmasi via sms)
4. Sistem pengiriman Skripsi/PTK/PTS/Thesis berupa softcopy, baik
melalui e-mail atau dikirim berupa CD dengan menggunakan jasa ekspedisi.
5.
Pengiriman file dalam bentuk CD akan dikenakan ongkos kirim
sesuai tarif yang berlaku, tergantung pada jarak dan jenis jasa
ekspedisi/pengiriman (contoh: TIKI-JNE, kantor pos)
6.
File di kirim setelah transfer diterima
7.
Untuk informasi harga dan lain-lain, bisa konfirmasi via
sms/telp.
Jasa Pintar
Cerdas Praktis
Call / SMS : 0857 2891 6006
KAMI MEMBANTU DALAM
PENYUSUNAN TUGAS-TUGAS ANDA,
KAMI MENYEDIAKAN REFERENSI
DAN KAMI SANGAT TIDAK
MENDUKUNG PLAGIATISME.
TERIMA KASIH
Peraturan dan Cara Pemesanan
Unknown
02.24